Opini

Sandwich Generation dan Arus AI

Anak merupakan tulang punggung keluarga. Begitulah kiranya tanggapan saya ketika melihat salah satu cuitan sandwich generation di menfess X yang disusul ajang adu nasib ribuan pengguna lainnya di kolom komentar. Beban finansial yang mencakup biaya hidup, pendidikan, hingga utang piutang dilimpahkan kesemuanya kepada anak.

Di sisi lain, dengan latar belakang yang variatif dan kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan finansial juga tak sama. Beragam pekerjaan sampingan pun mereka ambil asal dapat menutupi jumlah yang diperlukan. Akan tetapi, bagaimana nasib sandwich generation yang berasal dari kalangan menengah ke bawah menghadapi tantangan tersebut di era digital yang akan didominasi oleh AI mendatang?

Beban finansial yang ditanggung oleh sandwich generation (generasi roti apit) mencakup tiga generasi. Mereka terapit di antara satu generasi di atasnya dan generasi di bawahnya. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Dorothy A. Miller, Profesor Social Worker di Universitas Kentucky, pada tahun 1981 dalam jurnal “The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of The Aging”. Mulanya, konsep ini ditujukan kepada orang-orang dewasa dalam rentang usia 45-65 tahun yang menanggung beban tiga generasi. Namun dewasa ini, konsep tersebut ditujukan kepada seluruh kalangan yang menanggung hal serupa.

Di Indonesia, orang-orang yang tergolong dalam generasi roti apit umumnya memiliki latar belakang pendidikan dan pendapatan yang rendah. Hal ini disampaikan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia dalam jurnalnya, “Dampak Generasi Roti Apit terhadap Peluang Bonus Demografi di Indonesia”, yang diterbitkan pada Mei 2023. Dari total penduduk 271,35 juta jiwa, sesuai hasil sensus penduduk tahun 2020, generasi roti apit mencapai 70,72 persen secara keseluruhan. Dibuktikan dari hasil jajak pendapat mengenai generasi roti apit Indonesia yang dilakukan oleh Kompas pada Agustus 2022. Ada 36,2 persen generasi tersebut dari keluarga ekonomi bawah dan 44,8 persen dari keluarga ekonomi menengah.

Dalam memenuhi kebutuhan finansial ganda, sebagai tulang punggung keluarga tentu memerlukan pekerjaan dengan penghasilan yang besar pula. Terlebih lagi di masa kini, di mana harga kebutuhan pokok sehari-hari, BBM, hingga harga perumahan meningkat drastis sebagai dampak dari krisis ekonomi yang mewabah hampir di seluruh dunia. Lonjakan harga-harga kebutuhan yang tak pasti serta dana darurat yang menanggung beban finansial tiga generasi tak akan cukup hanya dengan pekerjaan berpenghasilan rendah.

Selanjutnya, terdapat tantangan baru bagi generasi roti apit selain masalah di atas. Salah satunya adalah jumlah lapangan pekerjaan yang semakin bergeser ke arah robotisasi dan digitalisasi, serta mulai meninggalkan metode kerja konservatif dan anakronistis. Modernisasi yang dihasilkan melalui transisi tersebut secara tidak langsung menciptakan setidaknya sekitar 97 juta lapangan kerja berbasis AI, menurut laporan World Economic Forum (WEF) dalam “Future of Jobs Report 2023”, di seluruh dunia. Namun di sisi lain, modernisasi ini juga mengancam manusia pekerja yang semakin meluas.

Goldman Sachs, bank investasi terbesar kedua di dunia, melaporkan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menggantikan setara dengan 300 juta pekerjaan manusia di berbagai sektor. Kita ambil contoh dengan adanya ChatGPT yang mampu menggantikan peran manusia penulis. Hasil tulisannya pun boleh diadu dengan hasil milik penulis senior. Hal ini disebabkan, AI memiliki data-data yang dibutuhkan dalam suatu tulisan jauh lebih banyak daripada yang dimiliki manusia.

Tak hanya itu, salah satu organisasi ekonomi internasional, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), juga melaporkan bahwa automasi AI sangat berdampak pada sejumlah pekerjaan, khususnya pekerjaan kantoran. Misalnya urusan administratif, profesional bisnis, hingga manajemen mampu ditangani oleh AI yang memiliki kapasitas memori, kemampuan analitik, dan kecepatan yang lebih optimal daripada manusia. Sadar maupun tidak, sebagai terobosan baru, AI telah memasuki dan memengaruhi hampir di keseluruhan aspek kehidupan manusia.

Eksistensi AI bak pedang berbilah dua, satu sisi mempermudah pekerjaan sedangkan di sisi lain kemampuannya dapat menggantikan manusia. Tanpa menafikan sisi positifnya, AI generatif yang seharusnya sebagai pelengkap dan pembantu pekerjaan manusia, justru dapat menggantikan pekerja manusia itu sendiri merupakan sebuah ironi. Tentunya, hal ini hanya dapat terjadi jika manusia pekerja tidak memiliki keterampilan digital dan teknologi yang tinggi. Sebagai pokok utama dalam pengadaptasian AI di lingkup lapangan kerja, kedua keterampilan tersebut sangat dibutuhkan di samping keterampilan nonteknis.

Sejalan dengan hal itu, penelitian terbaru OECD menemukan bahwa paparan AI yang semakin besar meningkatkan permintaan pekerjaan yang berbasis komputer lebih besar pula. Cara kerja AI yang lebih optimal, membutuhkan manusia-manusia yang memiliki keterampilan digital yang tinggi dalam pengadaptasiannya. Sehingga secara tak langsung, AI dapat meningkatkan kesenjangan pasar kerja antara pekerja yang memiliki kemampuan digital yang efektif dan yang tidak.

Kemampuan digital dan teknologi tentu tak bisa didapat secara cuma-cuma. Setidaknya, dibutuhkan ketersediaan komputer dan internet untuk menghasilkan dan melatih kemampuan tersebut. Meski generasi roti apit didominasi oleh generasi Millenial dan Z berdasar hasil survei Deloitte–salah satu dari empat perusahaan akuntansi terbesar di dunia–secara global pada 2023, akan tetapi tidak semua orang dari rentang generasi tersebut berasal dari keluarga ekonomi menengah ke atas. Latar belakang ekonomi keluarga juga turut memengaruhi kemampuan seseorang untuk melek digitalisasi dan robotisasi.

Kalau kita perhatikan, pemerintah sudah mulai bergerak dalam mengatasi permasalahan tersebut. Seperti kehadiran program Kampus Merdeka yang bekerja sama dengan beberapa platform pendidikan yang berorientasi kepada AI dan data. Sebagaimana namanya ‘kampus’, program ini hanya ditujukan kepada mahasiswa yang terdaftar di kampus-kampus seluruh Indonesia di bawah Kemendikbudristek.

Masalahnya, orang-orang yang tergolong dalam generasi roti apit tidak hanya berlatar belakang mahasiswa saja. Kampus Merdeka yang dicanangkan sebagai persiapan sumber daya manusia Indonesia yang berketerampilan teknologi tinggi, realitanya tidak memfasilitasi seluruh masyarakatnya. Orang-orang berusia produktif yang berasal dari kelas ekonomi rendah, khususnya generasi Z, tidak bisa mengikuti program kampus tersebut sebab terhalang syarat status mahasiswa. Mengingat, latar belakang ekonomi tidak semata-mata berpengaruh kepada kehidupan sosial, namun juga kesempatan pendidikan. Banyak orang yang harus putus sekolah atau bahkan tidak memiliki kesempatan menempuh pendidikan sama sekali di bawah kendala ekonomi. Sedangkan, masalah beban finansial terus membengkak dan kesempatan bekerja semakin langka.

Melihat permasalahan ini, hemat penulis, diperlukan peran pemerintah yang lebih optimal dalam sosialisasi dan memfasilitasi pendidikan berbasis AI dan digital. Tak hanya sebatas ‘tahu cara menggunakan’, sebagaimana yang telah diterapkan dalam sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Lebih dari itu, sumber daya manusia Indonesia–khususnya yang masih termasuk dalam usia produktif, harus bisa memanfaatkan serta memaksimalkan keberadaan AI secara efektif dan optimal. Baik yang berlatar belakang ekonomi menengah ke atas maupun menengah ke bawah, orang berpendidikan tinggi maupun rendah dan orang yang berdomisili perkotaan maupun desa yang jauh di pedalaman.

Pentingnya kesadaran diri terhadap transisi dalam kehidupan modern juga menjadi salah satu indikator keberhasilan bertahan hidup di masa ini. Keberadaan AI di tengah kehidupan manusia tak dapat ditolak ataupun diabaikan. Mengingat arus perkembangan zaman yang semakin modern dan digital, kualitas sumber daya manusia juga harus terus ditingkatkan. Persiapan sumber daya manusia berbasis AI dan digital tidak hanya semata-mata agar manusia tak tergeser serta terkalahkan oleh AI dan robot, terutama dalam lapangan pekerjaan. Akan tetapi, persiapan tersebut juga sebagai bentuk respon kehidupan manusia yang selalu dinamis, adaptif, dan tidak anakronistis.

 

Nur Inayah

Ketika terompet telah berteriak, tak ada jalan kembali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights