Etalase

Buletin Bedug Edisi 27

5/5 (1)

Assalamualaikum, apa kabar sobat Bedug? Semoga senantiasa sehat dan bahagia. Alhamdu-lillah, puji syukur kita haturkan ke haribaan Allah SWT atas limpahan nikmat dan karunia-Nya, sehingga kita bisa menjalankan aktivitas sehari-hari. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, Sahabat serta para pengikutnya. Semoga kita semua ter-masuk barisan umatnya yang kelak mendapatkan syafaat di hari akhir nanti.

Pada edisi sebelumnya, buletin Bedug menyajikan tema Revitalisasi Pluralisme. Perseteruan antara “Cebong” dan “Kampret” dalam pemenangan capres-cawapres di pesta demokrasi pada April 2019 menyebabkan naiknya eskalasi emosi masyarakat. Naiknya eskalasi emosi yang ber-ujung pada saling sikut di antara masyarakat telah mencoreng wajah pluralitas Indonesia. Hal ter-sebutlah—setidaknya menurut kami—yang menjadi salah satu titik relevansi untuk revitalisasi visi pluralisme.

Berbeda dengan sebelumnya, kali ini buletin Bedug ingin menyikapi bencana di era modern. Mencoba melakukan penjernihan nalar antara perspektif sains dan agama. Saat ini, fenomena bencana alam tampak tak henti-henti mengguncang bumi pertiwi. Mulai dari gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB), tsunami di Palu, hingga banjir serta longsor di Padang. Kejadian tersebut berakibat pada banyaknya korban tewas, luka-luka serta kerugian material yang tidak sedikit

Beragam perspektif masyarakat timbul menyikapi bencana tersebut. Ada yang me-nanggapinya secara saintis; bencana alam beruntun itu disebabkan oleh pergerakan atau patahan kerak bumi, letusan gunung berapi bawah laut, atau curah hujan yang tinggi sebagaimana paparan dari BMKG. Ada pula yang menanggapi secara agamis, bahwa bencana alam merupakan cobaan dari Tuhan kepada makhluk-Nya agar senantiasa mawas diri. Namun, di balik dua model tangga-pan muncul sebagian tanggapan yang kurang logis dan tidak manusiawi mengenai bencana alam. Seperti menyangkutpautkan bencana alam dengan isu-isu perpolitikan, khususnya yang berkaitan dengan pilpres 2019 mendatang. Para capres-cawapres memanfaatkan bencana untuk kampanye terselubung melalui kegiatan bakti sosial. Terlebih lagi, tim kampanye memanfaatkan momen bencana alam untuk menjatuhkan lawannya. Seperti kubu “Kampret” yang menyatakan bahwa bencana beruntun tersebut akibat dari pihak pemerintah mempersekusi ulama (Sugi Nur Ra-hardja). Sungguh biadab bagi siapa pun yang memanfaatkan bencana untuk kepentingan pribadi maupun kelompok.

Menjelang pilpres 2019, masing-masing kubu menggunakan penafsiran ngawur untuk men-jatuhkan lawan. Di titik ini, bagaimana gambaran polarisasi di antara kedua perspektif di atas (agama dan sains)? Apa keduanya bertentangan? Kemudian bagaimana solusi menemukan jalan tengah antara keduanya?

ilatarbelakangi oleh fenomena dan pertanyaan di atas, upaya penjernihan nalar antara per-spektif sains dan agama menjadi titik utama pembahasan pada tema kali ini. Para penulis berusaha menganalisa dan menjernihkan dikotomi tersebut serta melakukan kontekstualisasi sesuai dengan rubrik yang tersedia. Sehingga, sikap yang proporsional dalam menanggapi bencana, baik perspektif sains maupun agama dapat mengurangi keruhnya cara berpikir kita.

Walhasil, setiap pandangan mengenai bencana memiliki konsekuensi moral masing-masing yang saling melengkapi. Bagaimana kita menanggapinya merupakan sebuah upaya penjernihan nalar. Tabik.

 

Kru Buletin Bedug

Download PDF

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Artikel Terkait

Cek Juga

Close
Back to top button
Close