Opini

Menyikapi Pro-Kontra Lagu “Aisyah”

Oleh: Kholifiatul Masito

Di tengah pandemi Corona yang masih merisaukan, akhir Maret lalu kita disuguhi viralnya lagu berjudul “Aisyah” yang dipopulerkan grup Gambus Sabyan. Lagu romansa yang bernuansa islami tersebut sudah ditonton duapuluhan juta kali dan telah di-cover para youtuber tanah air di laman pribadi mereka. Beberapa hari sebelum Gambus Sabyan, Anisa Rahman (eks gambus Sabyan) juga telah meng-cover lagu tersebut lebih dahulu.

Seolah-olah, lagu yang bergenre islami tersebut “hadir” untuk menghibur masyarakat dari ketegangan wabah Covid-19 yang sedang melanda. Namun, di balik kisah melejitnya lagu tersebut, terdapat pro-kontra yang mengiringinya. Respon kontra muncul dikarenakan banyak kaum muda atau para peng-cover lagu tersebut yang hanya melihat sosok Sayidah Aisyah dari sisi luarnya; kecantikannya. Lantas, bagimana seyogianya respon kita terhadap lagu tersebut?

Menyikapi lagu Aisyah
Dari sebuah jurnal yang membahas tentang musik, ada satu narasi menarik, “Orang percaya, bahwa intuisi atau inspirasi memegang peranan yang penting di dalam aktivitas mencipta. Dari pengalaman estetik, manusia cenderung ingin mengabadikan kesan yang dimilikinya.”[1] Membaca narasi tersebut, saya dapat menyimpulkan, bahwa adanya keterpengaruhan yang cukup kuat antara sebuah inspirasi seorang pencipta musik dengan karya yang disuguhkan. Oleh karenanya, sebelum kita terlalu jauh membincang lebih dalam hal-ihwal lagu ‘Aisyah’, alangkah baiknya jika kita tau lebih dahulu asal usul lagu tersebut.

Berangkat dari penulusuran sederhana, diketahui bahwa aslinya lagu tersebut tenyata bukan bernuansa religi layaknya yang kita dengarkan hari ini. Dua tahunan lalu, lagu tersebut adalah sebuah lagu yang diciptakan Project Band dari Malaysia. Lagu ‘Aisyah’ dalam versi aslinya merupakan lagu yang mengisahkan pasangan yang putus nyambung. Lalu, oleh Hasbi Haji Muh Ali atau Mr. Bie, lagu Aisyah digubah menjadi lebih bernuansa religi. Baru setelah ramai dinyanyikan ulang oleh para youtuber Indonesia, lagu itu menjadi viral dan merajai trending lagu-lagu baru di Tanah Air.

Terdapat respon kontra dari masyarakat Indonesia atas viralnya lagu tersebut. Tidak sedikit dari mereka yang begitu detail mengupas liriknya dan menganggap bahwa diksi-diksi yang dipilih dalam membangun lagu tersebut merupakan lirik-lirik sensual. Lirik lagu tersebut dianggap mampu menimbulkan efek erotis bagi para pendengarnya. Misal dari diksi: kulit bersih, merah pipi, bekas bibir, mencubit hidung, dan mengikat rambut. Lirik-lirik yang ada padanya dianggap hanyalah sebuah subjektivitas atas fisik perempuan belaka. Lebih ironinya, yang disifati tersebut ialah ummahatul mukminin; wanita mulia, istri dari manusia mulia Rasulullah SAW. Hal tersebut seolah-olah menimbulkan kesan bahwa esensi perempuan hanya dibatasi hal-hal yang sedemikian fisik.

Lalu, kelompok kontra lainnya adalah kelompok yang juga memiliki muara pandangan yang sama. Namun, mereka ini tidak begitu mempermasalahkan lirik, tapi lebih khusus menujukan kritiknya kepada para kawula muda yang kelewatan baper dalam merespon hadirnya lagu bertema romansa cinta islami antara Rasulullah dengan Sayidah Aisyah.

Keduanya sama sepakat dalam hal tidak menghendaki jika pandangan kawula muda terhadap Sayidah Aisyah hanya seputar sensualitas, kecantikan, manja dan kekanak-kanakan. Sebab hal tersebut cukup memungkinkan untuk mendorong mereka (khusunya kaum wanita) berlomba-lomba menjadi model yang harus berparaskan cantik, aktif nan manja. Selain itu, kritik tersebut syahdan juga sebagai sebuah reaksi prihatin, tersebab melihat muda-mudi yang justru menjadikan romansa antara Rasulullah dengan Sayidah Aisyah tersebut sebagai pemicu keinginan mereka untuk menikah di usia muda. Alasannya biar bisa segera membangun biduk rumah tangga romantis layaknya kisah Rasulullah, meski tidak harus menyertakan turut bermain lari-lari bersama.

Bagi saya sendiri, pertama kali berkenalan dengan lagu tersebut ialah saat melihat salah satu status video teman saya yang menyanyikan lagu tersebut di WhatsApp. Sambil mengamati mimik wajah teman saya, yang pertama kali terbersit, bahwa tidak sedikit orang-orang di sekitar kita yang kurang mampu mengambil ibrah sesungguhnya dari lagu tersebut. Sehingga, penghayatan terhadap peran dari Sayidah Aisyah hanya sebatas hiasan-hiasan luar semata. Kala itu, saya juga berpikiran sama, bahwa pandangan mereka yang terkesan ‘sebelah mata’ tersebut dikarenakan memang lirik-lirik dalam lagu itu demikian adanya. Maka, saya menyesali sendiri, sayang sekali sang penggubah lagu tidak menambahkan lirik-lirik yang terkait kecerdasan Aisyah, akhlak, ketangguhannya, serta karismanya. Bukan kah hal tersebut lebih edukatif dan substansial? Namun, setelah saya mengangan-angan liriknya beberapa hari kemudian, maka saya mencoba memaklumi subjektifitas masing-masing orang dan menepikan harapan idealis saya sebagai penikmat lagu.

Yang saya coba sadari, bahwasanya setiap lagu memiliki temanya tersendiri. Layaknya sebuah majalah. Saya tidak bisa memaksa dan menyamakan majalah yang saya baca harus bersifat ilmiah. Begitupun saat saya menikmati opini sebuah majalah yang memang ‘sekadar’ ingin menyampaikan pengetahuan-pengetahuan kesehatan, semisal: cara menjaga kesehatan tubuh di musim dingin, atau tips menjadi anak perantauan. Ketika saya ikutan terlalu mengkritik lirik lagu Aisyah tersebut, justru saya menertawakan penilaian saya sendiri yang terlalu terburu-buru. Mengapa saya harus mengkritisi lirik lagu yang tidak mengisahkan ketangguhan Aisyah, kecerdasannya, ataupun perkara yang lebih substansial dari sosok beliau lainnya. Sementara sang penggubah lagu hanya menginginkan lagu tersebut berisi sisi kemanusiaan Rasulullah dan Sayidah Aisyah. Yakni sisi romansa antara dua manusia mulia tersebut.

Terkait diksi yang dikatakan terkesan erotis bagi sebagian orang, jika melihat dari sejarah sang penggubah lagu, jelas sekali lirik-lirik lagu tersebut digubah oleh sesorang suami untuk sang istri, sebagai wujud syukur sekaligus doa agar sang istri mampu menjadi sosok laiknya Sayidah Aisyah. Selain itu, kenapa dikritisi sebagai diksi-siksi erotis itu, padahal di dalam kitab-kitab Hadits yang bertengger di rak buku kita banyak ditemukan. Lalu, di mana letak kesalahannya?

Wabakdu, saya pun mencoba memahami jika yang menjadi keresahan bersama adalah para kawula muda yang memahami mentah-mentah makna lirik lagu tersebut. Seyogianya, dengan kisah romansa Rasulullah yang dikemas dalam lagu tersebut, membuat diri kita lebih penasaran dan terus membaca, serta menghayati peran Sayidah Aisyah dalam hidup Rasulullah. Saya lebih berharap, hadirnya lagu tersebut menjadi titik reflektif-kultural bagi umat Islam sendiri, terkhusus kawula mudanya. Tidak hanya tenggelam dengan kebaperannya, tanpa ingin belajar dan tau lebih jauh tentang Siti Aisyah.

 

[1]. Nicolas Agung Pramudya, Penciptaan Karya Komposisi Musik Sebagai Sebuah Penyampaian Makna Pengalaman Empiris Menjadi Sebuah Mahakarya, 1 Juli 2019, vol. 17, Institus Seni Indonesia, Surakarta.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker