Islamologi

Mengapa Akidah Asyari Langgeng Hingga Kini?

Oleh: Muhammad Al-Fayyadh Maulana

Imam Asyari adalah salah satu tokoh populer dalam bidang akidah. Mazhabnya masih lestari sampai sekarang. Kitab-kitab Imam Asyari senantiasa dijadikan rujukan oleh Ahlussunah wal Jamaah dalam berteologi. Berbagai karangan lain juga lahir dari kajian kitab beliau. Kekayaan kajian mazhab ini berbeda dengan dengan mazhab teologi lainnya seperti Jabariyah, Qadariyah, Murjiah, bahkan Muktazilah sekalipun. Mereka seakan hilang dalam peta peradaban modern. Padahal, Muktazilah pernah menjadi mazhab resmi negara di era Abbasiyah.

Mengapa mazhab Asyari bisa tetap kokoh dan eksis hingga kini?

Melihat ke sejarah, mazhab Asyari tidak lahir begitu saja. Ada beberapa peristiwa penting yang melatarbelakangi lahirnya mazhab tersebut. Sebagaimana disebutkan Hamudah Ghurabah dalam kitabnya, Abu al-Hasan al-Asy’ariy, Imam Asyari meragukan beberapa konsep dalam Muktazilah. Di antaranya: kewajiban Allah berbuat baik pada hamba-Nya (al-shalâh wa al-ashlah) dan kedudukan di antara dua kedudukan (al-manzilah bayna al-manzilatayn). Imam Asyari berpendapat bahwa mewajibkan perbuatan apapun pada Allah adalah termasuk su’ul adab. Sedangkan konsep surga-neraka itu sudah mutlak, sehingga tidak ada tempat ketiga.

Sebagai orang yang cerdas dan kritis, Imam Asyari selalu mengkaji segala sesuatu secara mendalam dan luas. Meski saat itu Imam Asyari sudah menjadi mubalig mazhab Muktazilah, beliau sering mengkritisi konsep dalam Muktazilah. Pernah suatu ketika, terjadi dialog antara Imam Asyari dan Imam al-Jubbai seorang pembesar mazhab Muktazilah. Riwayat yang kuat menyebutkan bahwa al-Jubbai adalah ayah tiri dari Imam Asyari.

Suatu ketika, Imam Asyari mempertanyakan nasib tiga orang di akhirat. “Bagaimana nasib orang dewasa yang wafat dalam keadaan taat, ahli maksiat, dan anak kecil?” Al-Jubbai menjawab: “Orang pertama masuk surga, kedua masuk neraka dan ketiga berada di al-manzilah bayna al-manzilatayn”. Imam Asyari kemudian bertanya, “Bagaimana jika si anak kecil itu mempertanyakan mengapa dirinya diwafatkan tuhan pada usia kecil?” Al-Jubbai menjawab: “Tentu Tuhan tahu kalau dia hidup sampai dewasa, maka ia akan berbuat maksiat. Maka Tuhan wafatkan ia waktu kecil, karena itulah yang terbaik (ashlah)”. Imam Asyari balik bertanya. “Bagaimana kalau yang bertanya adalah yang masuk neraka?” Imam al-Jubbai diam tidak bisa menjawab.

Dialog di atas adalah  contoh kecil dari kekritisan Imam Asyari pada teologi Muktazilah. Selain itu, masih banyak keresahan lain Imam Asyari yang bahkan tidak bisa dijawab oleh ulama Muktazilah. Dari keresahan-keresahan itu, Imam Asyari kemudian melakukan uzlah di rumahnya selama lima belas hari nonstop. Ibnu Asakir dalam kitabnya, Tabyîn Kadzib al-Muftari, menuturkan Imam Asyari bermimpi bertemu Rasulullah SAW sampai tiga hari berturut-turut. Rasulullah menyuruh Imam Asyari untuk menyelamatkan umat dari kesesatan dan kembali kepada mazhab yang hak. Imam Asyari keluar dari rumah dan menyerukan kepada umat bahwa ia telah keluar dari Muktazilah.

Setelah memploklamirkan bahwa dirinya keluar dari Muktazilah, Imam Asyari kemudian menuliskan sendiri pemikirannya dalam kitab al-Ibânah ‘an Ushûl al-Diyânah dan Maqâlât al-Islamiyyin. Di antara pokok pemikiran beliau adalah adanya tujuh sifat wajib Allah. Yaitu wujud, qidam, baqa’, mukhalafah li al-hawadits, qiyamuhu binafsih, wahdaniyyah, dan kamal al-a’la. Sifat-sifat ini lantas dikembangkan menjadi tiga belas dan disempurnakan dengan sifat ma’nawiyah menjadi dua puluh oleh Imam Maturidi. Inilah yang kemudian di-nadzam-kan oleh Syekh Marzuqi Malik dalam ‘Aqîdat al-‘Awwâm. Senandung yang biasa kita dengar dan hafal sejak kecil ini menjadi salah satu alasan langgengnya mazhab Asyari.

Sifat Imam Asyari yang terkenal cerdas, santun, dan zuhud juga menjadi faktor pemikirannya diterima masyarakat. Sebagaimana rasul yang diutus kepada umat, pasti memiliki track record yang baik. Karena secara sosial, jelas orang akan lebih mudah percaya orang yang berperangai baik dari pada yang buruk. Dalam kitab Asy’ariyyun Anâ, karangan Salim Abu ‘Ashi, seorang guru besar usul fikih di Universitas al-Azhar, Mesir, dikisahkan Imam Asyari pernah berwasiat pada salah seorang muridnya agar jangan mengkafirkan siapapun yang berbeda paham. Semua perselisihan sejatinya bisa selesai dengan diskusi ilmiah. Sebab, perbedaan adalah rahmat. Prinsip dakwahkan-lantas-biarkan ini menarik simpati umat di masa Imam Asyari hidup. Fanatisme bermazhab sangat kuat, hampir tiada ruang toleransi saat itu. Perbedaan mazhab bukan hanya menyebabkan perdebatan, tapi juga berujung pertumpahan darah. Imam Ahmad bin Hanbal bahkan sempat disiksa istana karena menolak paham Muktazilah.

Faktor lain yang menjadikan mazhab Asyari diterima masyarakat ialah konsep yang rasional dan komprehensif. Sebagaimana dijelaskan Jamal Faruq, dekan Fakultas Dakwah Universitas al-Azhar, akidah Asyari lebih mudah diterima masyarakat karena adanya keseimbangan instrumen berpikir di sana. Imam Asyari berpendapat bahwa Islam adalah agama naqliyah yang dikuatkan dengan dalil aql. Ia memadukan antara teks mukadas dengan akal rasional. Tidak seperti Muktazilah yang hanya mengandalkan pemikiran rasional, ataupun mazhab Zahiri yang tekstualis. Mazhab Asyari adalah salah satu pilar dasar mengapa ajaran Islam bisa tetap eksis dan tidak kehilangan jati dirinya meski berada di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Cek Juga
Close
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker