Warta

Petir Palestina: Puncak Layla Palestina dan Perlawanan Melalui Puisi

Seorang warga Palestina berkata kepada salah satu media Turki, Anadolu, beberapa tempo lalu, “Ketika bom-bom tentara Israel mendarat, kami mulai menuliskan nama kami di tangan kami dan nama anak-anak kami di lengan mereka. Itu semua kami lakukan agar tubuh kami dapat dikenali jika bom-bom itu menghancurkan tubuh kami.”

Ucapan di atas adalah salah satu gambaran kejadian yang selalu dialami oleh warga Palestina. Getir terasa ketika bau darah dan tangisan anak kecil beradu dengan asap kendaraan mengepul di mana-mana. Menyadari hal demikian, tak ayal para sastrawan kelahiran Palestina begitu ciamik memadukan karya mereka dengan perasaan warga Palestina yang begitu mendalam. Mahmoud Darwish, Fadwa Touqan, Haroun Hasyim Rasyid, Gassan Kanafani merupakan para penyair yang tidak lelah menyerukan kondisi warga dan para syuhada Palestina melalui puisi.

Barangkali itulah cara puisi bekerja. Ia mampu menusuk ingatan warga dunia dengan harapan kita juga ikut merasakan rasa sakit yang dialami warga Palestina. Seolah puisi ingin menyampaikan pesan tentang kekerasan, pengusiran, dan pembunuhan. Menyadari hal ini, sejumlah komunitas Masisir di Kairo meliputi Macabook Club, Art Theis de Cairo, Arsipin, dan Jaringan Gusdurian Kairo memilih Petir “Pesta Penyair” menjadi acara Puncak Layla Palestina.

Setelah sukses menyelenggarakan Kilat Palestina, Mabuk Palestina, Layla Palestina hadir dengan malam puncak bernama Petir Palestina. Acara yang diselenggarakan pada hari Senin, 25 Maret 2024 itu dihadiri oleh sekitar 80-an orang. Rumah Budaya Nadi Rubu’ yang menjadi lokasi kegiatan dipermak dengan atribut brosur palestina dan nyala lilin yang menjadi penanda bermula dan berakhirnya acara.

Konsep Petir Palestina cukup sederhana, peserta mendeklamasikan puisi bertemakan Palestina dengan pembacaan beruntun tanpa menghendaki jeda waktu antara puisi satu dengan lainnya. “Sebagaimana nama acara, pembacaan puisi malam nanti mengambil konsep kemunculan petir yang muncul silih berganti,” ucap Irfan, salah satu Panitia Layla Palestina, sebelum acara dimulai.

Sebelum pembacaan puisi, Nikmatul Istiqomah, salah satu anggota Komunitas Sifaratul Adab Kairo, membuka acara dengan menjelaskan lanskap kesusastraan Palestina. Sesi ini sangat penting mengingat salah satu pembabakan revolusi sastra di tanah Palestina muncul karena dampak penjajahan Israel di Palestina. “Penyair Palestina menghadapi dua realitas. Pertama realitas negara Israel yang mereka diberlakukan secara tidak adil dan menuntut hak atas minoritas Yahudi. Kedua, realitas gerakan nasionalis Arab yang perlu menyuarakan kemerdekaan dan kebanggaan terhadap arabisme,” ungkap Nikmatul Istiqomah di pemaparannya.

Antusias peserta sangat tampak dan pecah ketika para peserta mengindahkan anjuran panitia untuk menyiapkan puisi masing-masing. Luapan emosi, kemarahan, kesedihan, dan berbagai ekspresi para peserta ketika membacakan puisi menambah momen sakral dan emosional Petir Palestina malam itu.

Acara yang berlangsung selama empat jam ini ditutup dengan pembacaan doa dan foto bersama sembari meneriakkan jargon Layla Palestina. “Menolak Memorisida!” merupakan jargon sekaligus misi yang terucap dari setiap mulut peserta. Dengan kepalan tangan ke atas dan teriakan lantang, peserta yang hadir memiliki angan yang sama dengan rakyat Palestina: hidup damai dengan udara kemerdekaan dan terus mengumpulkan ingatan tentang penindasan yang terjadi di Palestina. (Azmil)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights