Opini

Menakar Kehadiran Rumah Binaan Masisir

Mendapat privilese sebagai diaspora Indonesia di Mesir tentu merupakan kebahagiaan yang harus saya syukuri. Namun, kebahagiaan itu seperti hendak berpaling sesaat, setelah terhitung saya menetap setahun lamanya di pinggiran Kota Kairo. Kebahagiaan itu berubah menjadi sebuah kegalauan yang kian memaksa dan menggerakkan pikiran bawah sadar saya. Lantas saya berusaha untuk menemukan jawaban atas fenomena yang berkembang di lingkungan sekitar saya. Sebut saja fenomena rumah binaan yang beberapa tahun belakangan sukses mengubah lanskap lokalitas Masisir ke dalam petak-petak tertentu, yang salah satunya mengarah kepada tren populisme. Saya akan memberangkatkan tulisan ini dengan mengupas makna fenomena terlebih dahulu.

Fenomena, oleh Edmund Husserl, sang bapak fenomenologi dimaknai sebagai sebuah realitas yang menampakkan dirinya kepada manusia.[1] Jelasnya, kita membiarkan realitas itu membuka diri, bercerita, dan memperkenalkan dirinya kepada kita. Lalu, kita berusaha menyimak, memahami dan memaknai bahasa yang diperdengarkan itu. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan fenomena sebagai hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah. Mengacu kepada dua definisi tersebut, saya berpandangan bahwa rumah binaan dengan pelbagai kata kerjanya sebagai subjek aktif yang merupakan fenomena itu sendiri, sudah selayaknya menjadi realitas yang perlu dikaji kehadirannya secara kritis dan jujur. Kritis di sini bermakna mengapresiasi sisi yang positif sekaligus mengevaluasi sisi lain yang terkesan negatif dari fenomena itu.[2]

Berdasarkan hasil kuesioner yang telah saya sebar kepada sejumlah 23 Masisir pada Jumat, 16 Februari 2024, setidaknya saya telah mengumpulkan 20 respons jawaban yang cukup beragam. Kemudian jikalau saya padatkan, maka akan muncul dua kata, yakni pro dan kontra. Dari sana, saya menyimpulkan bahwa kehadiran rumah binaan tidak sepenuhnya disetujui, juga tidak sepenuhnya ditolak oleh Masisir.[3] Untuk menganalisis lebih jauh, saya kira kita perlu bersepakat terlebih dahulu, bahwa kemunculan rumah binaan tidak bisa dilepaskan begitu saja dari anasir sosial sekitar yang turut membentuknya. Sebuah fenomena tentu tidak berangkat dari ruang kosong. Ia juga tidak secara ujug-ujug ada tanpa sedikitpun memiliki unsur keterpengaruhan dari fakta sosial pada suatu konstruksi masyarakat tertentu.

Fakta bahwa iklim pergaulan mahasiswa di Mesir yang cenderung bersifat bebas lantaran jauh dari pengawasan orang tua, mendorong sebagian Masisir untuk memilih mengungsikan dirinya di rumah binaan. Pun berdasarkan fakta tersebut, Masisir menjadikan rumah binaan sebagai “suaka ketenangan” dari segala bentuk ketidaknyamanan. Menurunnya kualitas keilmuan Masisir secara umum sebagai imbas dari kurang ketatnya proses seleksi, yang disinyalir terlalu gampang meloloskan mahasiswa baru, sehingga hal ini turut menjadi faktor lain dari terbentuknya rumah binaan. Efeknya dapat kita rasakan dari banyaknya Masisir yang terseok-seok dalam mengikuti proses pembelajaran di kampus al-Azhar, oleh sebab latar belakang mereka yang masih belum terbiasa menggeluti literatur Arab. Sederhananya, rumah binaan menjadi semacam wadah untuk menempa sejumlah Masisir yang dirasa bekal kompetensi keilmuannya kurang cukup, agar ke depan ia mampu mengejar ketertinggalan dan bisa mengikuti proses perkuliahan dengan lebih matang.

Lemahnya sebagian Masisir dalam penguasaan khazanah turats, terutama pada aspek ilmu-ilmu yang masih bersifat pendasaran—saya menyebutnya sebagai ilmu instrumental—seperti nahu saraf, mantik, balagah dan ilmu-ilmu lain juga tak luput menjadi faktor selanjutnya. Faktor terakhir ini menjadi variabel yang paling dominan ketimbang yang sebelumnya, setidaknya menurut pembacaan saya. Hal itu dibuktikan dengan pola rumah binaan yang hampir semuanya atau rata-rata didesain, diformulasikan dan diorientasikan sebagai “ekosistem-semipondokan-dengan-pendiri-sebagai-pengasuh” yang berfokus pada pengajaran dan pembelajaran kurikulum ilmu alat. Sehingga wajar, apabila yang tertarik masuk rumah binaan pada umumnya adalah orang-orang yang masih membutuhkan arahan, bimbingan dan pembinaan dari sesepuh Masisir yang konon “dituakan” dari segi keilmuan.

Ketimbang bingung harus memulai belajar dari mana, sebagian Masisir memilih untuk menjemput takdir dan menaruh harapan pada rumah binaan. Mereka berharap rumah binaan menjadi batu loncatan agar dapat menyelami luas dan dalamnya samudera keilmuan di Mesir, khususnya di al-Azhar, sebagaimana yang dicita-citakan sedari awal. Keresahan itu yang kemudian juga ditanggap oleh sesepuh Masisir yang saya sebut tadi, di samping “cita-cita mulia” untuk menularkan dan menyuntikkan ilmu-ilmu yang pernah didapat dari beberapa syekh. Namun, dengan segala sisi positif yang dimunculkan dari rumah binaan, ada beberapa hal yang luput dari pengamatan banyak orang. Apa yang saya sebut di paragraf awal sebagai tren populisme menjadi salah satu keresahan dari sekian hal yang luput itu, yang tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang saja. Keresahan itu cukup beralasan.

Rumah binaan yang awalnya hanya bisa dihitung jari, pada perkembangannya beranak-pinak dan saling mengawini satu sama lain untuk membentuk satuan ekosistem baru di Masisir. Tidak menutup kemungkinan, beberapa tahun ke depan akan semakin banyak lagi ditemukan rumah binaan, yang mengalami persemaian dan penyebaran dalam skala yang lebih besar, seiring lonjakan mahasiswa baru yang kian bertambah setiap tahunnya. Alih-alih menciptakan iklim belajar yang segar dan kondusif, tumbuh suburnya rumah binaan justru berpotensi menghasilkan individu yang serba ketergantungan.

Tak jarang saya menemukan sebagian pelajar yang menaruh alibi untuk tidak mendatangi majelis keilmuan, yang secara khusus diajar langsung oleh syekh. Alibi itu didasari oleh anggapan bahwa untuk apa menghadiri majelis, jika pulang dari sana tidak membawa apa-apa. Masalahnya, anggapan tersebut terus dipupuk dan dierami sampai beberapa hari menjelang kepulangannya ke Indonesia. Disadari atau tidak, hadirnya rumah binaan sedikit banyak akan dapat menggerus kesadaran dan kemandirian belajar yang menjadi ciri khas mahasiswa. Bagaimana kita bisa terampil menjadi mahasiswa, jikalau kesadaran dan kemandirian belajar saja kita tidak punya?

Selain itu, eksklusivitas beberapa rumah binaan—sekali lagi, beberapa—yang seolah membakukan program pengajarannya dan terkesan mengekang kebebasan mahasiswa untuk turut mengeksplorasi pengetahuan di luar, hal itu termasuk poin kedua yang seyogianya menjadi refleksi bersama. Terdapat rumah binaan yang justru menerapkan aturan ketat agar “yang berkepentingan dibina” di sana tidak boleh menjalani dinamika pembelajaran di luar. Jangankan untuk bertalaki, berkuliah saja merupakan hal yang cenderung dibatasi. Hal ini tentu menjadi sebuah ironi tersendiri yang akan sangat berbenturan apabila kita sandingkan dengan kebijakan al-Azhar, yang secara formal justru memilih untuk tidak mengintervensi kegiatan anak didiknya. Tidak diterapkannya sistem absensi setidaknya telah mengafirmasi klaim tersebut.

Selama ini saya memaknai mahasiswa sebagai insan yang siap dilepas dalam proses pengembaraan intelektual yang lebih jauh menyusuri rimba pengetahuan. Sebelum memasuki rimba pengetahuan yang dipenuhi dengan pepohohonan-pepohonan ilmu yang tidak homogen itu, insan tersebut tentu harus memiliki sangu yang cukup sebagai bekal hidup di sana. Sangu dalam makna yang lebih esensial bukan artifisial adalah perpaduan antara fungsi kesadaran dan pemikiran, yang berupaya mewujudkan suasana belajar yang lebih mandiri, maju dan tidak bergantung terhadap liyan. Sebagai alternatif dari rumah binaan, saya kira kelompok diskusi atau komunitas kajian, baik yang bersifat kultural maupun struktural, dapat menjadi tawaran yang bisa dilirik bersama.[4] Selain ditempa dengan penuh kemandirian, kelompok diskusi akan membuat kita terbiasa membaca, mengkritisi, menganalisis dan membenturkan pikiran antarsesama yang menjadi ciri intelektual mahasiswa. Lantas, sudahkah kita menjadi mahasiswa dalam arti yang sesungguhnya?

[1]. O. Hasbiansyah, Pendekatan Fenomenologi: Pengantar Praktik dalam Ilmu Sosial dan Komunikasi, hlm. 167.

[2]. Saya meminjam definisi ini dari Prof. Dr. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Mantan Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar yang banyak mengulas isu-isu seksi nan mutakhir dengan pembacaan yang cerdas pada bukunya yang fenomenal, “al-Fikru al-Dini wa Qadlaya al-‘Ashr.” Selengkapnya lihat hlm. 101, bab Akal Manusia dan Perannya terhadap Kemajuan Peradaban, subbab Berpikir Kritis dan Perkembangan Peradaban.

[3]. Kuesioner dengan pendekatan kualitatif ini mencakup tiga pertanyaan mendasar: Apa pandangan Anda terkait kehadiran rumah binaan? Apa faktor yang melatari kemunculan rumah binaan menurut Anda? Apa pola yang ideal untuk pembelajaran Masisir saat ini sebagai alternatif lain dari rumah binaan? Ada tiga objek sampel yang saya ambil di sini, yakni Masisir pegiat kajian, Masisir anggota rumah binaan dan Masisir yang tidak mengikuti aktivitas kajian-binaan.

[4]. Saya menganggap Masisir secara umum memiliki kecukupan dan kecakapan untuk terlibat dalam kelompok diskusi kultural; dibuat atas inisiatif bersama tanpa ada pembakuan aturan yang bersifat formal. Apa yang didapat dari Indonesia sejatinya merupakan modal yang bisa dikapitalkan melalui kelompok diskusi. Di sana, Masisir bisa saling berbagi, mengoreksi, dan berdiskusi terkait wacana keilmuan yang didapat dari syekh atau dosen pengajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights