Warta

Bagaimana Status ‘Pelajar’ Pada Keanggotaan PPMI?

Kairo- Pada Kamis 13/07/2023, MPA-BPA PPMI Mesir sukses menggelar Kongres PPMI Mesir 2023. Bertempat di Solah asy-Syaikh Kamil, Hay Sadis, acara bertemakan “Membangun integritas dengan sinergitas, wujudkan PPMI Mesir beridentitas” ini dihadiri oleh para anggota fraksi beserta para tamu undangan yang terdiri dari para eks pengurus PPMI, aktivis organisasi, dan mahasiswa S2/S3. Adapun tujuan utama Kongres ini yakni memperbaiki serta memperbaharui aturan-aturan yang dianggap usang maupun tidak relevan.

Hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh Muhammaad Ilham Fajri selaku Ketua MPA PPMI yang dalam sambutannya menganalogikan PPMI Mesir seperti kereta, dan AD/ART beserta GBHO adalah relnya. “Jikalau kereta itu berjalan tapi relnya masih putus-putus maka tidak akan pernah sampai. Sampai pun tidak akan pernah baik-baik saja. Maka PPMI Mesir adalah kereta itu, dan kongres ini tujuannya untuk memperbaiki rel-rel itu atau memperbarui rel-rel itu tadi,” jelasnya.

Kongres ini berjalan dengan lancar, meskipun Dewan Pengurus PPMI Mesir yang merupakan badan eksekutif berhalangan hadir. Para peserta terlihat begitu antusias dalam memberikan pendapat, saran, serta mengajukan pertanyaan terkait hal-hal yang masih terasa mengganjal. Satu dari bentuk keantusiasan tersebut datang dari  Ferry Ramadhansyah Lc., MA, selaku salah satu peserta peninjau. Beliau menyoal perihal diksi ‘pelajar’ pada akronim ‘PPMI’ (Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia) yang secara harfiah lebih erat kaitannya dengan pelajar ma’had, alih-alih mahasiswa.

Defri Cahyo yang bertindak sebagai Pimpinan sidang II sekaligus tergabung dalam tim ad hoc amandemen AD/ART mencoba menanggapi persoalan tersebut. Menurut tim ad hoc, diksi ‘pelajar’ memang lebih identik dengan para pelajar Indonesia di ma’had Al-Azhar, sementara diksi ‘mahasiswa’ menjelaskan para pelajar Indonesia di Universitas al-Azhar maupun universitas lain di Mesir. Adapun hal yang menjadi persoalan ialah para pelajar ma’had belum pernah terdaftar secara administratif sebagai anggota resmi PPMI Mesir, sehingga persoalan diksi pelajar pada akronim PPMI menjadi hal yang diperdebatkan saat ini. Meskipun begitu, tim ad hoc tetap sepakat untuk tidak menghilangkan diksi ‘pelajar’, sebab para pelajar ma’had masih dan akan selalu diberi ruang untuk mendaftarkan diri menjadi anggota PPMI Mesir.

Ferry kemudian memberi umpan balik berupa penegasan bahwa PPMI bertanggung jawab untuk menaungi seluruh pelajar dan mahasiswa yang saat ini kurang lebih berjumlah 15.000 orang. Terlebih, PPMI harus memberikan tanggung jawab moril bagi para pelajar ma’had yang kerap kali mendapat berbagai masalah. Beliau juga menyarankan agar kata pelajar dan mahasiswa dileburkan menjadi pelajar saja. Tersebab, menurut Ferry yang berkaca dari penamaan organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia, diksi “mahasiswa” telah terhimpun dalam kata “pelajar” sehingga tidak terlalu berdampak pada penamaan organisasi Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia.

Peserta peninjau lainnya juga turut menanyakan ketidakhadiran perwakilan dari teman-teman pelajar ma’had agar aspirasi mereka dapat didengarkan secara seksama. Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh salah satu peserta yang menjelaskan bahwa alasan di balik ketidakhadiran mereka ialah tidak adanya undangan, karena status mereka yang belum jelas. Bahkan organisasi milik mereka seperti HPIM (Himpunan Pelajar Indonesia Ma’had) pun belum resmi menjadi Lembaga Otonom (LO) maupun Organisasi Khusus (OK) yang berada di bawah naungan PPMI, sehingga belum memiliki perwakilan di MPA-BPA.

Adapun solusi yang diberikan MPA-BPA mengenai persoalan ini ialah dengan mempertegas syarat pendaftaraan keanggotaan PPMI menjadi pembayaran iuran sebesar $25. Aturan mengenai hal ini ditambahkan pada ART PPMI Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 Poin G. Oleh karena itu, para pelajar ma’had yang ingin menjadi anggota resmi PPMI Mesir harus memenuhi syarat ketentuan yang telah diatur pada pasal tersebut. Lain halnya dengan para mahasiswa yang telah didaftarkan oleh masing-masing mediator saat masih di Indonesia, sehingga status keanggotaan langsung mereka dapatkan sesampainya di Mesir. (Edi Lukito)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights