Opini

Demonstrasi Tetingkah, Bukan Massa dan Amarah

Presiden Prancis Emmanuel Marcon sedang berambisi memberantas Islam radikal di negaranya. Dalam berita yang dilansir oleh news.detik.com  Macron menyatakan bahwa Islam adalah agama yang sedang krisis di seluruh dunia. Untuk mempertahankan nilai-nilai sekuler dan mencegah tumbuhnya Islam radikal, ia akan mengajukan rancangan undang-undang pada Desember mendatang untuk memperkuat UU Tahun 1905 yang secara resmi memisahkan gereja dan negara di Prancis.

Di saat yang sama, Majalah satire Charlie Hebdo menerbitkan kembali karikatur Nabi Muhammad pada 1 September lalu sebagai peringatan atas kejadian pada 2015 silam. Macron membiarkan hal itu. Menurutnya, penerbitan ulang karikatur Nabi Muhamad ini tidak perlu dikecam. Kecaman terhadapnya berarti cedera atas kebebasan berekspresi.

Buntut dari penerbitan kembali kartun itu ialah terbunuhnya Samuel Paty, seorang guru sejarah oleh bocah berumur 18 tahun Abdullakh Anzorov (16/10). Hal ini terjadi sebab Samuel Paty menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dalam pelajaran kebebasan berekspresi. Mendengar hal itu, Anzorov berencana membunuh Samuel dengan meminta bantuan dari anak-anak didik Paty. Ia memberi masing-masing dari mereka Rp5 juta- Rp 6 juta (300-350 Euro).

Insiden pembunuhan yang disebabkan atas pelecahan agama Islam ini ditentang oleh presiden Prancis. Menurutnya, insiden ini terjadi karena kaum Islamis menginginkan masa depan Prancis. Macron bahkan memberi penghargaan paling tinggi negara, Legion d’honneur, untuk keluarga Samuel.

Menyoal sikap Anzorov, saya melihat bahwa rasa marah yang ia lampiaskan dengan membunuh seorang guru justru memperlihatkan sikap rigid seorang muslim. Ia salah duga jika dengan membunuh, ia telah tunai dalam mencintai dan membela Nabi. Semangat mencintai Nabi yang menggebu memang tidak akan cukup tanpa diiringi pembacaan bagaimana Nabi semasa ia hidup. Nabi yang tidak dihidupi dengan membaca sirah-sirah itu, hanya akan—meminjam diksi Yahya Cholil Staquf—menjadi barang antik-simbolik dan mudah pecah. Di dalam sirah bab ketika Nabi hijrah dari Makkah ke Madinah diceritakan bahwa setelah menerima banyak penindasan dan pengucilan dari kaum kafir Quraisy di Mekkah, Nabi memutuskan untuk hijrah ke Madinah bersama para Sahabat. Meski sudah bermigrasi, kaum kafir tetap mengejar Nabi Muhammad ke Madinah sehingga terjadilah perang Badar dan perang Uhud. Sikap Nabi Muhammad dan para Sahabat ini adalah sikap bertahan, bukan menyerang.

Turki dalam hal ini, mengatasnamakan ‘nurani umat Islam yang tersakiti’ menyeru untuk memboikot produk Prancis. Kebijakan ini terlihat heroik. Namun sejatinya, sikap penyerangan Erdogan semacam ini—dan bukan pertahanan sebagaimana kisah di dalam sirah Nabi—dilandasi oleh konflik pribadi Erdogan dengan Prancis. Kita mengetahui bahwa pada 2018, Observatory Economic Complexity merilis bahwa total ekspor Prancis ke berbagai negara muslim sebanyak US$ 41,1 miliar atau setara dengan 7,29% dari total keseluruhan ekspor negara itu, yang mencapai lebih dari 530 miliar. Jelas bahwa, pemboikotan produk Prancis yang dilakukan oleh negara-negara di Timur Tengah tidak memberi dampak signifikan untuk kemunduran ekonomi di Prancis.

Alih-alih memberi efek jera terhadap Macron, selain tidak ada manfaatnya, penyerangan ini justru memberikan dampak negatif pada karyawan-karyawan muslim yang selama ini bekerja di saham-saham Prancis yang berada di negara muslim. Mereka harus kehilangan pekerjaan di tengah krisis ekonomi karena pandemi.

Selain para pejabat, pemimpin negara, tokoh keagamaan pun turut berkomentar memberi peringatan atas arogansi Macron. Yang menarik, Grand Syekh al-Azhar Prof. Ahmad Thayyib tidak langsung menanggapi kasus itu. Ia mengambil jeda untuk mengkaji ulang permasalahan yang saling terkait dengan kasus ini seperti islamofobia, radikalisme dan politisasi agama. Karikatur yang diklaim kebebasan berekspresi, menurutnya tak lain ialah bentuk penghinaan terhadap sekitar tujuh miliar muslim di dunia.

Jika Macron menganggap karikatur Nabi sebagai kebebasan mutlak, logikanya, kenapa Macron tidak terima ketika Anzorov membunuh seorang guru di negaranya? Bukankah hal tersebut juga termasuk dari kebebasan mutlak, jika dia mengambil teori demikian? Maka seperti halnya umat Islam yang tidak setuju dengan sikap Anzorov karena telah melukai pihak lain, begitu pula dengan Macron yang seharusnya tidak menyetujui karikatur Nabi karena melukai hati umat Islam. Karena dalam kebebasan pun juga ada batasan yaitu tidak menyakiti dan merugikan pihak lain.

Macron cukup diperingatkan. Menurut saya, seperti itulah bentuk pertahanan yang baik. Kita tidak perlu memboikot atau mengampanyekan ujaran kebencian terhadap kaum Prancis. Sebab bagaimanapun, mereka tidak mengenal betul siapa Sang Nabi yang karikaturnya dipasang di gedung-gedung menjulang Prancis itu. Habib Umar menyampaikan bahwa penghinaan yang dilontarkan kepada Nabi Muhammad oleh kaum Barat adalah bentuk dari kebodohan dan kegelapan.

Macron benar, umat Islam memang sedang dalam masa krisis luar biasa. Alih-alih berdemonstrasi dengan massa, mungkin akan lebih baik jika kita mendemonstrasikan bagaimana akhlak dan sikap Nabi yang mulia. Nabi Muhammad tidak perlu dibela. Ia akan selamanya sempurna. Umat manusia saja yang salah dalam menginterpretasi kebebasan berekspresi dan kurang sempurna dalam beragama.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Zulia Misbach

Mahasiswi S1 Akidah Filsafat, Universitas Al-Azhar Mesir. Penikmat jalanan pagi.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker