Etalase

Buletin Bedug Edisi 31

5/5 (1)

Salam seni dan budaya, Sobat Bedug! Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan nikmat dan rahmat-Nya. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, Sahabat dan para pengikutnya. Semoga kelak kita mendapatkan syafaat dari beliau, amin. Sebagaimana kita sadari, kata kebencian memiliki konotasi negatif, terlebih ketika menengok insiden-insiden yang dilatarbelakangi olehnya. Kiranya tidak berlebihan untuk menjadikan kasus penembakan dan penyerangan dua masjid di Selandia Baru yang bermotifkan kebencian sebagai contoh. Walaupun, tidak dapat dinafikan bahwa manusia membutuhkan kebencian sebagai instrumen dalam pengamalan nahi munkar. Dengan itu, tema pada edisi sebelumnya, “Komplikasi Kebencian” adalah sebuah usaha kru buletin Bedug dalam mengulas kebencian dari berbagai sisi, serta bagaimana batasanbatasan dalam membenci. Saat ini, masyarakat kita sedang ramai membicarakan Revolusi Industri 4.0. Sebelumnya, mari kita tengok kembali Revolusi Industri 3.0 yang ditandai dengan penemuan alat komputer, seiring perkembangannya—mulai dari pengecilan ukuran, penemuan jaringan internet, dan sebagainya—telah membuka lebar peluang terjadinya transaksi budaya. Masuknya budaya Barat (westernisasi) atau Timur (arabisasi) seakan mendapatkan sambutan yang baik oleh sebagian masyarakat Indonesia. Di samping itu, sebagian yang lainnya kukuh untuk mempertahankan budaya leluhur, kemudian memilih untuk mengisolasi diri dengan menolak segala bentuk produk modernisasi. Kampung Naga di Tasikmalaya, atau Suku Baduy di Banten kiranya dapat dijadikan contoh dalam hal ini. Seiring berjalannya waktu, setiap unsur kebudayaan saling memengaruhi satu sama lain, hingga pada akhirnya fenomena ini mampu mengubah keadaan sosial masyarakat. Hal tersebut juga berlaku pada Revolusi Industri 4.0. Menyadari besarnya dampak dari pengaruh revolusi industri ini, Presiden Joko Widodo memberi arahan agar masyarakat bersiap untuk mengantisipasi fenomena tersebut. Sehingga tak heran apabila peluncuran peta jalan program Making Indonesia 4.0 dijadikan sebagai salah satu agenda nasional oleh pemerintah pusat. Sayangnya, keseriusan tersebut terkesan mengesampingkan khazanah kebudayaan di Indonesia. Ekses budaya individualistik bisa saja merongrong budaya musyawarah yang terbangun di antara warga, misalnya. Dari bentuk pengaruh-pengaruh negatif modernisasi tersebut, timbul berbagai kegelisahan di benak kami. Apakah untuk mempertahankan budaya harus menolak pelbagai bentuk modernisasi? Apakah mempertahankan kebudayaan justru dapat membuat manusia tertinggal? Apakah budaya dapat menanggulangi dampak negatif dari skema Revolusi Industri? Apakah budaya dapat menanggulangi kemerosotan moral manusia? Lantas, bagaimana seharusnya kita mempertahankan budaya di tengah arus revolusi saat ini? Dari pertanyaan-pertanyaan elementer tersebut, pada edisi kali ini, kru buletin Bedug mengulas perihal budaya dengan tema “Rekonstruksi Budaya” di era Revolusi Industri 4.0. Kiranya usaha pada tulisan kami dapat menjadi bahan introspeksi dan refleksi. Selamat membaca!

Kru Buletin Bedug

 

DOWNLOAD GRATIS!

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tampilkan Lebih Banyak

Artikel Terkait

Cek Juga

Close
Back to top button
Close