Warta

Saharat Ramadaniyah: Pergelaran Kebudayaan Indonesia yang Heterogen

Gemuruh sorak dan tepuk tangan audiens membuat pecah acara pergelaran budaya Indonesia yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo. Pergelaran yang bisa disebut dengan Saharat Ramadaniyah ini digelar pada 1 April 2024 di Small Hall, Cairo Opera House, Zamalek. Acara ini turut dihadiri oleh Dubes Indonesia untuk Mesir, Dr. Lutfi Rauf, Koordinator Fungsi Pensosbud, Rahmat Aming Lasim, Atdikbud, Abdul Muta’ali, serta segenap tamu undangan dari beberapa negara sahabat.

Dalam acara Saharat Ramadaniyah yang terlaksana selama 1 jam itu, audiens disuguhi berbagai penampilan kebudayaan berupa tarian dan lagu dari pelbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Pergelaran budaya ini dipertunjukkan oleh segenap mahasiwa Indonesia yang berada di Mesir (Masisir). Kendati demikian, penampilan ini dilakukan layaknya penari profesional. “Meski di tengah lelahnya menjalani ibadah puasa, kami tetap berupaya dan berlatih semaksimal mungkin untuk memeriahkan acara ini,” ujar salah satu penari dalam acara ini.

Penampilan budaya seperti Saharat Ramadaniyah biasanya digelar setahun sekali oleh KBRI. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah “Indonesia: Heaven on Earth”. “Tema ini memvisualisasikan bahwa negara Indonesia merupakan kepingan surga yang ada di bumi. Hal ini bisa kita lihat dari keindahan alamnya dan keberagaman budaya yang ditampilkan di acara Saharat Ramadaniyah ini,” tutur Dubes Indonesia untuk Mesir, Dr. Lutfi Rauf, usai diwawancarai oleh kru Bedug.

Pergelaran budaya Indonesia ini juga merupakan ajang pengenalan budaya Indonesia yang heterogen ke kancah internasional. Hal ini diafirmasi oleh Koordinator Fungsi Pensosbud, Rahmat Aming Lasim. “Ya, tentu event ini bukan hanya sekadar hiburan bagi penonton, melainkan juga sebagai pengenalan budaya kepada warga Mesir bahwa Indonesia memiliki budaya yang beragam,” tutur Pak Rahmat usai acara rampung.

Secara garis besar, pergelaran kebudayaan ini menjadi langkah strategis yang dilakukan oleh KBRI Kairo dalam menjalin hubungan erat dengan negara Mesir. Ini terbukti dengan keikutsertaan warga pribumi dalam acara ini. Kendati demikian, menurut saya, acara seapik ini mestinya digelar di tempat yang lebih luas agar dinikmati oleh khalayak banyak. Seperti namanya, Small Hall merupakan teater yang hanya memuat ratusan audiens. Ribuan Masisir serta pribumi lainnya perlu menikmati pergelaran budaya Indonesia untuk menguatkan hubungan diplomatis antara Indonesia dengan Mesir. (Riyan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Verified by MonsterInsights