Warta

Sifaratul Adab Sadarkan Urgensi Susastra Arab dengan Acara Tadarus Sastra

Spread the love

Pengkajian susastra Arab di kalangan Masisir terbilang sedikit. Meskipun ada, gaungnya akan cepat memudar seiring nyaringnya gaung pengkajian ilmu-ilmu alat (nahu, sharraf, balagah dll.) dan ilmu rasional (filsafat dan ilmu kalam). Minimnya komunitas sastra dan program kerja lembaga organisasi yang berkaitan dengan pengkajian sastra, termasuk salah satu faktor yang melatarbelakangi fenomena tersebut. Walau demikian, kesadaran terhadap urgensi pengkajian susastra Arab di kalangan Masisir kiranya masih menemui setitik harapan. Hal ini dibuktikan oleh komunitas Sifaratul Adab, sebuah komunitas susastra Arab yang berdiri pada Agustus 2020, yang berhasil menghelat acara Tadarus Sastra dengan tajuk “Serial Pembacaan Puisi-Puisi Muallaqat” pada Jumat 30 September 2022.

Sifaratul Adab memproyeksikan Tadarus Sastra sebagai ajang ¬show up ke publik Masisir, guna mengenalkan komunitas ini dan puisi Arab klasik. Terlebih lagi, dalam acara ini Sifaratul Adab menggandeng kekeluargaan KPMJB yang memiliki anggota terbanyak di antara kekeluargaan lainnya, berhasil menambah antusias Masisir untuk turut berpartisipasi. Terhitung 46 pendaftar mengikuti acara tersebut di Aula Pesanggrahan KPMJB.

Acara Tadarus Sastra ini dimulai pada pukul 15.30 WLK dengan diawali dengan tadarus bersama puisi-puisi Imru’ul Qais yang berjumlah 82 bait yang dipandu oleh Moh. Ma’ruf Malik al-Faroby, ketua Sifaratul Adab. Lalu, dilanjutkan dengan pembacaan terjemah puisi-puisi Imru’ul Qais yang dibacakan oleh A. Basiruddin Salim, Lc. Mahasiswa pascasarjana kritik sastra Arab ini membacakan terjemah puisi buah karya para anggota Sifaratul Adab.

Selanjutnya, A. Satriawan Hariadi, Lc. MA., sebagai bintang tamu di acara Tadarus Sastra ini memberikan tausiah sastra dengan tema “Puisi Arab Pra-Islam; antara Objek Pemalsuan dan Bukti Kemukjizatan al-Quran”. Tausiah sastra ini berlangsung sekitar 35 menit. Dimana Mas Hariadi—sapaan akrabnya—membeberkan bukti-bukti autentisitas puisi Arab Pra-Islam sebagai bukti kemukjizatan al-Quran berikut tuduhan orientalis mengenai adanya wacana pemalsuan terhadap puisi-puisi tersebut.

Di samping itu, yang tak kalah menarik adalah Mas Hariadi yang berhasil menyelesaikan studi magisternya pada 30 Maret 2022 di bidang Sastra Arab dan Kritik Sastra Arab. Ia mengupas beberapa referensi yang memuat analisis terhadap puisi-puisi Arab pra-Islam menggunakan pendekatan teori kritik sastra Arab klasik. Sebut saja, semisal al-Syi’ru al-Jahîlî; Dirâsat fî Manâzi’I al-Syuarâ karya Dr. Muhammad Abu Musa, berikut karya-karya Dr. Hamasah Abdul Latif dan karya Nasirudin al-Asad.

Di penghujung tausiyah, Mas Hariadi menutupnya dengan statement yang ciamik. Ia berkata, “Bersyukurlah kalian yang memulai karir intelektual dengan mendalami susastra Arab. Sebab pendahulu kita, para ulama terkemuka seperti Imam Syafi’ie, Imam Ghazali sebelum menjadi ahli fikih, mereka memulai dengan belajar sastra, menghafal dan menggubah puisi.” (Al)

 

Facebook Comments

Back to top button