Islamologi

Sisi Filantropis Perayaan Muharam

Oleh: Fayyadh Muchlis Muhammad Hanafi

 

Tidak dapat dimungkiri, Indonesia merupakan negara kaya dengan tradisi, tak terkecuali dalam momen Muharam. Bulan yang menandai mulainya tahun baru Hijriah dianggap sebagai bulan yang istimewa oleh umat Islam sebab Allah SWT yang memuliakannya. Banyak yang mengungkapkan kegembiraannya dengan perayan pesta makanan dan berbagai ritual keagaaman. Namun, perayaan tersebut bukan euforia semata, melainkan memiliki nilai cinta kasih, baik dalam hubungan kepada Sang Pencipta, maupun kepada sesama manusia.

Jika dicermati, tradisi perayaan Muharam yang ada pada masyarakat Indonesia terepresentasikan dalam pelbagai bentuk dan ragam. Umumnya, masyarakat yang merayakan Muharam dapat dikategorikan menjadi dua kelompok. Kelompok pertama, berasumsi bahwa Muharam merupakan bulan berkah yang patut disyukuri sehingga dirayakan dengan suka cita. Sementara itu, kelompok kedua berasumsi bahwa Muharam merupakan bulan duka dan kesedihan sebab peristiwa terbunuhnya Sayidina Husein yang terjadi pada 10 Muharam.

Dari asumsi kelompok pertama, saya memahami perayaan suka cita yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam menyambut Muharam merupakan implementasi dari nilai-nilai Islam. Nilai tersebut tidak hanya hubungan vertikal kepada Tuhan Yang Maha Esa semata, melainkan juga hubungan horizontal kepada sesama manusia. Sebagaimana termaktub di dalam Surah al-Taubah ayat 36, pada bulan tersebut terdapat larangan untuk berbuat lalim kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain. Oleh karenanya, peperangan diharamkan pada seluruh Bulan Haram, termasuk Muharam. Pada bulan ini pula, Allah SWT melipatgandakan ganjaran bagi setiap amalan yang dikerjakan.

Rasulullah SAW juga menunjukkan kecintaannya pada bulan Muharam dengan menganjurkan untuk berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a) dan kesepuluh (asyura). Puasa yang Nabi Muhammad SAW lakukan pada 10 Muharam bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas peristiwa selamatnya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun. Selain berpuasa, beliau juga menganjurkan umatnya untuk tolong-menolong dan menyenangkan hati orang lain di bulan Muharam. Hal ini terdapat dalam Hadits yang diriwayatkan Tabrani dan Hakim, Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkannya di keseluruhan tahun itu”.

Jika kita perhatikan, bentuk perilaku tolong-menolong dan menyenangkan hati orang lain tercermin dalam tradisi perayaan Muharam di Indonesia. Di daerah Jawa Barat misalnya, masyarakat setempat melakukan slametan atau sedekah dengan membuat bubur sura atau bubur slabrak (bubur tepung beras dengan santan) untuk dibagikan ke tetangga atau kerabat terdekat. Begitu pula dengan yang ada di Sumenep, Madura, tradisi muharaman diwarnai dengan tradisi membuat bubur sora (bubur yang terbuat dari beras dan kuah ketan) kemudian dibagikan ke masyarakat.

Perayaan Muharam di Indonesia tidak hanya sebatas makan-makan saja, akan tetapi juga diisi dengan kegiatan yang positif. Di daerah Ponorogo, terdapat acara Grebeg Suro yang menampilkan seni dan tradisi seperti penampilan Reog Ponorogo. Di beberapa daerah lainnya, Muharam diisi dengan pawai obor keliling desa disertai lantunan selawat. Sementara Jakarta, masyarakat banyak mengikuti MABIT (Malam Bina Iman dan Takwa) guna mendekatkan diri kepada Allah. Beberapa contoh di atas merupakan representasi dari nilai-nilai yang diajarkan Islam, yaitu berbuat baik kepada sesama dan memperbanyak mengingat Allah.

Adapun anggapan kelompok kedua yang melihat Muharam sebagai bulan duka dan kesedihan berakar dari penghormatan mereka terhadap cucu Rasulullah SAW, Sayidina Husein yang gugur di Karbala. Peristiwa kelam tersebut mendasari anggapan masyarakat bahwa bulan Muharam merupakan bulan duka. Sehingga, ada pantangan bagi masyarakat untuk tidak menikah di bulan suro, tidak bepergian jauh jika tidak ada kebutuhan mendesak, hingga larangan untuk tidak berkata-kata kecuali perkataan yang baik.

Mengenai larangan menikah atau hajatan di bulan suro, hal tersebut pernah disinggung oleh Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar. Mengutip situs resmi Nahdlatul Ulama, KH Marzuki mengungkapkan filosofi pelarangan pesta pernikahan pada bulan suro atau Muharam, sejatinya untuk menghormati keluarga Rasulullah SAW yang berduka. “Dilarangnya menggelar pesta atau acara besar pada bulan Asyura adalah bagian dari adab kita terhadap habaib. Pada bulan itu, Ahlul Bait termasuk para habaib sedang berduka”, terangnya.

Sisi filantropis dari perayaan Muharam sangat terlihat dalam aspek sosial. Tradisi doa bersama, saling berbagi makanan satu sama lain dapat menjadi perekat hubungan sosial antar-warga. Saat mengikuti perayaan Muharam, warga yang sekadar kenal dengan warga lainnya akan menjadi lebih mengenal satu sama lain sebab dalam pengadaannya memerlukan gotong-royong dari berbagai kalangan untuk membuat hidangan dalam jumlah besar. Dampak positif yang muncul dari kegiatan ini adalah membentuk ikatan emosi sehingga menumbuhkan rasa empati masyarakat.

Suguhan makanan berupa berkat atau semacamnya yang dapat dibawa pulang oleh masyarakat pun menjadi sebuah keberkahan bagi orang yang kurang mampu. Hal ini juga dapat menjadi wadah bagi orang yang berkecukupan untuk menyedekahkan sedikit kelebihan hartanya. Gotong-royong dalam penyajiannya juga turut menjadi nilai ekonomis bagi masyarakat karena meringankan pengeluaran tenaga dan waktu. Selain itu, ramainya masyarakat yang berkumpul mendorong pendapatan para pedagang UMKM di sekitarnya.

Di samping itu, hal yang tidak luput dari momen Muharam adalah nilai dakwah di dalamnya. Dalam artian bahwa perayaan ini bukan sekadar ritual lahiriah, melainkan terisi dengan berbagai ibadah dan amalan, seperti doa akhir dan awal tahun, zikir dan selawat, serta tausiah. Momen Muharam di mana semua orang berkumpul, menjadi waktu yang tepat bagi dai dan para ulama dalam menyampaikan materi keislaman sehingga khalayak luas dapat memaknai Muharam dengan kegiatan positif serta menangkis khurafat yang berkelindan dalam pelbagai ritual keagamaan.

Semua fenomena di atas, menampilkan nilai filantropis dalam momen perayaan Muharam yang jika dihayati, ternyata sejalan dengan nilai-nilai Islam. Ritual kedaerahan yang beragam tersebut apabila diteropong dari latar belakang historisnya memang bukan dari ajaran Islam, melainkan merupakan akulturasi budaya masyarakat setempat dengan nilai-nilai cinta kasih Islam. Beberapa pantangan yang ada, pun sebenarnya bertujuan untuk memuliakan bulan ini, bukan didasari atas hal mistis seperti yang masyarakat luas yakini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek Juga
Close
Back to top button
Verified by MonsterInsights