Humaniora
Trending

Menziarahi Imam Abdurrahman al-Auza’i, Mujtahid Negeri Syam yang Terlupakan

5/5 (11)

Perjalanan kami akhirnya sampai juga, usai menyusuri jalanan kota Beirut yang dipenuhi gedung-gedung apartemen menjulang tinggi. Melewati sederet kompleks pertokoan di kanan dan kiri jalan, serta melintasi ramainya kendaraan yang lalu lalang silih berganti. Tak terasa sudah satu jam kaki ini melangkah. Kebersamaan dengan kawan-kawan membuat perjalanan menjadi terasa menyenangkan. Capek dan letih menjadi terbayarkan saat kami sampai di tempat tujuan, yakni Makam Imam Auza’i.

Imam Auza’i bernama lengkap Abu ‘Amr Abdurrahman bin Umar bin Muhammad al-Auza’i. Beliau lahir di Ba’albek, sebuah kota di bagian timur laut Lebanon pada tahun 88 H. Beliau sezaman dengan Pendiri madzhab Hanafi, Imam Abu Hanifah (lahir 80 H) dan lahir lebih dahulu dari Imam Syafii yang lahir pada tahun 150 H. Imam Auza’i termasuk ulama besar dari Negeri Syam yang telah mencapai derajat imam mujtahid mutlak, sehingga beliau memiliki madzhab tersendiri yang disebut dengan madzhab Auza’i, sama halnya dengan empat madzhab lainnya.

Dahulu, Madzhab Auza’i diikuti dan diamalkan oleh penduduk negeri Syam (Suriah, Lebanon, Jordania & Palestina) selama kurang lebih dua ratus tahun. Kemudian penganut madzhab Auza’i berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya tak tersisa sama sekali. Sekarang sudah tidak diketemukan lagi orang yang mengikuti Madzhab Auza’i. Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak adanya kodifikasi literasi maupun referensi madzhab beliau oleh murid-muridnya. Alhasil, tidak gampang menemukan literatur klasik yang membahas tentang Madzhab Auza’i, baik pada masa dahulu, apalagi sekarang.

Hal ini, lantas mengingatkan saya betapa pentingnya penulisan sebuah ilmu ataupun karya ilmiah lainnya. Kumpulan tulisan akan tetap lestari dan bisa dimanfaatkan oleh generasi sesudahnya, meski penulisnya telah meninggal ratusan tahun. Tentu sangat disayangkan, bagaimana pemikiran cemerlang seorang ulama besar seperti Imam Auza’i tidak bisa lagi dinikmati oleh generasi sekarang.

Sebagaimana ulama mujtahid lainnya, Imam Auza’i juga berakidah tanziih, yaitu keyakinan yang diajarkan oleh Rasulullah dan para Sahabat. Yakni menyucikan Allah Taala dari keserupaan makhluk-Nya dari satu segi, maupun dari semua segi. Dia tidak di bumi, tidak di langit dan tidak di atas arsy. Ada tanpa tempat, sebelum menciptakan tempat dan setelah menciptakan tempat, tetap ada tanpa tempat.  Hal ini merupakan ijma ulama, tidak ada  perselisihan di antara mereka, sebagaimana dinukil oleh Imam Murtadla al-Zabidi dalam kitabnya Ithafus-Sadah al-Muttaqin syarah Ihya Ulumiddin.

Para Imam Mujtahid semuanya bersepakat dalam masalah ushul (pokok dan pondasi agama) yang menyangkut akidah dan tauhid, perbedaan yang terjadi di antara mereka, sehingga muncul beragam madzhab seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafii, Hanbali, Auza’i dan lainnya, hanyalah pada masalah furuk (cabang agama) yang menyangkut hukum-hukum agama. Misalnya madzhab Syafii mengatakan bahwa basmalah termasuk ayat dari surat al-Fatihah, sehingga orang yang tidak membacanya di dalam shalat, batal shalatnya. Berbeda dengan madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa shalatnya tidak batal karena basmalah bukan ayat dari al-Fatihah. Dalam masalah aurat bagi laki-laki misalnya, menurut madzhab Maliki, aurat bagi laki-laki adalah kubul dan dubur, sehingga paha bukan termasuk aurat yang harus ditutupi. Sedangkan menurut madzhab Syafii, paha termasuk bagian aurat laki-laki yang harus ditutupi, karena batasan aurat menurut Syafiiyyah adalah antara pusar dan lutut. Sementara dalam masalah akidah, semuanya sepakat bahwa Allah Taala ada tanpa tempat dan arah.

Kembali ke kisah perjalanan kami ke makam Imam Auza’i, suasana langsung terasa berbeda begitu kami memasuki gerbang area makam. Hening, syahdu dan sunyi. Pemandangan di dalam kompleks makam yang terdiri dari bangunan masjid, kantor pengurus dan makam terlihat kontras dengan pemandangan di luar area makam. Baik itu dibandingkan dengan kondisi rumah-rumah di sekitaran makam, atau dengan bangunan-bangunan bertingkat selama perjalanan kami menuju makam. Sebuah menara adzan berwarna putih berdiri di samping masjid. Bentuknya yang runcing sekilas mirip dengan menara masjid biru (blue mosque) di Istanbul, Turki. Dinding bangunan area makam didominasi oleh warna sawo matang dengan corak batuan penuh guratan. Panoramanya seolah membawa kami ke zaman seratus atau dua ratus tahun yang lalu.

Kompleks Makam Imam Auza’i sendiri letaknya berada di pinggir laut. Hanya berselang dua puluhan meter dari bibir pantai. Begitu sampai tujuan, sebagian kawan langsung berziarah ke makam, yang bersebelahan dengan Masjid. Saat kami duduk-duduk hendak melepaskan tali ikat sepatu, salah satu teman berbisik mengingatkan untuk shalat Sunah terlebih dahulu sebelum berziarah. Ajakan tersebut mengingatkan saya pada sebuah hadits Rasulullah yang menyebutkan bahwa bumi yang kita jadikan tempat sujud akan menjadi saksi bagi kita pada hari kiamat. Oleh karenanya, saat akan melakukan shalat Sunah Rawatib (qabliah ataupun ba’diah), kita dianjurkan untuk berpindah atau bergeser dari tempat semula kita mengerjakan shalat fardlu. Begitu pun, saat berkunjung ke suatu daerah, kita dianjurkan untuk melakukan shalat Sunah dua rakaat di masjid yang kita kunjungi tersebut.

Kami berdua pun langsung berwudlu dan menunaikan shalat Sunah terlebih dahulu sebelum berziarah. Suasana di Masjid begitu tenang, syahdu dan khidmat, dengan paduan cahaya yang redup nan temaram kami melakukan shalat dengan khusyuk. Kami sejenak melupakan hiruk-pikuk kota Beirut. Setelah itu, kami bergegas masuk ke makam Imam Auza’i yang berdampingan dengan masjid. Kami membaca ayat-ayat suci al-Quran dan beberapa kalimat tayibah seperti takbir, tasbih, tahmid, tahlil, hauqalah dan istighfar. Lalu kami memungkasinya dengan berdoa kepada Allah dengan wasilah Imam Auza’i. Sebab disebutkan dalam sebuah keterangan, bahwa Makam Imam Auza’i termasuk salah satu di antara tiga makam aulia di Beirut yang mustajab untuk berdoa.

Usai berdoa dan mengambil foto dokumentasi secukupnya, kami pun memutuskan untuk meninggalkan makam Imam Auza’i. Semoga dengan wasilah Imam Auza’i, hajat kami dikabulkan oleh Allah Taala dan kami bisa mengambil hikmah dari kisah, keluhuran pekerti serta kepakaran beliau dalam segala bidang ilmu.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Muhammad Sirril Wafa

Mahasiswa Global University Lebanon, Alumnus YPRU Guyangan-Pati
Back to top button
Close