BukuResensi
Trending

Membacai Tafsir al-Quran di Medsos

No ratings yet.

“Bukannya akademisi atau ulama yang membimbing umat agar mendapat pencerahan, tetapi malah akademisi atau ulama yang mengikuti suasana, emosi dan pemahaman orang awam.” Itulah keluh kesah sang profesor ketika melihat carut-marutnya dunia per-medsos-an saat ini. Fatwa-fatwa tidak bertanggung jawab berseliweran silih berganti menghiasi lini masa beranda Facebook dan Twitter. Fatwa tersebut justru menambah eskalasi emosi setiap pembacanya. Sungguh miris dunia maya saat ini, seolah hanya menjadi “tempat sampah” bagi manusia ber“sumbu pendek” otaknya untuk memuntahkan pemahaman (dangkal) agamanya.

Sudah jamak kita ketahui bersama, penyebaran informasi di media sosial kian hari kian meresahkan masyarakat. Berbagai macam informasi hasil salah pemahaman dan salah interpretasi memenuhi setiap sudut ruang media sosial kita. Semua itu menjadi “santapan” akal warganet setiap harinya. Kemudahan dalam mengakses informasi agaknya menjadi daya tarik yang membutakan mata dan akal sehat para konsumtornya yang awam. Sehingga, mereka tidak dapat melakukan filtrasi terhadap apa yang dibaca. Meski tidak semua pengguna internet awam dan terbutakan. Tidak pula semua informasi yang ada di media sosial berkategori buruk, namun kebebasan tanpa batas yang ditawarkan memiliki resiko yang tinggi terhadap beredarnya informasi “tak bertuan” atau yang biasa disebut berita hoaks. Salah satu informasi atau tema yang sering menjadi objek  salah interpretasi adalah tafsir atas ayat-ayat al-Quran.

Demi merespons peredaran tafsir abal-abal atas al-Quran yang “bergentayangan” di media sosial, Prof. H. Nadirsyah Hosen, Ph.D menyusun sebuah karangan yang berjudul “Tafsir al-Quran di Medsos”. Karangan tersebut merupakan kompilasi dari coretan-coretannya di beranda media sosial, seperti Facebook, Telegram, Twitter dan Whatsapp. Dalam buku tersebut, terbagi menjadi lima bagian pembahasan, yakni rahasia menghayati kitab suci al-Quran, tafsir ayat-ayat politik, menebar benih damai bersama al-Quran, al-Quran bergelimang makna dan benderang dalam cahaya al-Quran.

Bagian pertama dari buku ini dibuka dengan pembahasan yang cukup populis dan realis, yakni menjelaskan tentang bagaimana cara berinteraksi dengan al-Quran, serta model interaksi al-Quran dengan sosial masyarakat. Bagian kedua sendiri menjabarkan ayat-ayat al-Quran yang berhubungan dengan politik. Di bagian ini penulis berusaha menggali tafsir ayat-ayat politik melalui berbagai macam sumber yang otoritatif, seperti Tafsir Munir, Tafsir Ibn Katsir dan lain-lain yang kemudian dikontekstualisasikan dengan problematika masa kini.

Dari keseluruhan bagian buku, terdapat beberapa pembahasan yang cukup menarik untuk dikupas dan dikritisi. Salah satunya mengenai tafsir surah Annisa ayat 138-139. Di situ penulis berpendapat bahwa belum ada satu kitab tafsir klasik yang memaknai kata awliya sebagai pemimpin. Kitab-kitab tafsir klasik seperti Tafsir al-Qurthubi, Tafsir Thabari, Tafsir Munir dan lain-lain memaknai kata awliya sebagai penolong, pelindung dan sekutu. Atas dasar itu, penulis lantas menyimpulkan bahwa diperbolehkan memilih pemimpin non-muslim dan tidak dinyatakan kafir bagi siapapun muslim yang memilihnya. Akan tetapi, menurut saya, makna yang disuguhkan oleh kitab tafsir klasik seperti penolong, pelindung dan sekutu pun sangat berkaitan erat dengan sosok pemimpin.

Iklan

Ketika seseorang menjadi pemimpin, ia akan menjadi penolong bagi setiap urusan-urusan sosial masyarakat yang tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan ekonomi, namun juga urusan peribadatan masyarakat. Pun, pemimpin sebagai pelindung, yang berarti ia berkewajiban memastikan seluruh kegiatan masyarakat dapat dijalankan dengan aman dan terkendali. Selain itu, ia juga menjadi sekutu yang selalu menjadi pendengar setia seluruh aspirasi masyarakatnya. Melalui ulasan di atas, sudah sewajarnya para (panasbung) penyokong gerakan 212 menganjurkan umat muslim untuk memilih pemimpin sesuai keyakinannya. Meski begitu, tidak lantas doktrin yang bersifat eksklusif ini boleh diumbar di ruang publik, karena beresiko merusak kerukunan umat lintas agama. Atas dasar inilah, penyebaran doktrin memilih pemimpin muslim hanya terbatas pada pengajian-pengajian.

Ketiadaan pembahasan yang lebih “ndakik” seperti pembahasan di atas menjadi celah yang membuka tuduhan bahwa sang profesor adalah pihak oposisi bayaran untuk menjawab isu kepemimpinan tersebut. Apalagi pada bagian tersebut, penulis hanya mencantumkan dalil-dalil saja, tanpa analisa lebih lanjut. Hal ini membuat ulasannya sedikit kurang bertenaga dan menurunkan kredibilitasnya sebagai cendekiawan. Adapun mengenai kelebihan buku ini yaitu terdapat pada gaya bahasa yang renyah dan terkesan mengajak dialog dengan pembaca. Pembahasan setiap materi secara singkat, padat dan tidak bertele-tele membuatnya mudah dipahami oleh setiap pembaca tanpa harus memiliki background pendidikan yang tinggi. Sebaliknya kekurangan buku ini terletak pada model pembahasan yang sebagian besar hanya memberikan dalil-dalil semata, tanpa adanya penjelasan lebih lanjut. Hal tersebut menimbulkan kesan seolah-olah buku ini hanya ditujukan untuk ajang narsis dan fashion show dalil sang profesor.

Wabakdu, kedewasaan diri merupakan syarat dan simbol atas kehidupan yang dijalani, terlebih di media sosial. Semakin dewasa diri kita, semakin sehat kehidupan ber-medsos kita. Oleh karenanya, mari hidup ber-medsos secara sehat.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tags
Show More

M. Fikri Zulkarnain Nawawi

Redaktur ahli Bedug
Back to top button
Close