Opini

Mengapa Kita Terbelakang?

Setelah menyimak perbincangan Prof. Ismail Fajrie Alatas, MA., Ph.D. dalam salah satu talk show di sebuah kanal YouTube, membuat saya tertarik untuk menuangkannya ke dalam sebuah tulisan ringan. Acara yang bertajuk “Belajar dari Zaman Keemasan Islam” ini dipublikasikan oleh akun Geolive ID, dengan pembawa acara Cania Citta Irlanie (9/8). Prof. Ajie, begitu sapaan akrabnya, merupakan akademisi yang berkarir sebagai Asisten Guru Besar bidang studi Timur Tengah di Universitas New York, Amerika Serikat. Salah satu poin pembicaraan yang ingin saya angkat dalam esai ini terkait era keemasan Islam yang sebenarnya menurut Prof. Ajie masih problematik. Tersebab, klaim tentang zaman keemasan Islam itu pada hakikatnya masih berupa wacana ideologis.

Bagi saya, fakta dan data yang disampaikan oleh Prof. Ajie cukup menarik sehingga membuat saya mengernyitkan dahi. Pasalnya, sepanjang pembacaan saya terhadap teks-teks sejarah klasik, semisal Târîkh Thabârî, jarang sekali penulis menyimpulkan dengan lugas bahwa rekaman peristiwa yang terjadi di masa lalu itu tidak lepas dari persoalan ideologis. Pun terkait tarik-ulur masa kejayaan Islam, mayoritas sejarawan sepakat bahwa masa keemasan Islam terjadi di era Dinasti Abbasiyah. Khususnya, saat pemerintahan Khalifah Harun al-Rasyid yang berhasil menjadikan Baghdad sebagai pusat peradaban intelektual.

Menariknya, kembali menurut Prof. Ajie, klaim tentang masa kejayaan Islam itu dipertentangkan oleh sejumlah kalangan sufi. Kita mengenal kelompok sufi cenderung defensif dalam menyikapi pelbagai perkembangan politik atau keduniawian secara umum. Imam Qusyairi menuturkan di dalam mahakaryanya, Risâlah Qusyairiah, tentang perubahan pola gaya hidup para pemimpin Dinasti Umayyah hingga Abbasiyah. Menurut mereka, gaya hidup yang cenderung hedonis dan materialistis sejatinya menjadi pangkal dari kemunduran Islam. Tersebab hal itu bertolak belakang dengan sikap dan kepemimpinan era Khulafa al-Rasyidin yang dikenal zuhud, egaliter dan menghindari perkara-perkara keduniawian. Otomotis perubahan yang demikian dianggap sebagai era keterbelakangan Islam.

Terkait latar belakang kemunduran Islam, inilah topik yang sebenarnya ingin saya ulas lebih lanjut. Oleh karena kita seolah selalu dinina-bobokan oleh narasi kejayaan Islam yang problematik itu, tanpa berusaha mengintrospeksi diri agar setidaknya menjadi pribadi yang lebih optimis, kreatif dan progresif. Syakib Arslan, seorang cendekiawan sekaligus sastrawan berkebangsaan Libanon, berusaha merumuskan beberapa faktor yang menyebabkan umat Islam menjadi terbelakang. Bukunya “Limâdzâ Taakhara al-Muslimûn wa Taqaddama Gayruhum”, berupaya mendeskripsikan tentang kelemahan-kelemahan kaum muslim yang seharusnya dibenahi.

Pertama, ia mengatakan bahwa kaum muslimin masih kikir dengan hartanya sendiri. Sehingga susah untuk menyatukan dan membuat kekuatan ekonomi yang nantinya dapat memberdayakan kalangan muslim tertindas di negaranya masing-masing. Pendapat Syakib Arslan ini saya rasa cukup realistis. Kita dapat melihat contoh rilnya, bahwa sebagian masyarakat menengah ke atas masih enggan untuk berbagi dengan saudaranya sendiri yang membutuhkan. Pun beberapa pejabat muslim di Indonesia yang masih saja sering tertangkap kasus korupsi demi mengisi pundi-pundi kekayaan mereka.

Kedua, Syakib Arslan mengatakan faktor yang paling krusial dari kemunduran Islam juga disebabkan keengganan berpikir dan berinovasi. Akibatnya, umat Islam terjebak dalam ranah kejumudan dengan obsesi keinginan untuk kembali membangun kejayaan Islam tanpa meniliki kualitas pribadinya terlebih dahulu. Bahkan ia berpendapat, bahwa seorang muslim yang memiliki ilmu pengetahuan pas-pasan lebih berbahaya dari seorang yang bodoh. Sebab menurutnya, muslim yang berilmu pas-pasan tidak akan mampu menjawab setiap realita dan akan selalu dihantui oleh keragu-raguan. Sedangkan orang yang bodoh bisa jadi lebih baik bila ia mengakui akan ketidaktahuannya.

Selanjutnya, faktor ketiga dari keterbelakangan umat Islam adalah rusaknya moral. Menurut penjabaran Syakib Arslan, moral atau etika merupakan varian yang tidak bisa dipisahkan dari ajaran Islam. Contohnya etika tentang kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab dan lain sebagainya, sudah terkikis di tiap-tiap individu muslim. Anehnya, rumusan moral yang terangkum dengan apik di dalam al-Quran dan Hadis itu justru diterapkan oleh non-muslim. Maka sudah saatnya umat Islam untuk mengimplementasikan nilai-nilai ajaran kitab suci itu di dalam kehidupan sehari-hari.

Ketiga faktor utama itulah yang hendaknya menjadi bahan instrospeksi umat Islam saat ini. Secara subjektif saya menekankan pada girah untuk terus menggali ilmu pengetahuan agar peradaban Islam kembali jaya. Oleh karena mengaca kepada klaim tentang era keemasan Islam yang disinggung sebelumnya –pada masa Dinasti Abbasiyah- adalah hasil usaha para cendekiawan muslim mengolah dan menyusun data-data dalam bentuk literasi. Maka pendidikan adalah kunci dan modal awal kita menjadi sosok muslim yang berkarakter, inovatif dan progresif.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Nizam Noor Hadi

Penikmat kajian sejarah dan sufistik.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker