Opini

Menanti Kiprah PCINU Mesir Pasca-Konfercab

Oleh: Muhammad Reza Pahlevi Mufarid

Pada bulan lalu, PCINU Mesir berhasil menggelar Konferensi Cabang XII. Adanya kegiatan ini menandai pergantian estafet kepengurusan, baik jajaran syuriah maupun tanfidziah dari pengurus yang lama ke baru. Momen ini, selain sebagai momen transisi kepengurusan, biasanya digunakan untuk menentukan haluan PCINU Mesir selama satu periode ke depan. Hal ini dilakukan untuk menjaga eksistensi dan ritme pergerakan organisasi tersebut dalam menyebarkan pemikiran Ahlusunah wal Jamaah, baik melalui dakwah islami, kajian ilmiah, kebudayaan maupun keilmuan. Tersebab, setiap organisasi pasti menginginkan sebuah kemajuan dan pembaharuan dalam mencapai tujuannya. Oleh karena itu, gagasan dan ide-ide kreatif tidak boleh mandek dalam angan-angan saja.

Salah satu langkah implementasi dari ide-ide kreatif tersebut adalah konsep yang diusung Konfercab XII. Dalam menentukan haluan dan misi PCINU Mesir ke depan, Konfercab tahun ini mengusung dan menerapkan sistem mandataris. Artinya, hasil konferensi tersebut akan menjadi amanat penting untuk kerja-kerja pengurus selanjutnya. Sehingga, mereka tidak membawa visi-misi personal. Maka tidak heran, jika penyerapan ide, gagasan dan rangkaian acaranya, baik secara organisasi maupun program kerja melibatkan banyak pihak, mulai dari lingkup internal hingga eksternal. Sebagai organisasi masyarakat, wajar jika kemudian gerak dan aktivitas PCINU Mesir perlu dikawal secara bersama-sama.

Selain sebagai amanat primer, sistem tersebut akan menjadi tantangan baru bagi PCINU Mesir. Mandat Konfercab menjadi “kitab suci” yang berfungsi sebagai pedoman PCINU Mesir dalam melangkah. Setiap program kerja dan model organisasi yang telah dirumuskan serta diuji bersama harus benar-benar dilaksanakan oleh pengurus struktural—yang akan diisi oleh kader-kader senior PCINU Mesir. Pengimplementasian ini, baiknya didasarkan pada kesadaran yang kuat, sehingga setiap poin mandataris tersebut dapat dieksekusi dengan matang, baik dari dalam—secara administrasi—maupun dari luar –secara afiliasi.

Jika menilik hasil jajak pendapat yang telah dilakukan oleh Lembaga Research Center (LRC) PCINU Mesir, angka kepuasan warga Nahdiyin menunjukkan nilai yang tinggi terhadap kepengurusan PCINU Mesir 2021-2023. Ironinya, data responden memperlihatkan angka yang sangat rendah. Dari total 2618 warga Nahdiyin Mesir yang terdaftar, hanya 97 orang yang bersedia mengisi kuesioner. Hal ini bisa dijadikan indikasi, bahwa respon warga Nahdiyin Mesir terhadap sisi administratif kurang antusias. Nilai kepuasan pada sektor administrasi juga terbilang paling rendah, hanya sekitar 69%. Sedangkan angka ini berbeda dengan sektor-sektor lainnya yang mayoritas di atas 70%. Tentu, hasil tersebut bisa menjadi salah satu tantangan baru dan poin yang perlu diperhatikan oleh pengurus periode selanjutnya. Mengingat kekuatan organisasi juga dipengaruhi oleh sisi-sisi internal, seperti administrasi. Adanya tantangan ini juga diamini oleh pengurus sebelumnya dalam lembar Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PCINU Mesir 2021-2023.

Tidak hanya sisi administrasi, menumbuhkan kesadaran dan keberdayaan kader tentu juga menjadi poin penting penting dalam mewujudkan transformasi PCINU Mesir. Kita tahu, bahwa budaya khidmah di kalangan Nahdiyin—termasuk Nahdiyin Mesir—cukup kental. Keadaan ini menjadikannya titik tolak untuk mengabdi kepada NU dan ulama-ulamanya. Tidak bisa dimungkiri, meskipun mengabdi di NU tidak harus menjadi pengurus, tetapi berpartisipasi dan berkecimpung di dalamnya dapat memberikan pengaruh yang lebih besar. Tersebab, dengannya, warga Nahdiyin Mesir memiliki wewenang untuk memegang kendali di tubuh PCINU Mesir. Berkhidmah secara struktural, berarti turut serta menjaga eksistensi PCINU Mesir secara langsung. Dengan demikian, mereka termasuk dari golongan yang didoakan oleh KH. Hasyim Asy’ari, “Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku, saya doakan husnulkhatimah”.

Secara logis, hadiah ini—husnulkhatimah—tidak akan diperoleh jika hanya didasarkan pada pengabdian dan tindakan yang biasa-biasa saja. Mengurus berarti menjalankan setiap sistem organisasi dengan baik dan bertanggung jawab secara sadar, serta mengusahakan pembenahan dan kemajuannya di berbagai sektor. Untuk mendapatkan sesuatu yang besar, tentu memerlukan kinerja dan usaha yang luar biasa, bukan? Maka dari itu, transformasi menuju peradaban dan babak baru memerlukan tindakan yang nyata dan relevan.

Di abad kedua NU dan babak baru bagi PCINU Mesir ini, mereka dituntut berada pada tingkatan khidmah yang lebih tinggi. Kata khidmah tidak bisa lagi diartikan sebagai pengabdian, pelayanan atau sejenisnya. Tetapi ia harus dipahami sebagai bentuk perjuangan, pembaharuan, pembangunan dan kebermanfaatan melalui kesadaran individu dari warga Nahdiyin Mesir, terutama pengurus struktural. Sebagaimana ajakan KH. Miftachul Akhyar, pada Puncak Resepsi 1 Abad NU, bahwa warga Nahdiyin harus memiliki mental dan prinsip yang ditanam kuat di dalam dirinya. Menurut beliau, kekuatan ini merupakan sebuah bekal khidmah untuk mengarungi abad kedua Nahdlatul Ulama. Dua bekal tersebut tentu sangat berpengaruh dalam mewujudkan cita-cita abad kedua dan babak baru PCINU Mesir.

Adanya tantangan dan peradaban baru yang tidak bisa dihindari, mengharuskan kader-kader PCINU—terutama pengurus—untuk memiliki sikap tersebut. Hal ini tidak hanya berlaku pada sisi keyakinan akidah dan nilai-nilai Islam yang dipegang, tetapi juga pada sisi-sisi kehidupan bermasyarakat, khususnya lingkungan di Mesir. Dengan mental yang demikian, PCINU Mesir akan memiliki kemandirian, daya saing dan kualitas kader serta keberadaanya yang akan dipertimbangkan oleh berbagai pihak, utamanya al-Azhar, sebagai lembaga besar yang memiliki prinsip dan keyakinan serupa dengan PCINU Mesir.

Kondisi yang sedemikian rupa, seyogianya tidak semerta menjadi bahan evaluasi di tubuh PCINU Mesir, tetapi juga sebagai refleksi para kadernya untuk menghadapi tantangan dunia ke depan. Pergeseran dan perubahan kehidupan mulai dari sisi interaksi sosial, kebudayaan, teknologi dan lingkungan yang begitu cepat serta tidak dapat dielakkan menuntut adanya ide-ide kreatif di semua sektor lembaga. Tanpa sikap tersebut, semangat tranformasi yang telah dicanangkan pada Konfercab XII akan hilang dan redup. Lebih dari itu, peran PCINU Mesir dalam mengejawantahkan cita-cita PBNU di abad kedua ini akan sulit muncul di permukaan.

Kepengurusan PCINU setelah Konfercab XII yang dimandatkan oleh warga Nahdiyin diharapkan bisa menjaga semangat tersebut. Secara fakta, beberapa sesepuh yang sudah memiliki pengalaman dan mengetahui aktivitas gerak PCINU Mesir dari awal akan mampu, bahkan lebih mudah menyelesaikan berbagai tantangan dan merealisasikan cita-cita tersebut. Dengan kembali membuka kesempatan para senior untuk mengurus dan berkhidmah, PCINU Mesir akan mudah membangun hubungan dengan berbagai pihak, baik dalam sisi kelembagaan maupun pemerintahan. Harapan yang lain, gagasan, pikiran serta ide-ide kreatif dalam membangun organisasi ini harus terus dilakukan dan didorong. Sebab tranformasi ke arah yang lebih baik—dalam hal ini PCINU Mesir—tidak akan terbuka dan tercapai tanpa adanya kreativitas dalam berpikir serta dukungan dari pihak lain.

Berdasarkan pemaparan di atas, tantangan yang diemban oleh pengurus PCINU Mesir 2023-2025 cukup berat. Selain memikul amanat mandat Konfercab XII, PCINU Mesir juga membawa dan berusaha mewujudkan cita-cita NU pada abad kedua ini. Mari kita bersama-sama mengawal pergerakan dan transformasi wajah PCINU Mesir menuju dimensi selanjutnya. Tabik!

 

Back to top button