Islamologi

Tanah Palestina dalam Bayangan Historis Agama Samawi

Oleh: Ilman Fariz

Saat ini, mayoritas platform media sosial ramai dibanjiri oleh berita konflik Israel-Palestina. Tak mengherankan, sebab konflik militer yang terjadi di Palestina, khususnya Jalur Gaza sedang memanas selama sebulan ini. Bermula dari serangan yang digencarkan oleh Hamas terhadap pemukiman warga Israel pada Jumat 6 Oktober 2023, yang kemudian dibalas dengan serangan militer dari Israel dengan membombardir pemukiman warga Jalur Gaza. Sontak, konflik tersebut mengundang mata dunia serta menarik aksi dukungan dan protes dari seluruh penjuru dunia. Hal tersebut bahkan membuat wilayah Timur Tengah siap siaga atas kejadian mendadak di perbatasan masing-masing.

Karut-marut hubungan Israel-Palestina sebenarnya telah berlangsung lama. Bahkan sejak tujuh dekade belakangan, konflik tersebut terjadi secara masif dan belum menemukan titik terang. Hal ini tidak lepas dari sulitnya mecapai titik sepakat antara kedua belah pihak, baik itu Israel dan Palestina. Meski beberapa kali terjadi gencatan senjata, akan tetapi pada akhirnya berujung pada aksi saling serang yang mengorbankan rakyat sipil yang tak bersenjata.

Sejatinya, konflik ini telah mendapat perhatian dari lembaga lintas nasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Bahkan dalam banyak kesempatan, resolusi kemanusiaan PBB mengeluarkan keputusan rekomendasi untuk menangani konflik tersebut. Namun nihilnya, alih-alih diimplementasikan, hasil perundingan PBB justru hanya bertengger sebagai kertas keputusan yang tidak memiliki kuasa dan dampak apapun. Hasilnya, Israel sebagai pihak superior sampai saat ini masih gencar melakukan aksi militer untuk menguasai secara paksa tanah Palestina. Tak cukup melalui aksi militer, Israel juga secara sepihak memasukkan beberapa daerah Palestina ke dalam peta resmi negara Israel. Kendati secara undang-undang internasional hal ini melanggar hukum, namun tetap saja ada beberapa negara pro-Israel mendukung keputusan sepihak tersebut.

Histori Religius

Jika dianalisis secara mendalam, kita akan menemukan satu fakta bahwa latar belakang konflik tersebut tidak lepas dari histori religius yang berkelindan di sekitar tanah Palestina. Histori religius yang dimaksud ialah bahwa konflik tersebut lahir dari histori religius agama samawi; Yahudi, Nasrani dan Islam, yang sejarah panjangnya berkaitan erat dengan Palestina. Masing-masing dari ketiga agama tersebut mengklaim tanah Palestina sebagai tanah suci yang semestinya dijaga dan diduduki.

Pertama, Islam. Setidaknya dalam ideologi umat Islam, Palestina merupakan salah satu tempat suci yang harus dijaga dan diduduki, bahkan-jika perlu-mengorbankan diri demi Palestina. Umat Islam meyakini, para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW pernah menempati Palestina bahkan beberapa di antaranya menjalani kehidupan sampai wafat di tempat tersebut.

Para sahabat Nabi seperti Ubadah bin Shamit, Syadad bi Aus, Usamah bin Zayid Haritsah dan lain sebagainya, serta para Tabiin pernah mendiami Palestina dan ikut serta dalam memakmurkan kehidupan di sana. Tak terhenti di situ, pada fakta historinya, terhitung sejak masa khalifah Umar bin Khattab, Palestina berada dalam kekuasaan umat Islam sampai pada awal abad 20. Meskipun di masa perang Salib berkobar, Palestina sempat menjadi rebutan antara kaum Nasrani dan Islam.

Kedekatan Palestina dengan ideologi umat Islam semakin diperkuat dengan fakta perjalanan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Masjid al-Aqsha yang berada di Palestina merupakan tempat suci yang menjadi persinggahan Nabi SAW sebelum menghadap Allah SWT di Sidrat al-Muntaha. Peristiwa tersebut kemudian menjadi salah satu latar belakang kuat yang melahirkan persepsi dalam tubuh umat Islam, sehingga terus menerus akan menjaga kesucian masjid al-Aqsha, bahkan rela mengorbankan diri demi menjaga tempat suci tersebut.

Peristiwa Isra’ Mi’raj sendiri terekam dalam ayat suci al-Quran, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” .(QS Al-Israa: 1).

Kedua, Yahudi. umat Yahudi meyakini Palestina merupakan tanah yang dijanjikan (promised land) sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci mereka. Dikutip dari kitab perjanjian lama, “Pada hari itu Tuhan mengadakan perjanjian dengan Abram serta berfirman, ‘kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini mulai dari Sungai Mesir sampai ke Sungai Eufrat.” (Genesis 15:18). Tafsir yang lahir dari ayat tersebut ialah persepsi yang meyakini bahwa hanya bangsa Yahudi lah yang berhak atas tanah Palestina. Konsekuensinya, umat Yahudi dari seluruh penjuru dunia hijrah dan menetap di Palestina. Bahkan ketika gerakan Zionis sudah memiliki kuasa, umat Yahudi berani mengusir penduduk asli Palestina serta melakukan tindakan biadab dengan melakukan serangan militer demi merealisasikan nafsu religius tersebut.

Selain itu, umat Yahudi juga meyakini Kuil Sulaiman berada tepat di bawah masjid al-Aqsha. Padahal sejatinya, Kuil Sulaiman sendiri telah hancur pada masa ekspansi Persia ke Palestina, atau sebelum kenabian Muhammad SAW. Namun, umat Yahudi tetap pada keyakinannya, sehingga berusaha untuk mengembalikan kuil tersebut dengan menghancurkan Masjid al-Aqsha. Sehingga hal tersebut menjadi alasan mendasar atas legitimasi tanah Palestina merupakan milik bangsa Yahudi.

Ketiga, Nasrani. Senada dengan kedua umat agama di atas, umat Nasrani juga menganggap Palestina sebagai kota suci. Hal ini dikarenakan Palestina merupakan tempat kelahiran Yesus Kristus, tepatnya di kota Bethlehem. Keyakinan ini lahir dari ayat Injil, “Sesudah Yesus dilahirkan di Bethlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang Majus dari timur ke Yarusalem.” (Matius 2:1). Bathelehem sendiri merupakan kota yang terletak di Tepi Barat, Palestina, atau sekitar 10 Km di selatan Yarusalem.

Selain itu, umat Nasrani juga meyakini Palestina sebagai tempat kebangkita kedua (second coming) Sang Penyelamat, Nabi Isa AS. Dalam keyakinan umat Nasrani, Yesus akan dibangkitkan kembali untuk memberikan pengampunan dan membawa mereka ke surga. Ajaran tersebut membawa kayaiknan bagi umat Nasrani bahwa Palestina merupakan salah satu kota suci mereka. Sejatinya, ajaran agama samawi di atas bernada sama dan selaras, yakni menganggap Palestina sebagai kota suci. Ketiga agama tersebut, Islam, Yahudi dan Nasrani memiliki histori religius yang panjang di Palestina. Bahkan sosok penting dari masing-masing agama tersebut pernah menduduki tanah Palestina. Maka tidak mengherankan jika sepanjang sejarah, masing-masing umat agama samawi saling klaim atas Palestina.

Kendati demikian, seyogianya ketiga umat agama samawi menjaga kesucian dan kekultusan Palestina. Namun, kenyataannya saat ini, kota suci tersebut justru menjadi tempat konflik panjang yang belum usai. Bahkan situasi yang terjadi di Palestina sudah tidak relavan lagi untuk disebut konflik, melainkan tragedi kemanusiaan. Hal ini dikarenakan jumlah korban jiwa kian banyak, dan yang paling memprihatinkan ialah sebagian besar di antaranya merupakan masyarakat sipil yang secara hukum perang internasional mesti dijaga dan dihindarkan dari konflik militer.

Padahal, ketiga agama tersebut; Yahudi, Nasrani dan Islam, sama-sama sarat dengan nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi asas perdamaian. Namun, ironinya, ajaran tersebut justru berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Konflik yang terjadi secara terus menerus, korban jiwa yang semakin bertambah banyak menunjukkan betapa konflik ini sangat mengerikan. Pada akhirnya, semoga konflik Israel-Palestina segera berakhir, sehingga masyarakat terdampak konflik bisa mendapatkan haknya atas kenyamanan dan kedamaian hidup.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek Juga
Close
Back to top button
Verified by MonsterInsights