Opini

Dapatkah Sepakbola Terlepas dari Politik?

Bagi saya, orang-orang yang mencoba memutus hubungan olahraga dengan politik, merupakan orang-orang yang terlampau naif dalam memahami sebuah peristiwa. Utamanya, pelbagai peristiwa yang terjadi di salah satu cabang olahraga yang hampir digandrungi masyarakat dunia, yakni sepakbola. Tentu, hal tersebut sama naifnya dengan orang-orang yang mewacanakan khilafah atau berusaha meliberalisasi sebuah negara. Salah satu bukti teranyar bahwa olahraga mustahil lepas dari politik ialah sikap yang ditujukan oleh Anwar el-Ghazi. Tempo hari, pemain sepakbola berpaspor Belanda tersebut diputus kontraknya secara sepihak oleh Mainz 05, klub sepakbola asal Jerman. Setelah dirunut, ternyata masalah ini merupakan buntut dari unggahannya di Instagram kapan hari, yang lantang mendeklarasikan keberpihakannya pada Palestina.

Elemen pada sepakbola yang terlampau kompleks, dianggap cukup rentan dipengaruhi dan diperalat oleh gerakan politik tertentu. Lebih-lebih industri sepakbola modern yang secara radikal mengubah orientasi sepakbola dari sekadar olahraga, menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Sebagai contoh, investor luar yang bebas keluar-masuk sepakbola Inggris bukan tidak mungkin memiliki agenda tertentu. Newcastle United, yang sahamnya diakusisi oleh Yasir Al-Rumayyan, seorang pengusaha dari Arab Saudi, membiayai seluruh kepentingan klubnya dengan uang milik negara (BUMN). Selama caranya tidak radikal, agenda khusus dari investor tertentu saya pikir sama sekali tidak bakal menggangu penggemar dari klub tersebut. tersebab, meraka hanya peduli pada permainan dan prestasi dari tim yang ia gemari.

Acuh tak acuhnya para penggemar, membuat sepakbola menjadi potensi politis yang besar namun terlihat samar-samar. Banyaknya orang yang naïf, menjadikan sepakbola hanya dilirik oleh orang tertentu sebagai potensi yang menjanjikan, guna menyetir publik pada agenda atau propaganda tertentu. Potensi politis dari sepakbola salah satunya adalah pesona para pemain yang banyak dikagumi khalayak.. Didier Drogba misalnya, pemain kebangsaan Pantai Gading tersebut mampu hadir sebagai juru damai dari perang saudara yang berkecamuk di daerahnya pada 2005 lalu. Sebelum menyeru perdamaian, sebagai pemain bola, saya rasa bahkan Drogba saja tidak menyadari potensi politis pada dirinya yang kebetulan berperan sebagai pesepak bola. Kekuatan magis yang ia miliki mampu menyihir kedua pihak untuk melakukan genjatan senjata.

Saya kira, selama agenda politik mampu berjalan dengan baik dan tidak mencederai akal budi, sepakbola bakal memiliki reputasi yang bagus sebagai sebuah medium politis. Tentu hal ini berseberangan dengan keputusan Mainz yang saya singgung di muka. Keberpihakan Anwar el-Ghazi sama sekali tidak mencederai pihak tertentu, dalam hal ini Mainz 05 sebagai klub sepakbola. Keberpihakannya pada Palestina hanya kutukan pada orang-orang yang mencederai kemanusiaan. Mainz, dalam hal ini saya rasa tidak punya hak untuk mengatur kepentingan pemain selain kepentingan yang berkaitan dengan sepakbola. Adapun sebabnya ialah, Anwar el-Ghazi menjalani peran yang lain dalam interaksinya pada manusia yang lain sebagai masyarakat dunia.

Dalam tinjuan sosiologi, manusia dapat memiliki lebih dari satu peran dalam interaksinya dengan manusia lain. Sepakbola bukanlah satu-satunya peran dan identitas milik Anwar el-Ghazi. Kebijakan Mainz 05 yang saya singgung di muka, mencederai peran pesepakbola berdarah Maroko tersebut sebagai bagian dari masyarakat dunia yang peduli pada perdamaian dan isu kemanusiaan. Perbedaan dalam keberpihakan pada hal yang politis, merupakan sebuah keniscayaan mustahil untuk lenyap. Hanya saja, saat perbedaan tersebut sudah mencederai individu atau kelompok tertentu, dapat dipastikan bahwa kebijakan dari perbedaan tersebut merupakan hal yang ganjil.

Perdamaian perang saudara oleh Drogba dan kebijakan Mainz 05, merupakan dua contoh kecil yang mengindikasikan bahwa sepakbola dan politik memiliki hubungan yang mustahil terpisah. Selain sebagai pesepakbola, Drogba juga menjalankan peran sebagai warga Pantai Gading yang menentang peperangan. Tentu saja peran sebagai warga negara, menjadi elemen yang krusial dalam perdamaian tersebut. Bagaimana mungkin, pihak yang berperang berkenan menerima seruan dari orang yang tidak memiliki kedekatan yang intim dengan mereka. Peran yang tidak tunggal, menjadikan banyak hal terikat satu dengan yang lain, dalam hal ini tentu sepakbola dan politik. “Sepakbola dapat mendikte politik dan politik dapat mendikte sepakbola,” idiom yang cocok memanifestasikan kedua kasus di muka.

Kedua kasus di muka hanya fragmen kecil dari efek magis yang ditimbulkan olahraga paling populer tersebut. Saya bahkan berpandangan untuk memosisikan penggemar klub sepakbola tertentu sebagai identitas lain, selain agama, suku, kebangsaan dll. Tentu saja, perrnyataan tersebut berlandaskan pada fenomena penggemar sepakbola yang rela mati-matian membela klub atau pemain kebanggannya sampai bertaruh nyawa. Tragedi kehilangan nyawa akibat konflik antar-penggemar klub, bukanlah hal yang baru di sepakbola, terutama sepakbola Tanah Air. Keresahan Amartya Sen soal kenaifan orang-orang yang mewacanakan identitas tunggal, juga berangkat dari konflik yang meregang nyawa. Konflik tersebut terjadi disababkan oleh perbedaan identitas agama, padahal kedua pihak punya identitas yang sama sebagai buruh kelas bawah.

Posisi penggemar sepakbola yang saya klaim sebagai identitas, membuatnya memiliki potensi pada tingkat yang sama dengan identitas lain, agama misalnya. Politisi yang mampu mengakomodir suara yang anarkis tersebut, memberinya peluang yang layak diperhitungkan dalam kontestasi politik. Dengan posisi yang sama sebagai identitas, agama dan penggemar sepakbola memiliki landasan yang sama, yaitu fanatisme. Untuk menimba suara, para politisi semestinya memiliki kemampuan dalam mengontrol dan menyetir arah fanatisme tersebut. Dalam Mukaddimah-nya, Ibn Khaldun menngemukakan bahwa tujuan akhir dari fanatisme (‘ashâbiyah) adalah kekuasaan. Tentu hal tersebut cukup relevan dengan tujuan dari para politisi yang haus suara rakyat.

Ironinya, konflik yang kerap kali muncul ialah, adanya pandangan bahwa identitas pihak yang sedang kontra, ialah tunggal sebagai penggemar klub tertentu saja, misalnya. Cara berfikir yang sebenarnya telampau bodoh. Dalam keadaan konflik, pihak tertentu mampu melupakan dirinya terikat sebagai warga negara yang sama dengan pihak yang kontra, bahkan saudara seagama. Menyadari manusia memiliki peran dan identitas yang tidak tunggal menjadi krusial, guna menjaga keharmonisan interaksi yang manusia lakukan.

Dalam berinteraksi, manusia hanya perlu berusaha tidak mencederai peran dan identitas yang dimiliki individu yang lain. Memiliki keberpihakan politis yang berbeda, misalnya. Noussar Mazroaui, pemain berkebangsaan Maroko tersebut juga mengunggah hal yang sama dengan Anwar el-Ghazi. Alih-alih mencabut kontraknya layaknya Mainz 05, Bayern Muenchen yang memiliki kecenderungan politik berbeda dengan Mazroaui justru memilih berdamai dan sama-sama mengutuk kekerasan dan peperangan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights