Opini

Mengupayakan Perbedaan Rahmat

Oleh: Zulia Misbach

Setiap menyimak video para tokoh Ahlusunah wal Jamaah yang membahas khilafah, Wahabi, dan Ikhwanul Muslimin di YouTube, kerap kali saya temui komentar yang bernarasi sama: “Beda agama diberi toleran, sesama agama diberi hujatan”. Ini bisa ditemui dalam kanal Sanad Media misal, tentang Ikhwanul Muslimin yang diisi Syekh Usamah al-Azhari. Tidak berhenti di sana, mereka bahkan berkomentar demikian di podcast Quraish Shihab saat membincang toleransi beragama, yang notabene tokoh netral secara afiliasi.

Awalnya saya hampir mengamini komentar dengan narasi sama tersebut. Saya merasa aneh dengan pergulatan yang ada di antara sesama muslim. Jika keduanya sama-sama sedang menyebarkan Islam menurut metode masing-masing, kenapa harus dipermasalahkan? Bukankah perbedaan adalah rahmat?

Setelah saya menjelajahi beberapa pemikiran ulama al-Azhar, terungkaplah dimana letak permasalahan kelompok Islam yang kerap dianggap menyimpang. Mereka menganjurkan kita untuk menghindarinya. Ulama-ulama al-Azhar seperti Syekh Mutawalli Sya’rawi, Syekh Usamah Azhari bahkan Grand Syekh Ahmad Thayib bersikeras menentang Ikhwanul Muslimin. Berdasarkan kisah dari Syekh Sya’rawi yang dijelaskan oleh Syekh Usamah di kanal YouTube DMC, Syekh Sya’rawi pernah melihat secara langsung Hasan al-Banna didorong oleh Abdurrahman (pemimpin organisasi khusus) hingga jatuh ke lantai pada 1995 M. Saat itu pula beliau mengetahui bahwa gerakan yang dibawa Hasan al-Banna bukanlah dakwah keilmuan melainkan hanya gerakan politik. IM menjadi semakin parah ketika dipegang oleh Sayyed Qutb yang mana ideologinya bisa kita baca dalam bukunya, Fî Dzilâl al-Qur’ân.

Syekh Ali Jum’ah pernah menuturkan bahwa di dalam Islam tidak ada yang namanya pertumpahan darah.  Jika sebuah golongan menganjurkan pertumpahan darah, itu artinya golongan tersebut sudah keluar dari ajaran Islam. Kita tidak berbicara para penggagas IM secara personal yang sudah tenang di dalam sana. Yang kita lakukan sekarang adalah mengkaji pemikiran dan gerakannya saat ini. Sejauh apa ia relevan untuk diimplentasikan di dalam Islam—seluruh dunia, bukan hanya di Mesir.

Ideologi dan politik adalah suatu hal, sedangkan hubungan sosial dan personal adalah hal lain lagi. Maka memperjuangkan ideologi yang benar adalah sebuah keharusan untuk menyelamatkan Islam itu sendiri. Adapun jika disandingkan dengan sikap toleran terhadap non-Islam, menurut saya itu bukanlah perbandingan apple to apple. Dirasa tidak perlu kita permasalahkan lagi perihal keyakinan mereka, karena sudah jelas berbeda. Bagimu agamamu dan bagiku agamaku. Ayat tersebut sudah menjadi ancaman yang jelas bagi mereka. Sehingga, toleransi yang dimaksud di dalam relasi antar-agama adalah toleransi dalam ranah muamalah sosial. Berbeda dengan sesama Islam, ideologi yang bermacam-macam dalam tubuh Islam, dirasa perlu kita kaji bersama, karena menyangkut representasi Islam itu sendiri.

Dialektika perbedaan pendapat ialah hal yang lumrah di dalam khazanah intelektual Islam. Kita melihat betapa sengitnya perdebatan antara Imam Ghazali dan Ibnu Rusyd seputar sikap para filsuf muslim atas tiga perkara parsial yang karenanya, mereka dikafirkan oleh Imam Ghazali. Ibnu Rusyd membantah dengan argumentasi logis dan bernas bahwa sikap Imam Ghazali yang demikian justru menyesilihi pernyataannya sendiri di dalam al-Iqtishad. Ini bukan hujatan. Keliru jika kita melihat setiap kritikan yang masuk dalam ruang dialog para ulama dan akademisi dianggap demikian. Mereka yang sering berkomentar seperti di paragraf awal tulisan mesti membaca pergulatan ulama dari sumber asali dan guru yang benar.

Syariat Islam memuat persoalan cabang (furuk) dan usul. Pada yang pertama, khazanah umat Islam sangat kaya dengan ijtihad para ulama di zamannya. Pada yang kedua, Islam menegaskan demarkasi akidah yang menjadi common ground seluruh umat Islam di dunia. Dalam hal ini, Syekh Said Foudah mengatakan bahwa barangsiapa yang berada di jalan Imam al-Asyari dan al-Maturidi serta menyetujui pemikirannya, maka ia adalah Ahlusunah wal Jamaah.

Menariknya, komentar yang tertulis di kolom video Syekh Usamah mengklaim diri sebagai simpatisan IM sekaligus Ahlusunah. Mereka bahkan menyebutkan ulama-ulama Ikhwanul Muslimin yang dianutnya seperti Sayyed Qutub yang sudah sangat jelas bukan tokoh Asyarian maupun Maturidian dan Yusuf Qardawi sebagai ulama’ minoritas.

Tidak semua perbedaan mesti didamaikan. Ada kalanya, fragmen-fragmen hitam-putih perbedaan memang tidak akan pernah bisa diselesai-satukan. Karenanya, penting bagi kita untuk memupuk rasa perlunya komunikasi, dialog dan duduk bersama. Jika memang tidak bisa sepakat, setidaknya bisa saling memahami dari dekat.

Di sisi lain, pemimpin yang mampu merangkul perbedaan-perbedaan masyarakat mutlak dibutuhkan perannya dalam menyiasati kemaslahatan bersama. Jika pemimpin negara atau umat Islam masih terlalu jauh untuk dijangkau, setidaknya marilah pimpin diri kita masing-masing menuju jalan intelektual terang.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker