Opini

Corona dan Kebangkitan Alam

Saat ini, dunia masih disibukkan kehadiran pandemi virus Corona Covid-19. Kehadirannya telah memakan korban dengan korban lebih dari 2,9 juta jiwa dan berpotensi terus bertambah. Serangan virus Corona tersebut tidak hanya menyerang manusia, namun juga berimbas ke infrastruktur peradaban seperti ekonomi, politik dan tatanan sosial di berbagai negara. Tampaknya, pandemi ini kini telah menjadi “kiamat kecil” bagi manusia pada awal tahun 2020 dan (diprediksi) imbasnya akan berakhir hingga tahun 2022.

Akan tetapi, ada perkembangan menarik di tengah kecamuk pandemi, yaitu terkait kondisi alam. Terlihat seakan-akan virus tersebut merupakan rahmat bagi alam karena berhasil menghentikan secara paksa seluruh kegiatan industri. Hal tersebut setidaknya saya rasakan betul, karena biasanya awal puasa Ramadlan di Mesir selalu diterjang teriknya sinar matahari dan udara yang panas. Kini, sinar matahari tidak terik dan udara segarnya seolah menjadi hadiah dari virus Corona kepada penduduk negeri Kinanah dalam mengawali ibadah puasa. Atas dasar fenomena tersebut, saya akan membahas interaksi antara manusia dan alam, beserta kondisinya pada masa pra-corona hingga kemunculannya di tulisan kali ini.

Alienasi antara Manusia dan Alam
Sudah jamak diketahui, hubungan manusia dan alam pada masa pra-corona ialah simbiosis parasitisme, dimana manusia menganggap alam sebagai barang (goods) yang dapat diperlakukan semena-mena di bawah bendera kapitalisme. Atas nama akumulasi keuntungan (capital gain), manusia terus-menerus mengeruk kekayaan alam melalui penambangan, perikanan, pertanian yang tidak ramah lingkungan dan seterusnya. Timbal balik yang diberikan manusia justru membunuh ekosistem alam, yakni pembuangan limbah berbentuk cairan, asap, pantulan sinar matahari dan lain-lain yang menyebabkan polusi. Dari sini, kita bisa melihat betapa kejamnya manusia dalam memperlakukan alam.

Interaksi antara manusia dan alam tersebut tidak lahir dari ruang kosong. Karl Marx dalam artikelnya yang berjudul “The Universality of Man” menyatakan, “Secara praktis, manusia memanifestasikan alam sebagai substansi di luar dirinya (inorganic body) yang berarti, sebagai manifestasi kehidupan yang menemaninya dan sebagai benda yang menjadi alat untuk menjaga keberlangsungan hidupnya. Bisa dipahami bahwa manusia dan alam memiliki keterkaitan erat dalam kehidupan sehari-hari dalam dua bentuk.

Pertama, sebagai manifestasi kehidupan kehidupan yang menemaninya. Maksudnya, alam merupakan perwujudan diri manusia dalam sebuah ekosistem dunia yang memiliki hubungan timbal balik setara. Kesetaraan yang dimaksud adalah ketergantungan di antara keduanya dengan kondisi saling menguntungkan. Manusia membutuhkan alam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan alam menerima kehadiran manusia sebagai lambang keseimbangan ekosistem bersama dengan makhluk lainnya. Dengan demikian, hubungan manusia dan alam bersifat dialog yang saling memberikan efek antar satu sama lain.

Kedua, sebagai alat (tools) untuk menjaga keberlangsungan hidup manusia. Maksudnya, seluruh aspek hidup manusia bergantung kepada alam yang memberikan bahan siap olah untuk dimanfaatkan. Bahan-bahan siap olah tersebut antara lain pohon (kayu), kapas (pakaian), hewan (makanan) dan lain-lain yang kemudian diproduksi oleh manusia menjadi benda siap konsumsi. Bisa dikatakan, keberlangsungan manusia bergantung pada tingkat konsumsinya terhadap alam di sekitarnya.

Akan tetapi, manusia modern mereduksi hubungannya dengan alam hanya sebatas sebagai alat (tools) untuk memenuhi kebutuhan hidup yang digarisbawahi oleh Karl Marx dalam bukunya “The Capital” sebagai sumber kekayaan (the source of all wealth). Manusia menjadikan dirinya sebagai pusat kehidupan (the centre of life circle) dengan kedudukannya sebagai penguasa alam semesta sehingga menganggap makhluk di luar dirinya hanya sebagai pelengkap dari keberadaannya. Melalui pemahaman tersebut, terjadilah pemisahan atau alienasi manusia terhadap alam yang semula menjadi bagian dari dirinya dan mengubah pola interaksi antara keduanya menjadi monolog di bawah kuasanya. Akibatnya, alam diperlakukan selayaknya benda mati yang terus-menerus diperas isinya tanpa memikirkan nasib dan kondisinya. Makhluk hidup lainnya seperti hewan, tumbuhan dan entitas hidup lainnya dicap sebagai makhluk kelas dua yang keberadaannya dimarginalkan hanya untuk pemenuhan kebutuhan semata.

Hal tersebut dibuktikan oleh dua orang profesor bernama Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam bukunya “Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar” yang diterjemahkan oleh Pius Ginting. Pada sebuah bab berjudul “Imperatif Pertumbuhan dalam Kapitalisme”  ia mencontohkan dalam hal pertambangan batu bara yang merupakan bahan bakar termurah dengan harga 3 Dollar per juta BTU (British Termal Unit). Kebutuhan Amerika Serikat terhadap bahan bakar tersebut sekitar 70 persen untuk pembangkit listrik. Melihat begitu besarnya kebutuhan akan batu bara membuat mereka melakukan penambangan hampir setiap waktu dengan menghancurkan gunung dan mengebor lembah. Akibatnya tidak hanya mengubah struktur daratan saat penambangan, namun juga saat pemrosesan batu bara menjadi energi listrik berdampak pada polusi udara berupa karbon monoksida dan gas metan yang merusak atmosfer bumi. Kemudian limbah hasil olahan batu bara yang mengandung merkuri dilepaskan ke laut dan menyebabkan peningkatan kadar asam air laut, serta membunuh makhluk hidup di dalamnya. Contoh ini merupakan salah satu dari ratusan model eksploitasi alam beserta efek sampingnya.

Melihat kondisi tersebut, saya merasa miris menyaksikan bagaimana manusia berinteraksi dengan alam. Atas dasar pemenuhan kebutuhan perut, mereka menyiksa alam dengan bengis tanpa memberikannya hak hidup. Jika dianalogikan, seolah manusia sedang mengeksploitasi seekor sapi dengan memerah susunya dan menyayat kulitnya untuk diambil dagingnya perlahan-lahan sambil pula diminumi racun. Di sini, manusia mengambil manfaat dari alam selayaknya memerah susu dan menyayat kulit dari sapi, kemudian limbah yang sangat beracun hasil pemanfaatannya dikembalikan kepada alam seperti meminumi sapi dengan racun.

Kebangkitan Alam di Era Pandemi
Melihat kondisi alam yang begitu menyedihkan, rasanya ingin sekali untuk segera melakukan perubahan dan menghentikan kegiatan eksploitasi kekayaan alam. Namun, kenyataan bahwa saya bukan orang kaya atau pejabat yang bisa leluasa bertindak membuat putus asa dan hanya bisa berharap agar dapat berhenti sejenak. Tampaknya, harapan tersebut sedikit terkabul dengan adanya virus Covid-19 yang proses globalisasinya sangat cepat.

Meski ia begitu mematikan dan telah menginfeksi jutaan orang, namun ia setidaknya berhasil menghentikan secara total kegiatan eksploitasi alam untuk sementara waktu. Menurut John Bellamy Foster dalam buku yang sama, mengatakan bahwa salah satu cara untuk menghentikan kegiatan eksploitasi alam milik kapitalisme ialah dengan resesi ekonomi. Ketika perekonomian terkena resesi berujung pada pengurangan produksi dan transportasi, terjadi pengistirahatan sementara terhadap alam dengan berkurangnya polusi udara, kegiatan ekstraksi tambang dan seterusnya.

Begitu pula dengan yang terjadi saat ini, ketika wabah virus Corona melanda. Seluruh aktivitas ekonomi berhenti seketika untuk mengurangi angka penularan dari pandemi tersebut, sehingga menciptakan iklim yang sangat berbeda dibandingkan dengan pada masa pra-corona. Melalui tekanan dari virus tersebut, alam dapat bernapas lega untuk sementara waktu dari siksaan-siksaan proses eksploitasi alam.

Di sini, saya tidak bermaksud untuk mendukung penyebaran wabah ini yang telah mengakibatkan penderitaan terhadap manusia dari berbagai sisi. Akan tetapi, saya ingin mengajak pembaca semua untuk mengevaluasi perlakuan kita terhadap alam, sehingga dapat mengubah model interaksi yang semula destruktif menjadi konstruktif.

Wabakdu, apa yang terjadi saat ini merupakan gambaran dari potongan bait pada sebuah lagu berjudul “Berita Kepada Kawan” karangan Ebiet G. Ade yang berbunyi “Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita?” Syahdan, alam sebagaimana manusia, memiliki hak yang sama yaitu hak hidup. Oleh karenanya, perlakukanlah ia dengan semestinya.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Muhammad Fikri Zulkarnain

Redaktur Pelaksana buletin Bedug dan anggota panitia hari kiamat
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker