Opini

Masisir, Kecerdasan dan Meja Ujian

Saat pandemi Covid-19 mengubah model belajar-mengajar menjadi daring, al-Azhar masih mempertahankan model belajar tatap-muka di dalam kelas. Al-Azhar hingga hari ini masih menerapkan sistem muhadlarah. Para dosen menyuguhkan diktat referensi sebagai acuan yang dirasa relevan untuk mendapatkan sanad keilmuan. Para mahasiswanya juga percaya bahwa dengan cara bertatap-muka inilah ia bisa mendapat barakah dan pemahaman lebih.

Kebanyakan mahasiswa al-Azhar strata satu merupakan subjek dari pembelajaran yang  menyoroti nilai kognitif lebih dari aspek pembelajaran yang lain. Para dosen sekadar memberikan bahan teori dari awal hingga akhir pertemuan yang lantas diujikan di atas meja ujian.

Masisir memiliki beban moral-keilmuan yang kompleks. Ia dituntut untuk dapat menjawab harapan masyarakat yang—tanpa melihat jurusan apa Anda di al-Azhar—menanyakan ‘fatwa’ semua lini kehidupan. Bagaimana kita sebagai Masisir bisa mewujudkan harapan tersebut? Saya akan menghadirkan hasil pemikiran M. Arfan Muammar, seorang dosen UIN Surabaya terkait teori belajar konstruktivistik.

Arfan Muammar di dalam bukunya, Nalar Kritis Pendidikan memberikan beberapa gambaran teori untuk bisa menunjang kualitas pendidikan di Indonesia. Ada pembahasan menarik yang saya rasa bisa diimplementasikan pada ruang lingkup Masisir. Teori belajar konstruktivistik merupakan hasil teori yang pertama kali dilahirkan oleh teori piaget dan vygotsky. Teori piaget mengemukakan bahwa seseorang dapat belajar secara mandiri dengan melihat orang-orang yang ada di sekelillingnya. Karena ia merasa bahwa perkembangan kognitif individu penting, maka ia menamai potensi diri seseorang sebagai skemata, perkembangan seorang anak mendapatkan hal baru. Yang dimaksud hal baru misalnya, seperti pengetahuan baru, seperti anak kecil yang mengetahui bahwa kuda merupakan hewan berkaki empat akan mengira bahwa kucing disebut juga sebagai kuda. Namun setelah ia mendapatkan skema baru, maka ia akan mengatakan kucing adalah hewan berkaki empat yang memiliki kumis.

Di sisi lain, vygotsky merupakan pembelajaran seseorang yang ditunjang oleh interaksi sosial. Karena pada teorinya, ia menekankan bahwa perkembangan kognitif seseorang sebagai makhluk sosial merupakan bagian integral dari masyarakat, hal ini biasa disebut sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). Meskipun dalam dua induk teori ini menghasilkan sebuah penilaian belajar secara kognitif, namun keduanya memiliki perkembangan yang melahirkan teori pembelajaran konstruktif.

Konstruktivistik merupakan bentuk pembelajaran secara interpretasi yang berhasil didapatkan oleh seorang mahasiswa setelah ia mendapakan ‘transformasi ilmu’ dari seorang dosen. Hal ini juga mengungkapkan mengapa al-Quran itu berwujud tunggal, namun memiliki begitu banyak interpretasi yang mengubah wujudnya menjadi tidak tunggal. Satu ayat memiliki berbagai macam interpretasi.

Maka dari itu, tentu Masisir harus mempunyai kesadaran untuk bisa memahami. Bagaimana untuk apa dan seperti apa ia dapat menginterpretasikan sebuah ilmu. Seorang pelajar harus memiliki kesadaran kolektif. Mengapa? Karena seorang mahasiswa harus sadar bahwa ia bukan bahan komoditas semata. Mahasiswa dituntut kreatif untuk bisa menerapkan belajar secara konstruktif.

Sampai saat ini, tidak sedikit kita jumpai kalangan peraih jayyid jiddan hingga mumtaz yang mengandalkan hafalan, tidak didasari atas nilai-nilai konstruktif dari praktik belajarnya. Fenomena semacam ini pada akhirnya berangsur menjadi penyakit bagi Masisir. Meski sekarang sudah banyak lembaga dan majelis yang membuka wadah untuk mempraktikkan pembelajaran secara konstruktif, namun peringatan semacam ini dirasa tidak cukup. Pada persoalan praktik konstruktivistik, kita dapat meniru Syekh Abdul Fattah al-Awari saat menerangkan Hadits Nabi innama al-‘amâlu bi al-niyyât sebagai shihhatu al-qashdi (tulusnya niat).

Selain itu, jika kita coba bandingkan praktik mahasiswa Indonesia yang sudah banyak dilatih untuk menggunakan pembelajaran secara konstruktivistik, mereka tentu terbiasa dengan pola praktik ini. Meskipun hal ini akan berdampak pada batas kebebasan proses kreatif mahasiswa. Berbeda dengan di al-Azhar, semakin luas dan banyaknya pilihan untuk bebas berekspresi maka semakin diuji kreativitasnya. Jika tidak, ditakutkan mahasiswa akan terjebak dalam kesadaran palsu yang dilakukan sebatas formalitas di bangku kuliah. Mengapa hal ini dinilai sebagai bentuk kesadaran palsu? Karena makna praktik belajar yang ditekankan dalam dunia Maisir adalah predikat ujian, sebagai standarisasi tingkat kesuksesan dalam pendidikan. Hasil predikatnya tentu akan sia-sia jika dihadapkan pada sikap yang tidak peduli terhadap sekitar, tidak peduli pada keadaan sosial. Semisal mahasiswa ini memiliki laku sosial yang tidak mempedulikan wilayah sekitar, individualis, acuh tak acuh, atau semacamnya.

Fenomena semacam ini tentu akan menciderai makna ilmu yang sudah ia dapatkan, ia tidak akan mendapatkan asimilasi dari proses koginitifnya. Yaitu, proses kognitif yang dengan hal ini seseorang akan mengintegrasikan persepsi, konsep, atau pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pemikirannya. Dengan begitu, saya harap dalam pembacaan ini dapat menyadarkan  mahasiswa bahwa penilaian dan predikat yang dihasilkan di bangku kuliah merupakan praktik formalitas, bukan sebagai standarisasi kesuksesan pendidikan, apalagi praktik konstruktivistik terhadap proses belajar mahasiswa. Hal ini juga dapat  menyadarkan mahasiswa bahwa kita tidak dikirim ke al-Azhar untuk dijadikan bahan komoditas pendidikan. Perlu ditekankan bahwa bangku kuliah di Azhar beserta para masyayikh adalah sebatas fasilitator, karena pada hakikat praktik pendidikan adalah untuk dapat memberikan perubahan personal dengan imeplementasi atas ‘transfer ilmu’ yang ia dapatkan.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Kunti Zulva Russdiana Dewi

An Indonesian in Egypt, is studying teology. With her rules that 'The noblest art is that of making others happy'.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker