Esai

Madura Hanya Akan Tinggal Nama?

Oleh: Moh. Fuyudun Ni’am Imam

Satu pekan setelah penerapan normal baru di Mesir, saya bersama kawan melepas kebosanan di sebuah kafe kota Kairo. Awalnya, seperti biasa, kami ngrasani kerabat-kerabat atau membicarakan elit pemerintah yang beberapa waktu lalu membuat jengkel Presiden Jokowi. Sampai akhirnya, saya tidak sengaja mendengar pernyataan salah seorang pengunjung kepada kawannya, “Kalau saja dengan punahnya satu suku bisa menyelamatkan dunia dari virus Corona, aku akan pura-pura tidak tahu tentang hal itu,” ucapnya berkelakar.

Mendengar hal tersebut, saya jadi teringat dengan beberapa esai hiperbolik yang mengatakan bahwa Bahasa Madura akan punah. Misal, di salah satu esai yang ditulis oleh Khairul Umam, ia bercerita tentang memudarnya sakralitas kata sangkolan (bahasa halus) yang dalam Bahasa Madura berarti warisan.

Namun, pada umumnya, kata tersebut bermakna titipan, berupa barang yang tahan lama; bisa tanah, keris dan sebagainya. Sehingga, tak seperti hak milik sebagaimana termaktub dalam kata warisan, sangkolan adalah barang titipan atau hak pakai, seseorang tidak berhak merusak apalagi menjual.

Jika menarik hal tersebut pada tataran yang lebih jauh, memudarnya sakralitas kata sangkolan berkaitan dengan pembangunan jembatan Suramadu, misalnya. Sebagaimana jamak dipahami, keberadaan jembatan Suramadu mengakibatkan arus modernitas mengalir deras ke Madura yang kemudian mengubah banyak hal, menjadi permasalahan kompleks baik dari segi ekonomi, moral, budaya maupun bahasa.

Berangkat dari premis tersebut, bisa saya katakan, superioritas masyarakat urban dan maskulinitas peradaban Barat mengakibatkan krisis identitas pada banyak orang Madura. Hal ini yang kemudian mendasari orang Madura merasa ‘malu’—atau bahkan enggan?—menggunakan bahasa ibunya sendiri.

Dalam kontek yang lain, kolonialisme Inggris di India, lalu orang India “dipaksa” mempelajari Bahasa Inggris yang tidak hanya digunakan sebagai alat komunikasi, namun juga untuk memahami kesusastraan Inggris. Melalui hal itu, si penjajah menanamkan pola pikirnya kepada rakyat jajahannya dengan cara sedemikian halus, bahkan memunculkan anggapan dari rakyat jajahan, bahwa apa yang mereka baca adalah milik mereka sendiri. Hal inilah yang oleh Spivak disebut sebagai kekerasan epistemik.

Namun, barangkali berbeda dengan apa yang dialami orang India, krisis identitas membuat orang Madura, bahkan dengan sukarela meninggalkan identitas ke-Madura-annya hanya untuk mengikuti silaunya masyarakat urban atau maskulinnya peradaban Barat.

Ancaman punahnya Bahasa Madura, rasanya tidak terlalu berlebihan jika menengok pada minimnya referensi buku berbahasa Madura dalam proses belajar-mengajar. Hal ini jelas, dengan sedikit sarkasme, menunjukkan bahwa ada yang luput—jika tak ingin disebut pengabaian—dari sistem pendidikan kita ataupun pemerintah dalam menanggulanginya.

Dari sini, apakah hanya krisis identitas yang dialami oleh banyak orang Madura yang dapat mengakibatkan punahnya Bahasa Madura? Saya pikir tidak. Fakta mengejutkan lainnya ialah bahwa kultur berbahasa suku Madura sendiri turut mengambil peran.

Di dalam Bahasa Madura, paling tidak terdapat lima tingkat bahasa (dhag-ondhaggha bhasah); bahasa keraton abdhi dhalam (saya) dan junan dhalem (kamu), bahasa tinggi (abdinah dan panjhennengan), bahasa halus (kaula dan sampeyan), bahasa menengah (bula dan dhika), dan bahasa kasar atau mapas (sengko’ dan ba’na atau kakeh dan sedah).

Tingkatan bahasa tersebut tidaklah menjadi masalah jika dalam penerapannya tidak berkaitan dengan sistem stratifikasi sosial. Secara kultural, orang Madura yang berada di posisi sosial lebih rendah dan yang berusia lebih muda dituntut untuk abhasah (menggunakan bahasa tinggi atau halus) kepada orang yang menempati posisi sosial lebih tinggi dan yang berusia lebih tua.

Ironinya, berkebalikan dari gambaran berbahasa di atas, orang yang berada di posisi sosial lebih tinggi dan berusia lebih tua pada praktiknya selalu menggunakan bahasa kasar (mapas) terhadap orang yang berada di posisi sosial lebih rendah atau mereka yang berusia lebih muda (A. Latief Wijaya, 2006: 56-58). Budaya inilah yang sebenarnya mengacaukan sistem berbahasa orang Madura dan punahnya tingkatan bahasa tinggi atau halus di masa mendatang menjadi sebuah kemungkinan besar.

Terang saja, dari kultur berbahasa yang demikian, pembelajaran bahasa tinggi atau halus tidak dapat diwariskan dengan baik oleh orang yang berusia lebih tua kepada generasi selanjutnya; orang-orang yang berusia lebih muda. Jika kultur berbahasa tersebut terus berlanjut, saya kira tidak perlu menunggu waktu lama, Bahasa Madura yang tersisa hanyalah bahasa mapas; kasar. Pun mungkin dengan bahasa-bahasa lokal daerah lain.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker