Warta

Pameran Musawwadat: Proyek Pelacakan Warisan Ulama Nusantara Di Kairo

Selasa 26 September 2023 sampai Kamis 5 Oktober 2023 di Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK), telah terlaksana Pameran Musawwadat Ulama Nusantara untuk seluruh Mahasiswa Indonesia di Mesir (Masisir). Pameran tersebut memamerkan beberapa literatur Ulama Nusantara berbahasa pegon yang sudah bertahun-tahun tersimpan di sebagian percetakan tua di Mesir. Acara ini diselenggarakan oleh komunitas Pojok Peradaban yang berkolaborasi dengan PMIK, sebagai jalan untuk membangun kesadaran bagi para Masisir dalam menyikapi budaya literasi di masa lalu dan kini.

Selain menyajikan hasil penemuan naskah, panitia pelaksana juga menyuguhkan Seminar Tradisi Keilmuan; Sunda, Jawa, Aceh dan Melayu yang berjalan selama tiga hari di sela pameran berlangsung. “Awalnya pameran ini memberikan kesempatan besar kepada Masisir baru untuk mengenal lebih dekat tentang literatur Ulama Nusantara. Sayangnya, tujuan tersebut tidak tepat sasaran, sebab arus datangnya Masisir baru saat ini sedikit berbeda dan kurangnya penyebarluasan perihal acara Pameran Musawwadat ini.” Demikian penuturan Miftah Wibowo selaku kurator pameran dan pendiri komunitas Pojok Peradaban.

Pameran ini berlangsung dari jam 11:00-18:00 WLK. Para pengunjung ditemani beberapa tim dari Pojok Peradaban yang menjelaskan secara singkat setiap naskah yang dipamerkan. Penjelasan yang mereka sampaikan meliputi: jenis kertas, jenis tulisan pegon dari masing-masing daerah, jenis percetakan, tahun penerbitan, kategori ilmu yang ditulis, serta penjelasan tentang pengarang naskahnya baik dari segi daerah asal maupun daerah latar belakang pendidikannya.

Sebelum kita mengetahui awal mula adanya pameran ini, kita harus tahu terlebih dahulu perbedaan antara musawwadât atau prototype dan mubayyadhot. Musawwadât sendiri didefinisikan naskah yang sudah ditulis dan dikoreksi oleh penulis atau dikoreksi ulama lain, yang kemudian diberikan kepada penerbit untuk dicetak. Sedangkan mubayyadhat diartikan sebagai naskah penulis yang diberikan kepada penerbit, kemudian dikoreksi kembali oleh penerbit hingga masuk proses  percetakan.

Pameran kali ini, merupakan langkah lanjutan dari Pameran Naskah Ulama Jawi pada tahun 2021, yang memiliki titik fokus dari hasil penemuan naskah-naskah cetak dari tahun 1885-1960. Pameran ini diadakan setelah dilakukan konservasi terhadap naskah-naskah Ulama Nusantara yang fisiknya hampir tidak terselamatkan di beberapa gudang pecetakan tua. Ketika itu, yang berhasil ditemukan baru naskah cetak. Setelah dilakukan pencarian selama tiga tahun, naskah tulis tangan atas naskah cetak di atas berhasil ditemukan. Oleh karena itu, pameran ini bertujuan untuk mengumumkan hasil penemuan dari naskah tulis tangan (musawwadât) Ulama Nusantara yang berada di Mesir.

Selain menampilkan hasil penemuan naskah tulis tangan, mereka juga menyampaikan karya para Masisir di zaman dulu yang literaturnya juga berhasil ditemukan oleh tim. Isi karya mereka memiliki pengaruh dalam bidang keagamaan, ekonomi dan geopolitik. Seperti bukunya M Zein Hassan Lc., Lt. yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia Di Luar Negeri.

Miftah juga menyampaikan bahwa di sebuah katalog percetakan Musthofa Halabi, terdapat 88 naskah masih tersimpan di sana. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, jumlah naskah yang ditemukan lebih dari jumlah yang tercatat di katalog. Hal itu disebabkan percetakan tersebut, sering mencetak buku-buku dari beberapa percetakan di Nusantara, seperti; Percetakan Aceh Besar di Kutaraja Aceh, Toko Mesir di Cirebon dan Perpustakaan Al-Nabhaniyyah Kubro di Surabaya. Ini baru yang tercatat di satu percetakan tua belum di percetakan yang lain seperti; Issa Halabi, At-Tijariyah Al-Kubro, Taqaddum Ilmiah dan Al-Amira Al-Syarqiyyah.

Proses pencarian naskah-naskah ini mengalami beberapa kendala, seperti kurangnya informasi pada lokasi percetakan yang menyimpan naskah. Selain itu, minimnya akses untuk melakukan pencarian lebih dalam ke beberapa percetakan yang menyimpan naskah Ulama Nusantara menjadi masalah tersendiri. Beruntungnya, beberapa naskah yang sulit dijangkau ternyata berhasil ditemukan di percetakan Musthofa Halabi, salah satunya karya K.H. Muhammad Humaidi Soleh Tingkir Salatiga yang berjudul al-Intishar wa al-Tarjih li ad-Din as-Shahih wa ar-Radd ‘ala Mudda’i Atba’ al-Masih. Beliau merupakan salah satu pengajar Ulama Al-Azhar yang berasal dari Semarang pada masa abad ke-20.

Selain dua kendala yang sudah disampaikan sebelumnya, ternyata kendala dalam bidang pendanaan yang mahal tidak dapat dimungkiri. Namun, tantangan tersebut tidak mematahkan semangat Miftah dalam menyelamatkan 20 naskah musawwadat yang berhasil ditemukan pada bulan Agustus 2023 kemarin. Terhitung biaya operasional dan kepemilikan naskah musawwadat tersebut mencapai 30 juta rupiah.

“Jika 20 naskah tersebut tidak segera diselamatkan, maka akan tersebar di tangan para kolektor dan mencarinya untuk dikumpulkan kembali akan sulit. Akhirnya, naskah tersebut segera diambil meskipun belum ada biaya yang menangani proyek konservasi naskah ini.” Ujar Miftah.

Miftah mengadakan penggalangan dana untuk proyek besar tersebut. Selang 15 hari, dana yang terkumpul baru 500 ribu rupiah. Kemudian Miftah juga mengunggah proyek ini di sosial media X hingga dapat menarik beberapa donatur yang bisa menanggung biaya 30 juta selama proyek ini. Selain penggalangan dana, Miftah juga melelang sebagian naskah kepada beberapa kolektor dari kalangan akademisi agar arsip-arsip yang berhasil diselamatkan tidak sekadar dikoleksi saja, namun juga agar dikaji lebih dalam dan menyebar luaskan sebagaimana visi dan misi dari kawan-kawan Pojok Peradaban.

Setelah diadakannya pameran ini, seluruh naskah tersebut akan disatukan kembali di Rumah Arsip Naskah Nusantara (RANU) yang rencananya akan berlokasi di Tegal, Jawa Tengah. Harapannya, program ini terlaksana secepat mungkin dan mendapatkan atensi lebih dari lembaga-lembaga pemerintahan, sebagai usaha melestarikan warisan Nusantara.

Di samping upaya pencarian naskah-naskah Ulama Nusantara yang masih berlanjut, masih banyak tugas yang menunggu guna melestarikan warisan ini. Di antara gagasan tim Pojok Peradaban selanjutnya, yaitu membangun diplomasi lebih luas kepada komunitas pegon dan pemerintah di Indonesia. Dengan demikian, naskah-naskah yang ditemukan dapat dielaborasi secara masif dan terarah bersama para akademisi dalam negeri. Tim Pojok Peradaban juga tetap memfasilitasi Masisir untuk membaca beberapa naskah Nusantara di PMIK dan bersama-sama mengkajinya. (Rafi/Alvi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights