Warta

Mabuk Palestina; Merawat Ingatan tentang Palestina Lewat Medium Buku

Pasca meletusnya Operasi Badai al-Aqsha pada Sabtu, 8 Oktober 2023, kondisi Palestina kian mengkhawatirkan. Sampai detik ini, warga Palestina masih harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah pelbagai krisis dan bahaya yang menghantui. Sebagai bentuk keikutsertaan perjuangan Palestina, sejumlah komunitas di Masisir meliputi Macabook Club, Art Theis de Cairo, Arsipin dan Gusdurian Kairo mengadakan aksi solidaritas bersama dengan mengangkat tagar Menolak Memorisida. Aksi yang dikemas dalam serial Layla Palestina itu, memuat tiga kegiatan selama sepekan, berupa Kicau Layar Tancap Palestina (Kilat Palestina), Masisir Baca Buku Palestina (Mabuk Palestina) dan Pesta Penyair Palestina (Petir Palestina).

Sebagai lanjutan kegiatan sebelumnya yakni Kilat Palestina, Layla Palestina kembali hadir membawakan Mabuk Palestina yang diselenggarakan di Aula Pasanggarahan KPMJB, pada Jumat, 22 Maret kemarin. Kegiatan tersebut berupaya untuk mendiskusikan sekuel buku “Gaza dalam Krisis” milik analis politik ternama, Noam Chomsky dan sejarawan Timur Tengah, Ilan Pappe. Dua buku yang dipilih untuk didiskusikan adalah One Palestina dan Ten Myths About Israel. Turut hadir sebagai pembedah sekaligus pemantik diskusi, Ahmad Faishol Abimanyu (Koordinator Lakpesdam Mesir 2023) dan Muhammad al-Fayyadh Maulana (Sekretaris PC GP Ansor Mesir 2023-2025).

Sebelum memasuki sesi pembedahan, Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P., Ph.D., berkesempatan untuk memberikan sambutan atas nama Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kairo. Pada pembuka sambutannya, beliau menyampaikan bahwa Palestina bukan lagi topik yang hanya menjadi konsumsi di dunia Islam saja, tetapi juga menjadi perbincangan di dunia internasional. Figur yang mengambil program Post Doctoral di Universitas Kairo tersebut menerangkan bahwa berbicara soal Palestina tidak hanya kewajiban beragama, tetapi juga kewajiban berkemanusiaan. Noam Chomsky yang tidak lain merupakan tokoh intelektual berkebangsaan dan berdarah Amerika telah membuktikan hal tersebut lewat karyanya, One Palestina.

Acara berlanjut ke sesi pembedahan yang dimukadimahi oleh Ahmad Faishol Abimanyu. Pria yang akrab disapa Abim itu mengurai sepuluh mitos yang sampai kini digunakan sebagai prinsip dasar untuk menopang eksistensi Israel. Sepuluh mitos yang konon dipelihara itu dimenangkan dan disebarluaskan melalui keran media yang dibuka oleh Israel. Sehingga, pada gilirannya, mitos-mitos tersebut berhasil menggeser fakta-fakta yang selama ini tidak terbaca oleh dunia. Di antara mitos tersebut adalah narasi bahwa Palestina adalah tanah tanpa penduduk atau penduduk tanpa tanah. Selain itu, juga terdapat mitos yang dikembangkan bahwa Zionisme sama halnya dengan Yahudi. “Nah, ini juga mitos untuk mengandaikan bahwa Zionisme sebagai entitas politik baru itu mewadahi seluruh Yahudi yang ada di dunia,” ungkap Abim.

Setelah pemateri pembedah pertama selesai, moderator mempersilakan pembedah kedua,  Muhammad al-Fayyadh Maulana untuk mengambil alih kesempatan berbicara. Sebelum melanjutkan materi, ia memberikan pantikan berupa pertanyaan kepada peserta untuk mengetahui sejauh mana Masisir intens mengikuti isu-isu Palestina. Selanjutnya, al-Fayyadh mengatakan bahwa sebagai mahasiswa, kita dapat berdiskusi panjang lebar tanpa landasan sistemik yang jelas. Untuk memiliki landasan itu, jelas al-Fayyadh, kita harus membaca buku. Bergeser membahas topik utama, ia mulai menjelaskan secara runtut sisi historis yang berkaitan dengan klaim kepemilikan tanah Israel atas Palestina.

Acara dipungkasi dengan sesi tanggapan dan tanya jawab dari peserta diskusi. Beberapa peserta saling bergantian untuk mengutarakan pendapat, pandangan dan pembacaannya seputar isu Palestina. Harapannya, serial kedua Layla Palestina bertajuk Mabuk Palestina ini dapat menjadi sebuah medium untuk meningkatkan kesadaran terkait kondisi yang terjadi di Palestina dan membangun kembali opini publik yang lebih peduli terhadap isu Palestina. Untuk sekadar diketahui, bahwa puncak Layla Palestina yang berisi bincang lanskap kesusastraan Palestina, akan diadakan pada Senin, 25 Maret mendatang, di Nadi al-Rubu’ bakda Tarawih. (Jihan)

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights