Islamologi

Dua Syarat Politik(us) yang Baik

Oleh: Farhan Permana

Di dalam benak sebagian orang, politik adalah sesuatu yang buruk. Hal ini tidak terlepas dari realita yang terjadi di tengah masyarakat. Sebagai contoh, Indonesia menjadi negara dengan peringkat 110 dengan kasus korupsi terbanyak di dunia. Lantas, apakah semua hal yang berhubungan dengan politik itu kotor?

Perlu diketahui, bahwa secara praktis politik merupakan kegiatan mulia dan bermanfaat karena berhubungan dengan pengorganisasian urusan masyarakat agar menjadi (lebih) baik. Dalam hal ini, pemahaman masyarakat terhadap politik harus digali lebih dalam melalui berbagai media, di antaranya dengan sosialisai pemerintah kepada masyarakat tentang politik..

Menurut Andrey Heywood, ahli ilmu politik, politik adalah kegiatan suatu bangsa yang bertujuan untuk membuat, mempertahankan, dan mengamandemen peraturan-peraturan umum yang mengatur kehidupannya, yang berarti tidak dapat terlepas dari gejala konflik dan kerja sama. Sedangkan dalam fikih Islam, politik menurut ulama Hanbali adalah sikap, perilaku dan kebijakan kemasyarakatan yang mendekatkan pada kemaslahatan, sekaligus menjauhkan dari kemafsadatan meskipun belum pernah ditentukan oleh Rasulullah SAW.

Dari definisi di atas dapat kita simpulkan bahwa politik merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencapai kemaslahatan dan menjauhkan masyarakat dari kemafsadatan. Terlepas dari kotor atau tidaknya politik, sebagai umat beragama kita harus menjaga dan menjalani politik dengan baik. Dengan kata lain, kemajuan suatu negara tergantung dari bagaimana suatu negara itu berpolitik. Jika politiknya baik, maka baik pula negaranya, begitupun sebaliknya.

Politik yang baik adalah politik yang adil. Keadilan menjadi sesuatu yang harus ditegakkan dalam berpolitik. Islam mengajarkan bahwa memberikan hak kepada seseorang harus sesuai porsinya, bukan atas dasar sama rata dan sama rasa. Oleh karena itu perlu adanya pemimpin yang menegakkan hukum yang sudah ditetapkan oleh negara. Di dalam kitab Al-Tibr al-Masbuk fi Nashîhat al-Mulûk, Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan tiga perkara. Pertama, apabila rakyat meminta atau membutuhkan belas kasih, maka sang khalifah wajib berbagi kasih kepada mereka. Kedua, apabila menghukumi mereka maka berbuatlah adil. Ketiga, laksanakan apa yang telah kamu katakan (tidak menyalahi janji).

Pada sabda Nabi di atas, adil menjadi sesuatu yang sangat penting dalam dunia politik, terlebih lagi bagi seorang calon pemimpin. Hal demikian juga dikuatkan dengan beberapa ayat dalam Al-Quran. Kata al-adl yang disebutkan sebanyak 28 kali dalam Al-Quran. Selama Islam itu berdiri maka semestinya, keadilan pun akan tetap ada.

Di samping sifat adil yang harus dimiliki oleh seseorang, kekuasaan pun menjadi salah satu hal yang menjadi sebab terciptanya politik yang baik. Hal ini sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Quran surat Al-Isra ayat 17 yang artinya: Katakanlah, “Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar serta berikanlah kepada diriku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”. Ayat tersebut menunjukan bahwasannya kekuasaan sangatlah berpengaruh terhadap jalannya politik. Dengannya, seseorang dapat menentukan arah serta tujuan politik yang dikehendaki, baik itu sesuai dengan peraturan yang ada atau malah sebaliknya.

Imam Ibnu Katsir menukil pernyataan Ibnu Qatadah menulis, ayat di atas mengandung makna bahwa Rasulullah SAW menyadari jika tidak ada kemampuan pada diri beliau untuk menegakkan urusan agama ini, kecuali dengan kekuasaan. Karena itulah Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuasaan yang dengannya ia bisa menegakkan agama Islam dan menyebarkannya. Kekuasan yang demikian adalah rahmat dari Allah yang diberikan khusus kepada hamba-Nya.

Lebih lanjut lagi, hakikat kekuasaan itu adalah rahmat dari Allah yang Ia berikan kepada hamba-Nya. Seandainya tidak ada kekuasaan ini, tentulah sebagian dari mereka akan menyerang sebagian yang lainnya sebagaimana yang lebih kuat akan menindas yang lebih lemah dari mereka.

Dengan demikian, menjadi terang bahwa politik tak terlepas dari berbagai sisi kehidupan kita. Dengan bersiasat, seseorang bisa mencapai kepada kehidupan yang sejahtera. Agar politik tidak menjerumuskan seseorang ke dalam jurang kelaliman, Islam menggariskan bahwa politik bagi seorang Muslim meski dipraktikkan dalam koridor amar makruf nahi munkar.

Seorang ulama karismatik asal Jakarta, KH Syukron Makmun pernah menuturkan bahwa politik itu baik dan mulia karena merupakan ilmu yang dibuat untuk mengatur suatu negara. Menurutnya, yang tidak baik dan kotor adalah para pelaku politik yang menyalahgunakan haknya, bukan politik itu sendiri. Karenanya, penting bagi kita untuk mencari pelaku-pelaku politik yang beriman dan bertakwa serta mencerminkan sifat-sifat yang luhur. Jujur, dan amanah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Cek Juga
Close
Back to top button
Verified by MonsterInsights