Editorial

Ironi Sang Legislator Muda

5/5 (4)

Nama Arteria Dahlan sempat menjadi pencarian terpopuler di beberapa media sosial. Sosok politisi Fraksi PDIP tersebut menjadi fenomenal lantaran sikap dan gaya penuturannya dianggap tidak mencerminkan adat ketimuran. Hal itu terjadi ketika ia menjadi salah satu pembicara pada acara talk show yang dipandu presenter kondang, Najwa Shihab. Ia sering kali bersikap reaksioner dan tidak menghargai pendapat lawan debatnya. Sebagaimana yang dilakukannya pada Feri Amsar, Arteria mencecar Feri dengan tuduhan ‘bukan ahli’ dan pernyataan menyudutkan lainnya. Tentunya penonton dan warganet bisa menilai aksi legislator muda itu memang acap kali kurang memberikan teladan baik sebagai penyalur aspirasai rakyat.

Sepantasnya keahlian yang dimaksud oleh Arteria bukan dinilai dari cecaran kata penafian dan penolakan yang ia lontarkan. Akan tetapi keahlian dapat dinilai dan diuji melalui kontruksi argumentasi yang dibangun oleh penutur. Sehingga, argumentasi yang melahirkan sebuah gagasan akan dinilai berhasil ketika bisa dimanfaatkan oleh khalayak ramai. Sedangkan argumentasi yang disampaikan oleh Arteria lebih banyak berupa pandangan subjektif terhadap lawan bicara. Maka, sekali lagi kita bisa menilai bahwa sosok politisi semisal Ateria ini hanya bisa membangun persepsi, tanpa pembuktian efektifitas gagasan yang disampaikan. Akan lebih miris lagi ketika argumentasi atau gagasan yang disampaikan (ternyata) menyalahi realitas aktual.

Tentunya kita berharap agar para wakil rakyat yang baru saja dilantik kelak bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh periode sebelumnya. Kesempatan untuk menyerap aspirasi rakyat haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin. Utamanya adu argumentasi dan gagasan yang dibawa ke meja sidang benar-benar sesuai dengan kondisi serta fakta di lapangan. Kesalahan dalam argumentasi dan gagasan tentunya akan berdampak buruk pada penilaian kinerja anggota dewan. Selain itu, setiap legislator diharapkan agar lebih arif lagi dalam menyikapi perbedaan sudut pandang. Bukan malah menjadi tokoh yang reaksioner, sehingga minim gagasan yang berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan masyarakat.

Di samping tuntutan profesionalitas kinerja anggota DPR, kita juga berharap banyak agar mereka menampilkan teladan yang baik dalam bertutur kata. Ucapan yang condong emosional tidak akan membuahkan solusi yang efektif di tengah problematika sosial yang semakin kompleks. Ada suatu kisah menarik terkait bentuk kehati-hatian dalam bertutur kata. Suatu saat Sahabat Abdullah bin Abbas RA pernah memerdekakan seorang budak. Saat ditanya alasannya memerdekakan budak tersebut, ia menjawab: “Aku bersyukur lantaran Allah SWT tidak menjadikanku sebagai sosok yang banyak berbicara, apalagi perbincangan yang disertai dengan luapan emosi, sampai-sampai hanya kesalahanlah yang dapat ditampakkan.” Melalui kisah singkat ini, semoga bisa menjadi teladan bagi kita, khususnya para anggota legislatif agar lebih berhati-hati lagi dalam berucap ketika merespon realitas aktual.

Pada anggota dewan legislatif periode 2019-2024 kita menaruh harapan, supaya mereka lebih menjunjung tinggi etika dan khazanah lokal masyarakat Indonesia. Selama ini rakyat Indonesia dikenal santun dan menghormati perbedaan usia. Seorang pemuda tentunya akan bersikap andap asor di hadapan mereka yang lebih tua usianya. Berbeda dengan sikap yang ditampilkan oleh Arteria terhadap Prof. Emil Salim dalam acara yang sama sebagaimana disinggung di atas. Sebagai anggota dewan, seolah Arteria bersikap superior dan mengklaim dirinya sebagai sosok yang lebih paham akan hukum konstitusi negara. Tindakan seperti ini harusnya dihindari, lantaran amanah sebagai pemimpin ataupun pejabat publik pada dasarnya adalah pelayan bagi rakyat. Sehingga, seyogianya mereka tetap rendah hati dan bersikap low profile dalam kesehariannya.

Redaktur

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close