Warta

Forum Kajian Perempuan: Upaya Wihdah Memberdayakan Masisirwati

Oleh: Fithrotun Nada

Perbincangan tentang isu perempuan seakan tidak ada habisnya. Munculnya isu ini didasari oleh keresahan mengenai ketimpangan sosial dan diskriminasi terhadap kaum perempuan itu sendiri. Hak-hak mereka dalam bidang sosial, ekonomi dan politik belum terpenuhi seluruhnya. Selain itu, masyarakat juga beranggapan bahwa gender menjadi seperangkat aturan sosial dalam berperilaku. Keadaan ini dinilai membatasi ruang gerak mereka, sehingga timbul tekanan sosial dan rasa tidak percaya diri dalam mengimplementasikan potensinya.

Setelah meninjau adanya fenomena seperti ini, pada tanggal 8 September 2023, Wihdah PPMI Mesir selaku organisasi yang menaungi para mahasiswi Indonesia di Mesir (Masisirwati) berkolaborasi dengan PCI Fatayat NU, PCI Aisyiyah, Muslimat NWDI, Persistri dan ICMI membentuk sebuah forum kajian khusus yakni Forkapan (Forum Kajian Perempuan). Acara ini turut diikuti oleh beberapa delegasi dari rumah binaan, afiliatif dan lembaga kajian aktif masisir seperti; Lakpesdam, LBM, SAS Center, Al-Mizan, FSC, As-Shofwa, Mawar, LSF Girinata, Baiquniyyat, MCM, Kajian KMA, Rumah Syariah, Markas Ushuluddin, Rumah Hiwar, Sahah Indo, Manhaj Ilmu, Fismaba, PII Wati, Persistri dan NWDI yang turut memeriahkan rangkaian acara tersebut.

Forkapan dibentuk dengan tujuan menyediakan ruang lingkup diskusi bagi Masisirwati dan menjadikan mereka pemikir kritis serta responsif terhadap isu-isu perempuan. Forum kajian ini juga diharapkan dapat mengasosiasi para kartini bangsa yang memiliki cita-cita luhur bangsa dan beragama dengan tetap berbudaya. Selain itu, Forkapan hadir sebagai ajang pengenalan antarlembaga kajian yang ada di kalangan Masisirwati. Dengan begitu, forum kajian tidak lagi dipandang eksklusif yang hanya diisi oleh kaum elite intelektual, tetapi juga menjadi tren arus keilmuan di kalangan Masisirwati.

Pembukaan Forkapan dilaksanakan pada tanggal 5 November 2023 pukul 14.00 WLK di Aula Markas Syekh Zayed, Distrik 6, dengan meriah dan penuh antusias dari para peserta. Acara ini turut dihadiri oleh beberapa tamu kehormatan dari Mesir di antaranya: Rektor Universitas Al- Azhar 2015-2017, Prof. Dr. Ibrahim Shalah al-Hud Hud; Kepala Departemen Media Organisasi, Dr. Said Mat’aniy; Asisten Sekertaris Jendral Majma’ Buhuts; Dr. Ilham Muhammad Syaheen. Selain itu, juga dihadiri oleh segenap tamu kehormatan dari Indonesia, diantaranya: Perwakilan Dubes RI di Mesir, Muhammad Zaim A. Nasution; Ketua PPMI Mesir, Rahmat Iqbal Ibnu Farhan; Istri Dubes RI di Mesir, Ibu Tensi Ds. Rouf; ibu-ibu DWP serta para perwakilan dari afiliatif, lembaga kajian dan media Masisir.

Acara ini dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an serta lantunan lagu kebangsaan Indonesia dan Mesir. Kemudian, dilanjutkan peresmian secara simbolis dengan pemotongan pita secara langsung oleh Prof. Dr. Ibrahim Shalah al-Hud Hud, Bapak Muhammad Zaim A. Nasution, Dr. Said Mat’aniy, Dukturoh Ilham Muhammad Syaheen, Ibu Tensi Ds. Rouf dan perwakilan Ibu DWP. Setelah itu, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari tokoh yang bersangkutan. Dalam sambutannya, Wakil Ketua Wihdah, Nur Afidatus Shofiyah menyampaikan bahwa forum kajian dianggap sangat penting untuk memberdayakan potensi Masisirwati dalam berpikir kritis dalam segala aspek. Terselenggaranya forum kajian khusus perempuan ini diharapkan mampu menjadi role model penggiat diskusi, agar mampu mendorong minat Masisirwati secara umum dalam hal tersebut.

Tak kalah menarik, Rahmat Ikbal menceritakan kisah seorang perempuan Indonesia asal Padang Panjang yang mampu menginspirasi jutaan kaum hawa. Beliau adalah Rachma Elyunisia yang telah mendirikan pondok pesantren diniyah khusus putri pada tanggal 1 November 1923. Didirikannya lembaga ini, tidak terlepas dari inspirasi beliau kala itu bahwa pandangan sempit mengenai perempuan tidak boleh dilanjutkan. Di sisi lain, Rachma Elyunisia juga memelopori berdirinya sebuah lembaga dunia yang terkenal yaitu Kuliah Khusus Perempuan di al-Azhar al-Syarif yang masih eksis hingga saat ini.

Saah satu sesi seminar yang paling ditunggu-tunggu oleh para peserta adalah pemaparan materi. Selain diisi oleh tokoh-tokoh ternama, sesi ini dipandang dapat memberikan pengetahuan baru kepada para peserta. Dr. Ilham Syaheen selaku pemateri menjelaskan tentang peranan al-Azhar al-Syarif beserta lembaga yang ada di dalamnya. Beliau juga memaparkan peranan Imam Akbar Syekh Ahmad al-Thayyib dalam memberdayakan perempuan dan memenuhi hak-hak mereka. Salah satu bukti bahwa Syekh al-Thayyib ikut andil dalam memberdayakan perempuan adalah dengan memberikan kesempatan bagi para Perempuan untuk ikut andil dalam memimpin berbagai bidang di al-Azhar al-Syarif, baik itu di sekolah, kampus, departemen pemerintahan, panti jompo, masyarakat sipil, pembelajaran perempuan di masjid, lajnah fatwa dan masih banyak lagi yang lainnya.

Beberapa contoh para perempuan hebat yang terlibat dalam kursi kepemimpinan lembaga al-Azhar adalah Dr. Ilham Muhammad Syaheen yang menjabat sebagai Asisten Sekertaris Jendral Majma’ Buhuts, Dr. Nahlah Sho’idi yang menjabat sebagai Penasehat Imam Akbar bidang mahasiswa luar negeri dan terdapat sekitar 218 perempuan yang menduduki jabatan sebagai penasehat al-Azhar al-Syarif di berbagai provinsi yang ada di Mesir.

Sesi acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi tanya-jawab. Pertanyaan dibatasi hanya untuk 4 orang pertama. Dari beberapa pertanyaan yang disampaikan, terdapat salah satu pertanyaan menarik dari salah satu Masisirwati tentang “Apakah seorang perempuan layak menjadi Imam Akbar al-Azhar di masa yang akan datang?”. Lantas, pemateri menjawab, “Jika dirasa mampu untuk dilakukan oleh seorang perempuan, dikarenakan seorang ia memiliki potensi yang luar biasa, why not?”. Selain itu, beliau juga memaparkan, “Jika terdapat dua calon presiden yang terdiri atas perempuan beragama Islam dan laki-laki non muslim, kita diharuskan untuk memilih perempuan muslim demi kemashlahatan umat Islam.”

Sesi tanya-jawab tersebut sekaligus mengakhiri acara yang diselenggarakan di Aula Markas Syekh Zayed ini. Meskipun begitu, Forkapan sendiri tidak selesai pada acara pembukaan ini saja, melainkan akan ada serangkaian acara berikutnya yang wajib dihadiri oleh beberapa delegasi yang telah terdaftar. Kajian pertama dilaksanakan pada minggu ketiga bulan November 2023, dilanjutkan dengan kajian kedua di minggu kedua bulan Februari 2024, dan diakhiri dengan acara Forkapan pada bulan Maret yang belum ditentukan secara pasti tanggal penutupannya.

Dari pemaparan di atas dapat diketahui bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk mengisi kedudukan yang biasanya dianggap hanya boleh untuk lelaki saja. Perempuan yang memiliki potensi luar biasa dapat menduduki kursi jabatan dalam bidang apapun. Hal ini sejalan dengan gagasan yang dibawa Forkapan dalam melatarbelakangi acara ini. Semoga Forkapan bisa menjadi salah satu wadah bagi Masisirwati dalam mengembangkan intelektualnya serta menjadi pintu untuk menyadari hak-hak perempuan yang semestinya bisa didapatkan.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights