Opini

Menyoal Penolakan Jenazah Covid-19

Terhitung sejak Desember 2019, kita sedang melawan pandemi yang telah menjangkiti jutaan orang di berbagai belahan dunia. Di tengah upaya menanggulangi, wajar jika ketakutan dan kepanikan muncul dan tak bisa lepas dari benak masyarakat. Namun, sikap ketakutan yang berlebihan justru bisa merugikan diri sendiri atau orang lain. Bahkan bisa menjadi pemicu utama hilangnya rasa kemanusian, utamanya kepada para penderita Covid-19. Misalnya, kita melihat berbagai tragedi kasus penolakan jenazah Covid-19. Seperti dilansir dari KOMPAS.COM (9/4) terjadi aksi provokasi beberapa oknum terhadap warga untuk menolak pemakaman jenazah Covid-19 di Semarang, Jawa Tengah. Sedianya pemakaman tersebut dilaksanakan di TPU setempat, namun terpaksa dipindahkan ke makam keluarga RS. dr. Kariadi, Semarang.

Setelah dirunut, aksi tersebut ternyata bukan murni ulah seluruh warga setempat. Akan tetapi, ada tiga provokator yang menjadi dalang penolakan di desa Sewakul, Ungaran, Semarang. Ketiganya telah berhasil mengajak sepuluh orang warga untuk memblokade jalan masuk menuju TPU. Walhasil, aksi provokasi itu menuai kecaman netizen, karena dianggap telah berhasil mempengaruhi warga agar meluluskan kemauan mereka. Akhirnya Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, angkat bicara dan mengecam aksi tersebut yang diakibatkan ketidaktahuan warga terkait informasi jenazah penderita covid-19.

Dari tragedi penolakan jenazah Covid-19 tersebut, boleh saja kita membenci, bahkan mengecam tindakan tidak manusiawi mereka. Akan tetapi, jika kita berada di posisi warga yang tersulut emosi karena ketidaktahuan, akankah kita dapat mencegah aksi mereka? Pola yang demikian, bukan semata-mata menjadi kesalahan fatal warga setempat. Penyebab utama dari aksi tersebut bisa jadi kepanikan warga yang tidak dibarengi oleh validitas dan keakuratan informasi terkait pengurusan jenazah Covid-19. Saya pikir, pemerintah setempat juga gagal dalam hal ini. Utamanya ketua RT dan Kepalas Desa setempat. Kejadian penolakan jenazah sangat memilukan dan ironis, terlebih lagi jika melihat jenazah yang mereka tolak merupakan seorang perawat yang terinfeksi usai membantu menangani pandemi yang ada. Beliau bukan seorang kriminil atau warga sipil yang tidak taat terhadap himbauan pemerintah.

Permasalahan ini memang bagaikan dua sisi mata uang. Di satu sisi, ada sekelompok warga yang tidak tahu standar pemulasaraan jenazah covid-19, di sisi yang lain pemerintah lamban memberikan informasi akurat terkait hal tersebut. Ketika sudah terjadi, semua kebakaran jenggot. Netizen angkat bicara untuk mencaci maki pelaku tanpa ampun. Pemerintah turun tangan untuk melakukan konferensi pers menengahi permasalahan yang ada. Apa yang perlu diperbaiki dari kejadian ini? Jika hal demikian dianggap enteng, maka tragedi kemusiaan ini akan tetap berlanjut beberapa waktu ke depan. Memang kita menyadari, bahwa tugas pemerintah cukup berat untuk menangani pandemi ini. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan, terutama mengenai informasi yang menjadi penenang masyarakat di tengah masa pandemi ini.

Terkait informasi pemulasaraan jenazah covid-19, kita percaya penuh terhadap SOP yang sudah ditetapkan oleh MUI dan pihak rumah sakit. Di negera seperti Mesir, ada al-Azhar yang melalui Lembaga Fatwa Elektronik-nya telah menjelaskan dengan gamblang pemulasaraan tersebut tidak jauh beda dengan prosedur di Indonesia. Jenazah muslim Covid-19 tetap memiliki hak yang wajib terpenuhi, sebagaimana jenazah muslim pada umumnya. Bedanya, ada ketentuan kekhususan dalam pemulasaraannya. Proses memandikan jenazah Covid-19 pun hanya dilakukan oleh tim medis yang telah memiliki izin dari rumah sakit dengan menggunakan APD (alat pelindung diri) sebagai upaya pencegahan. Dalam proses memandikannya, tidak perlu sampai menyentuh jenazah, cukup dengan mengguyurkan air beberapa kali di atasnya.

Setelah proses memandikan jenazah, untuk mengafani tetap seperti ketentuan biasanya. Jenazah lalu dibungkus dengan plastik jenazah yang kedap air dan dimasukkan ke dalam peti yang telah disemprot disinfektan. Dari proses tersebut, kita sudah melihat bahwa prosedur yang dijalankan oleh rumah sakit telah sesuai dengan syariat yang berlaku. Asumsi masyarakat yang mengatakan jenazah tidak diurus dengan baik, tentu tidak benar. Catatan pentingnya, apabila tidak memungkinkan untuk dimandikan, jenazah boleh ditayammumi saja. Dalam hal ini para ulama mengacu pada kaidah fikih, al-Dlarûratu tubîhu al-Mahdhurât. Bahkan, Lembaga Fatwa Mesir berpendapat, apabila terdapat najis setelah proses pemulasaraan, najis tersebut boleh diabaikan. Dengan melihat kemaslahatan para tenaga medis dan mencegah penularan.

Di media sosial, beredar video pelaksanaan shalat jenazah oleh dua orang petugas medis. Hal ini, menurut saya juga sudah sesuai dengan fatwa al-Azhar dan Lembaga Fatwa Mesir yang berpendapat bahwa shalat jenazah boleh dilakukan dengan dua orang saja tanpa dibawa pulang. Ataupun, apabila pihak keluarga menginginkan shalat jenazah, boleh dilakukan di atas pusaranya setelah dimakamkan. Seluruh proses ini tidak lepas dari Maqâshid al-Syarîah yang telah menjadi patokannya, yaitu menjaga kelangsungan hidup seseorang. Tersebab jenazah Covid-19 memang tidak perlu dibawa ke rumah duka, meskipun masih berstatus ODP. Alasannya, faktor kekhawatiran dari ulama atas emosi labil keluarga yang tidak terkontrol, hingga ingin membuka dan melihat jenazah, yang nantinya justru menimbulkan penularan penyakit.

Kekhawatiran masyarakat saat ini ialah, ketika jenazah itu dikubur, virusnya akan menular kepada warga. Padahal, ahli medis sudah menjelaskan, bahwa ketika jenazah itu dikubur, maka virusnya juga akan mati karena inangnya telah mati dalam tanah. Virus tersebut tidak bisa keluar dan menjangkiti warga. Dari pernyataan seperti ini, poin penting asumsi masyarakat yang beredar telah terjawab. Senada dengan fatwa al-Azhar, MUI yang telah menjelaskan bahwa mengurus jenazah Covid-19 itu wajib hukumnya. Sementara oknum yang menolak dan berusaha untuk menghalangi pemakaman, ia dianggap tidak beretika, bahkan berdosa. Tidak boleh pula menyulitkan proses pemakaman jenazah Covid-19, terlebih setelah kita melihat proses pemulasaraannya sudah sesuai dengan standar fatwa ulama dan tim medis.

Jika kita melihat aksi penolakan jenazah Covid-19 tersebut, seakan-akan jenazah merupakan pelaku dosa besar yang wajib dihindari bersama. Asumsi seperti ini sangat berbahaya, sebab jika dibiarkan dan dipelihara, rasa kemanusiaan kita seolah telah hilang akibat adanya kekhawatiran yang berlebihan. Padahal, jamak kita ketahui bahwa orang yang wafat karena terjangkit wabah, ia dicatat sebagai syahid (akhirat) di sisi Allah. Ironis memang. Di saat kita seharusnya bersatu untuk melawan pandemi, masih saja ada sekelompok oknum yang masih cetek pemahamannya terkait persoalan Covid-19, sehingga menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat. Memang perlu adanya sinergisitas antara pemerintah dengan masyarakat, ketua RT dengan warganya, atau orang tua dengan keluarganya. Agar, kejadian yang telah terjadi kesekian kalinya itu tidak dianggap satu hal yang lumrah.

Sebagai seorang yang melek informasi, setidaknya kita ikut andil menjelaskan persoalan yang rumit terkait wabah ini kepada (minimal) keluarga masing-masing. Ikut andil tidak melulu berdonasi dengan nominal yang besar. Cukup dengan (misalnya) memberikan informasi yang benar terkait pemulasaraan jenazah Covid-19 dengan akurat. Informasi yang benar terkait itu, sebenarnya sudah ada di beberapa media, kesalahannya terletak pada kita yang sering acuh dan menganggap tidak penting. Seyogianya kita juga menjaga kekondusifan lingkungan kita dengan memberi informasi yang akurat. Biarlah pemerintah bekerja sesuai porsinya. Dokter dan perawat berjaga sepanjang malam di rumah sakit sebagai garda terdepan. Kita sebagai seorang anak, orang tua atau bahkan ketua RT, memberi informasi penting dan menaati himbauan pemerintah. Saya ingat adagium dari bahasa Madura “Lakonnah lakonêh, kenengah kennengêh,” artinya sederhana namun mendalam; porsi kerjaannya kerjakan, tempati posisimu sendiri. Artinya, kita bergerak sesuai posisi dan porsi kita, tanpa meributkan dan mencampuri posisi orang lain. Jika sudah begitu, kita optimis, Indonesia kuat!

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Achmad Zainulloh Hamid

Manusia yang sibuk dalam pikirannya.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker