Esai

Peran Penahkik dalam Penerbitan Karya Ilmuwan Klasik

Liburan pertengahan semester lalu saya jadikan momen sambang Cairo International Book Fair (CIBF). Itu adalah pameran buku terbesar di Timur Tengah yang berlangsung selama dua pekan. Pameran ini didominasi oleh buku-buku berbahasa Arab, tak terkecuali buku-buku ilmuwan Muslim klasik dengan ragam cetakan dan penahkik; orang yang mengevaluasi naskah dari berbagai aspek. Di tengah-tengah  keasyikan menyelusuri stan demi stan untuk mencari salah satu judul buku klasik, saya menemukan lektur buku yang saya cari dari beberapa penerbit yang berbeda.

Kemudian, saya memilih terbitan yang telah direkomendasikan oleh seorang dosen di kuliah, dengan pertimbangan kapabilitas penahkik dan kualitas penerbitnya. Dikarenakan buku yang saya pilih jauh lebih mahal dibandingkan terbitan lainnya, seorang teman bertanya memang seberapa penting kualitas penahkik, sampai-sampai seorang rela mengeluarkan uang lebih banyak demi penahkik yang ia pilih.

Sebelum menjawab pertayaan ini, alangkah baiknya kita menelisik kembali iklim penulisan buku pada zaman dahulu. Sekarang ini, buku dengan mudah didapatkan, berbeda dengan zaman beberapa puluh tahun yang lalu dimana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memilikinya. Sebelum ada percetakan, salinan dibuat dengan tulisan tangan. Prosesnya lama dan membutuhkan banyak biaya untuk memakai jasa penyalin. Kecakapan setiap penyalin berbeda-beda sehingga naskah yang diperoleh pun beragam, seperti naskah al-Muwattha’ karya Imam Malik, ada beberapa riwayat yang ada pada saat ini. Semua ini terjadi dipicu oleh ragam kecakapan penyalin pada saat itu.

Bagi seorang Muslim, buku adalah media untuk mencari kebenaran. Setelah al-Quran dan sunah karya-karya ilmuwan Muslim klasik merupakan referensi utama untuk berhujah. Kesalahan sepele sebab kelalaian seorang penahkik bisa menimbulkan problem cukup rumit. Syekh Abdullah bin Bayyah (Anggota dewan peneliti dan fatwa di Eropa) pernah menyeru kepada para peneliti untuk meninjau ulang Fatwa Mardin Ibnu Taimiyah[1]. Hal ini ia sampaikan di Muktamar Hubungan antar-Umat Beragama yang diadakan di Turki pada 2010 silam. Dalam fatwanya, Ibnu Taimiyah menjelaskan daerah perang (dar al-harb) sebagai tempat penduduk kafir; dan daerah damai (dar al-silm) sebagai daerah penegak syariat Islam. Penjelasan ini kemudian digunakan secara reduktif oleh para ekstremis. Dengannya, mereka mengklaim negara-negara non-Muslim sebagai zona perang (dar al-harb) dan mewajibkan migrasi (hijrah) bagi Muslim dari zona perang ke wilayah damai ‘Islam’ (dar al-silm).

Atas hal ini, Syekh Ibnu Bayyah menyerukan untuk meninjau ulang fatwa tersebut dari manuskrip aslinya. Ia menduga ada keluputan fatwa ditinjau dari konteks susunan kalimat. Atas usulan tersebut, ia mendapat banyak kecaman dari kelompok-kelompok ekstrem. Ia dianggap meragukan referensi utama pergerakan mereka.

Beberapa peneliti pengkaji ulang fatwa tersebut dari manuskrip asli yang berada di Perpustakaan al-Dzahiriyah Damaskus menemukan kebenaran apa yang dipersoalkan Syekh Bin Bayyah. Ditemukan bahwa telah terjadi kesalahan kecil yang mengemuka sebab kealpaan tahkik, yaitu perubahan kata dari yu’âmil (memperlakukan) menjadi yuqâtil (memerangi)[2]. Kesalahan yang mungkin dianggap sepele ini telah diterima secara mentah dan menjadi landasan kelompok ekstrem dalam melangsungkan aksi mereka.

Untuk memperkokoh ajarannya yang rapuh secara metodologis, sebagian kelompok ekstremis rela melakukan apa saja termasuk berbohong, membunuh, tak terkecuali mempolitisasi buku-buku ilmuwan klasik yang menjadi rujukan umat dalam mengklarifikasi kebenaran. Berikut ini antara modus-modus politisasi buku yang barangkali perlu diketahui oleh para pecinta karya-karya klasik, untuk kemudian bisa lebih berhati-hati dalam mengaksesnya.

Pertama, peyelewengkan esensi karya ilmuwan klasik; baik dengan menghapus, mengubah, menambahkan dan membelokkan maksud dari artinya pada buku-buku terbitan mereka. Misal, kasus hilangnya beberapa teks secara tendensius pada kitab Ihyâ Ulûmiddîn karya Imam al-Gazali. Demikian juga dengan hilangnya beberapa Hadits di Shahîh Bukhâri dan Muslim pada terbitan tertentu.

Kedua, mendistorsi buku-buku penerbit bonafide pada platform digital milik mereka, seperti pengurangan yang ada di Maktabah Syamilah (sebuah platform digital terbesar dan terlengkap dalam pengaksesan filologi Arab). Dalam kasus ini, Syarif Hatim al-Auni seorang akademisi Arab Saudi mengaku bahwa dirinya tidak melegalkan jurnal-jurnal akademik yang hanya merujuk pada platform digital seperti Maktabah Syamilah. Ia berujar bahwa dirinya pernah meneliti sebuah hukum yang berkaitan dengan tabaruk, dengan metode mengkomparasikan beberapa referensi untuk dikaji. Saat mulai membandingkan beberapa lektur kitab, ia menemukan pengurangan teks yang cukup signifikan dalam sebuah platform digital dari buku analog miliknya. Padahal, itu dicetak dan ditahkik oleh penerbit yang sama, dengan tahun penerbitan yang sama. Selain kedua modus ini, masih banyak cara kaum ekstremis dalam mepertahankan keyakinan serta ajarannya. Dari kejadian-kejadian inilah, hadirnya penahkik kapabel dalam penerbitan karya-karya ilmuwan klasik menjadi penting.

Kajian tentang manuskrip biasa disebut sebagai filologi. Politisasi filologi bukanlah sesuatu yang baru, melainkan sudah terjadi selama berabad-abad. Seiring semakin berkembangnya zaman dan media,  penahkikan karya-karya klasik sudah memiliki metodologinya sendiri. Meski demikian, setahu saya hanya sedikit penerbit yang memperhatikan kaidah-kaidah tahkik sehingga produk-produk yang dihasilkan jauh dari kata objektif.

Untuk memilih buku klasik setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya pemilihan penahkik. Dalam memilih penahkik, pertama-tama pastikan penahkik tersebut memiliki reputasi yang baik dari segi keilmuwan. Tinjaulah ulang kualifikasi akademisnya, pengalaman penelitian, dan pekerjaan sebelumnya. Yang tak kalah penting ialah perhatikan karya-karya sebelumnya yang telah dia tahkik. Baca juga ulasan-ulasan dari para ilmuwan dan akademisi mengenai kredibilitas penahkik tersebut. Pastikan penahkik menerapkan metodologi penelitian yang tepat serta memeriksa dengan cermat autentikasi manuskripnya. Terakhir, tinjau apakah hasilnya diakui dan diterima oleh komunitas ilmiah. Penahkik hebat umumnya memiliki reputasi yang bagus di kalangan ilmuwan di bidangnya.

Tidak hanya memilih penahkik, memilih penerbit sangatlah penting bagi para peminat buku-buku klasik, sebab tidak semua penerbit dapat dipercaya. Beberapa penerbit mengumpulkan naskah melalui pihak ketiga yang akrab disebut makelar. Pilihlah penerbit yang sudah dikenal rutin menerbitkan buku berkualitas. Penerbit buku berkualitas terlihat dari fokus topik penerbitan maupun ketatnya diksi dari buku-buku yang diterbitkan olehnya.

[1] https://ar.wikipedia.org/wiki/فتوى_ماردين

[2] https://m.elwatannews.com/news/details/186539

Achmad Zaini Djafar

Mahasiswa Ushuluddin Universitas al-Azhar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights