Opini

Ihwal Metodologi Penulisan Sirah Nabawiah

Tentu, sejarah menjadi salah satu cabang ilmu yang sangat fundamental keberadaannya. Dengannya,  kita bisa mengambil pelajaran dan ibrah, sehingga tidak jatuh pada kegagalan ataupun kesalahan yang sama. Pun dengan pembacaaan mendalam atas sejarah (telisik fenomena, fakta dan sosio-historis masyarakat) kita bisa memperkirakan apa yang akan terjadi di waktu mendatang.

Sebagaimana kita rasakan, sejak duduk di bangku SD, kita sudah dijejali bermacam sejarah. Mulai dari bagaimana proses terbentuknya Indonesia, hingga mata pelajaran yang khusus membahas sejarah Islam secara periodik. Namun, saat itu juga kita belum sampai pada fase mempertanyakan, apakah sejarah tersebut benar-benar ada? Apakah ketersambungan sejarah tersebut bisa dipercaya? Dan apakah sejarah tersebut bisa dipastikan bersih dari subjektivitas penulis? Untuk mejawab beberapa pertanyaan tersebut, penting sekali bagi pembaca sejarah untuk menelisik metodologi yang digunakan oleh penulis sejarah. Mengingat urgensi sejarah yang begitu besar, maka sangat tidak elok jika pembacaan sejarah tidak dibarengi pengetahuan metodologi penulisan sejarah  untuk menelisik keabsahan sebuah sejarah.

Membincang metodologi penulisan sejarah, Syekh Ramadlan al-Buthi di pendahuluan Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah memberikan komentar perihal metodologi penulisan sejarah yang ramai digunakan di abad 19 Masehi, dimana salah satu tokohnya adalah S. Freud. Dalam menuliskan sejarah, mereka tidak menyajikan sebuah sejarah dengan apa adanya, melainkan disertai penafsiraan mereka terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi. Pun disertai sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut hingga berujung klaim benar-tidaknya sebuah sejarah. Bahkan bagi mereka, metodologi macam inilah yang seharusnya ditempuh oleh para sejarawan, tidak hanya asal mengutip sejarah tanpa menganalisnya.

Bagi Syekh Ramadlan al-Buthi, justru penulisan sejarah dengan metodologi semacam ini (yang beliau sebut dengan mazhab ­al-dzâty) adalah usaha yang sia-sia dan tidak bisa dikatakan sebagai metodologi yang ilmiah. Meski dalam Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah beliau tidak memfokuskan membahas metodologi penulisan sejarah ataupun kritik metodologi, namun bagi beliau, maraknya penggunaan mazhab al-dzâty ini patut memunculkan keprihatinan bagi kaum muslim. Karena metodologi ini justru berpotensi membolak-balikkan kebenaran, mencampur fakta satu dengan fakta yang lainnya, serta banyak perkara yang tidak terkuak karena subjektivitas penulis dan keterpengaruhannya atas kepentingan pribadi ataupun golongan.

Barangkali pandangan Syekh Ramadlan al-Buthi ini memiliki kesamaan dengan Imam Al-Thabari, bahwa metodologi penulisan sejarah harus seotentik mungkin dengan tidak mengubah redaksi dan mempertahankan sanad sebagai acuannya. Sejarah akan menjadi tidak otentik jika bersandar pada logika dan analogi. Sehingga Imam al-Thabari sendiri dalam menuliskan sejarah mencukupkan diri dengan mengutip dari para rawi dengan syarat-syarat yang tertentu, tanpa meragukan isi kabar tersebut.

Dari sini, jika melihat metodologi Ibnu Khaldun (awal abad 15 Masehi) dalam menuliskan sejarah, maka akan mendapati kebalikan dengan pandangan Syekh Ramadlan al-Buthi. Ibnu Khaldun yang digadang sebagai pencetus ilmu sosiologi justru menempuh metodologi yang tidak hanya mengutip, tapi disertai analisis sejarah hingga terbukti bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Bagi beliau, jagad raya ini terikat dengan hukum kausalitas, sehingga setiap fenomena selalu berkaitan dengan fenomena yang lain. Dalam tulisannya beliau memaparkan sebab-akibat sebuah fenomena, hubungan antara fenomena satu dengan yang lainnya, dan berusaha menguak sebab-sebab tersembunyi. Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa dalam pendahuluan Fiqh al-Sîrah al-Nabawiyyah Syekh Ramadlan al-Buthi menyebut S. Freud, ketimbang Ibnu khaldun yang lebih dahulu menempuh metodologi tersebut dan juga dari kalangan Islam sendiri?

Jika ditelisik, ramainya penggunaan metodologi S. Freud dan kawan-kawan di abad 19 Masehi berimbas kemunculan madrasah-madrasah baru yang mengkaji sîrah nabawiah dengan metodologi tersebut. Madrasah-madrasah tersebut mulai bermunculan saat Mesir sedang dijajah Inggris. Penjajah menstimulasi masyarakat Mesir dengan pemikiran-pemikiran mereka, sehingga di kemudian hari muncul kitab-kitab sîrah nabawiah yang tidak lagi mengunggulkan metode riwayat dan sanad. Melainkan metodologi sebagaimana S. Freud dengan analisis penulis yang sarat akan subjektivisme. Inilah titik di mana Syekh Ramadlan al-Buthi sangat mengecam penggunaan mazhab ­al-dzâty. Salah dua dari tokoh yang beliau kritik adalah Husein Haikal dan Farid Wajdi. Mazhab al-dzâty ini sangat sarat akan kecondongan hati penulis, tujuan pribadi, klaim benar-tidaknya sebuah peristiwa yang nantinya justru menghilangkan sisi kemukjizatan Nabi SAW. Sebagai contoh, peristiwa Isra Mi’raj yang dimaknai sebagai perjalanan ruh dan hanya di alam mimpi. Padahal telah jelas dalam al-Quran, Isra Mi’raj sebagai perjalanan jasmani. Pun batu yang dibawa burung Ababil (hijârah min sijjîl) yang dimaknai sebagai penyakit kulit. Tentu metodologi ini nantinya mampu mengikis kesakralan sîrah nabawiah. Lalu, bagaimana Ibnu Khaldun (sebagai pelopor mazhab ­al-dzâty) memaknai mukjizat Nabi? Apakah beliau juga berusaha membuktikan kebenarannya secara rasional?

Dalam Muqaddimah Ibn Khaldun, beliau juga menganalisis keterkaitan geografi bumi dengan ihwal penduduknya. Tidak hanya warna kulit, melainkan juga pengaruh letak geografis terhadap tabiat, akhlak dan corak kehidupan penduduknya. Penduduk daerah Sudan yang gemar menyanyi dan menari, misalnya. Menurut beliau, hal ini merupakan pengaruh dari letak geografis yang terbilang panas, di mana hawa panas yang dihirup menjadikan orang-orangnya cepat merasa senang. Sehingga ketika mendengar lantunan musik, mereka sangat mudah menikmati, hingga lantas menari, dan seterusnya. Namun, di bagian ini beliau sudah membatasi diri, bahwa penafsiran geografis beliau tidak kemudian menjadi jawaban mengapa Nabi terakhir adalah orang Arab dan mengapa al-Quran diturunkan kepada Nabi dari kalangan Arab.

Ibnu Khaldun memercayai bahwa Allah SWT telah mengirim utusan-utusannya di muka bumi dengan diberi bermacam mukjizat dan kelebihan mengetahui hal-hal ghaib, yang mana tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali anugerah dari-Nya. Pun mukjizat yang para Nabi dapatkan, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hukum alam, melainkan murni kehendak-Nya. Bahkan, beliau mengklasifikasikan menusia menjadi tiga berdasarkan kemampuan berpikir dan melihat hal ghaib; manusia biasa, al-auliyâk ahlu al-ulûm al-laduniyyah wa al-maârif al-rabbâniyyah dan para Nabi.

Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa dalam kritiknya, Syekh Ramadlan al-Buthi tidak menyebut Ibnu Khaldun (melainkan S. Freud) secara lantang, padahal Ibnu Khaldun merupakan pendahulu mazhab al-dzâty yang sangat ia kecam. Karena, meskipun Ibnu Khaldun dalam menuliskan sejarah menempuh metodologi yang ditentang oleh Syekh Ramadlan al-Buthi, akan tetapi Ibnu Khaldun mengerti batasan-batasan dengan tidak merasionalkan segala yang berkaitan dengan sîrah nabawiah, sehingga tidak menghilangkan sisi kemukjizatan Nabi SAW.

Ala kulli hâl,  mengenai perbedaan metodologi penulisan sejarah antara Ibnu Khaldun, Syekh al-Buthi, Imam al-Thabari, Imam al-Masudi atau tokoh lainnya adalah menjadi suatu yang lumrah di kalangan cendekiawan. Sehingga, tidak kemudian kita (baca: orang awam) lantas bisa mengklaim benar-tidaknya metodologi yang mereka tempuh. Bisa dipastikan mereka memiliki pertimbangan, misi dan tujuan masing-masing dalam metodologi yang ditempuh dalam menuliskan sebuah sejarah.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker