Humaniora

Berpapasan dengan Pastor di Gang Menuju Rumah

Saat bertelepon dengan keluarga di rumah, saya bercerita bahwa apartemen saya bersebelahan dengan gereja. Sepuluh menit berjalan kaki dari masjid dan kampus tua al-Azhar, Darrasah menuju rumah. Rumah saya dan gereja hanya dipisahkan oleh seruas gang kecil khas pemukiman padat di kota-kota besar. Setiap Ahad pagi, lonceng gereja berbunyi nyaring. Ia terdengar begitu percaya diri meski ada makam Muhammad, putra Sahabat agung Abu Bakar al-Shiddiq yang berdiri di antara rumah dan gereja. Pada kesempatan lain, saya beberapa kali berpapasan dengan pastor-pastor berjubah hitam berkalung salib. Begitu berpapasan di belokan gang, tak jarang saya berhenti dan membungkuk. Refleks.

Selain lonceng, dalam empat kali sehari—tanpa Subuh—saya biasa mendengar suara seorang kakek tua mengajak salat melalui pengeras suara. Suara itu berasal dari masjid di samping gereja. Saya pernah naik ke atap rumah untuk melihat seberapa berjarak masjid itu dari gereja. Dari atas, saya hanya bisa melihat satu bangunan luas dan memanjang berwarna coklat. Dari kubah kecil di mana salib tertancap—kini terhalang pembatas biru—, saya mengukur kira-kira di mana persisnya masjid itu berdiri. Tak ada jarak. Masjid dan gereja ialah ruangan yang dipisah oleh sepagar tembok.

Mendengar cerita ini, tanggapan keluarga di rumah bermacam-macam. Ibu, kawan cerita terdekat saya sering takjub—meski saya hampir bercerita di setiap kesempatan bertelepon. Embak dan bapak mengucap hamdalah. Damai mendengar hal yang mungkin tak pernah kita temui di Indonesia. Kakak laki-laki menanggapi dengan bertanya soal yang bisa kita tebak bersama: kerukunan antar-iman di Mesir.

Untuk kakak, saya dengan senang hati mengenalkan kekerabatan Grand Syekh Ahmad Tayyib dengan Paus Tawadros II, pimpinan gereja Koptik Mesir. Tak luput, saya kabarkan bahwa Grand Syekh selalu mengirim ucapan selamat Natal setiap tahun kepada pimpinan gereja Koptik. Yang terbaru, Grand Syekh bersama Paus Fransiskus (Paus Gereja Katolik) menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia di Dubai pada 2019 lalu. Sebuah dokumen terpenting abad ini yang hadir untuk menumbuhkan semangat persaudaraan di antara manusia, siapa saja.

Saya bersyukur karena tidak ada yang mengkhawatirkan apakah imanku berkurang atau tidak. Mereka juga tak keberatan ketika saya refleks membungkuk dan diam saat berpapasan pastor. Refleks. Apa boleh buat?

Sadar bahwa saya sedang tidak berhadapan dengan syekh atau kiai, sejenak saya merenung. Apakah membungkuk dan diam mempersilakan pastor lewat merupakan tindakan tepat? Bagaimana semestinya saya bersikap?

Dalam proses menenangkan batin ini, saya teringat bahwa Nabi SAW pernah berdiri dari duduknya saat melihat jenazah seorang Yahudi yang akan dikebumikan, sebagaimana riwayat Sahabat Jabir bin Abdullah. Sahabat Anas bin Malik juga meriwayatkan bahwa suatu hari, Nabi SAW membutuhkan air minum. Seorang Yahudi lantas datang membawakan air untuknya. Nabi SAW menerima air itu dan mendoakan, “Semoga Allah membaguskanmu.” Bahkan hingga akhir hayatnya, Nabi SAW tercatat masih memiliki hutang kepada seorang Yahudi di Madinah. Praktis, sirah Nabi bersama orang-orang Ahli Kitab penuh dengan semangat cinta-kasih. Nabi SAW hidup berdampingan, biasa saja dengan mereka.

Bagi seorang yang tinggal di antara masjid dan gereja seperti saya, kisah ini tepat membidik jantung dilema yang saya alami. Doa Nabi atas pemberi air dan penghormatan atas jenazah merupakan perbuatan yang mustahil muncul dari hati seseorang yang dipenuhi kebencian dan iri-dengki. Nabi SAW meneladani kita agar membalas kebaikan siapa saja yang berbuat baik dan menghormati jenazah; siapa saja yang meninggal, apapun agamanya. Jenazah saja dimuliakan, apalagi yang masih hidup?

Jika kita telisik lebih dalam, kisah hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain tidak hadir dalam dakwah Nabi SAW periode Makkah. Hal ini dikarenakan Makkah ialah fase awal masuknya ajaran monoteis ke masyarakat politeis dan fanatik. Konflik meruyak. Nabi dianggap menghina al-Lat, al-Uzza dan Manat; tuhan favorit di antara sesembahan yang memenuhi setiap sudut kota. Harga diri penduduk Quraisy Makkah terasa terinjak saat ayat al-Quran turun, menyatakan, “… Kalian dan nenek moyang kalian berada dalam kesesatan yang nyata.”

Kaum Quraisy naik pitam. Mereka memerangi dakwah Nabi SAW dan pengikutnya. Puncak kebencian mereka berujung pada percobaan pembunuhan Nabi SAW. Mereka menganggap, ajaran Islam bisa musnah seturut meninggalnya pembawa ajaran itu. Percobaan pembunuhan gagal. Nabi hijrah ke Madinah. Di tanah baru ini, Nabi dan Muhajirin disambut dengan suka-cita kaum Anshar, penduduk Madinah. Kehidupan baru dimulai. Aus dan Khazraj berdamai, Anshar dan Muhajirin bersaudara, orang-orang Nasrani dan Yahudi (Ahli Kitab) hidup berdampingan, saling berinteraksi dalam semangat persaudaraan dan kebersamaan.

Kini, Nabi SAW telah mangkat. Risalah cinta-kasih Nabi SAW dilanjutkan oleh para ulama—pewaris para nabi. Sebagaimana Grand Syekh dan Paus Fransiskus berpelukan, menunduk dan membuka jalan bagi pastor tidak menguras iman, bukan?

Tulisan ini tayang perdana di muslim-elders.or.id

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Hamidatul Hasanah

Alumni Krapyak, Yogyakarta. Editor buletin Bedug. Koord. LMI PCINU Mesir. Penikmat serial Ertugrul, Sultan Abdul Hamid II dan film-film Timur Tengah.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker