Editorial
Trending

Mewaspadai Propaganda Ulama Khilafah

4.56/5 (18)

Belum lama ini, akun Youtube (RayahTV) mengunggah sebuah video pendek yang cukup menggemparkan jagat media sosial. Pasalnya video tersebut menyuguhkan kompilasi ceramah dan cuplikan kegiatan orang-orang yang dilabeli sebagai Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah, tapi justru menyerukan khilafah.

Kemunculan para tokoh yang terindikasi kuat berafiliasi dengan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) ini kami kira sangat berani dan cenderung adigang-adiguna. Meski dalam acara tersebut tidak membawa-bawa nama HTI, namun di negara kita Indonesia, siapa lagi yang begitu getol “jualan” sistem khilafah kalau bukan dari kelompok HTI. Boleh jadi Jamaah Islamiah, JAD (Jam’iyyah Anshor al-Daulah), JAT (Jam’iyyah Anshor al-Tauhid) atau jamaah yang sejenisnya juga bermimpi mengganti NKRI menjadi negeri Islam, tapi jargon yang mereka jual bukan daulah khilafah ala HTI. Dalam video tersebut, secara terang benderang salah satu nama yang berpidato menyebut bahwa solusi yang bisa membereskan masalah (di Indonesia) hanyalah khilafah.

Belakangan ini, seseorang memang begitu mudah dilabeli atau bahkan melabeli diri dengan sebutan ulama. Ulama yang dahulu merupakan gelar prestisius dari masyarakat kepada orang-orang suci, alim dan mulia kini mengalami reduksi, bahkan degradasi. Ini tidak lain karena “kelakuan” para ulama abal-abal yang banyak menghiasi layar televisi atau jagat media sosial kita. Para ulama abal-abal inilah yang kemudian merendahkan dan menjual agama demi kepentingan politik atau kepentingan kelompoknya. Fenemona tersebut terekam jelas pada video yang disuguhkan akun RayahTV. Mereka yang notabene secara nama dan wajah masih sangat asing dalam katalog ulama populer Indonesia, tapi tiba-tiba berani mengadakan pertemuan (Multaqo) dengan label Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah Indonesia. Dari beberapa nama yang asing itu, sebut satu misalnya Dr. KH. Fahmi Lukman. Beliau adalah mantan Atase Pendidikan KBRI di Mesir yang didemo dan “dipulangkan” mahasiswa karena “jualan” secara halus doktrin khilafah kepada para mahasiswa Indonesia di Mesir. Dalam video yang viral itu, beliau juga secara ajaib telah menyandang gelar kiai atau ulama dan seolah berbicara atas nama umat Islam. Ya, mereka dengan pedenya berbicara seolah mewakili ulama-ulama Indonesia. Bahkan mereka seolah merupakan representasi dari ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah yang paling benar. Ini tercermin dari pernyataan mereka, bahwa banyak oknum kiai atau ulama Indonesia yang berdiri di zona nyaman dengan tidak menyerukan khilafah. Padahal mengaplikasikan sistem khilafah adalah wajib hukumnya menurut mereka.

Indonesia sebagai negara yang menganut sistem republik berlandaskan Pancasila adalah negara yang harus diubah sistemnya menjadi berdasar khilafah. Sebab demokrasi adalah buatan orang kafir yang akan membuat kita murtad dan bunuh membunuh. Lucunya, salah satu alasan lain yang menguatkan adanya keharusan perubahan itu karena konon Indonesia akan dijajah bangsa Cina. Satu-satunya yang bisa menghentikan laju (penjajahan) Cina adalah sistem yang sudah mendunia, sistem yang universal, alias sistem khilafah. Padahal faktanya, sistem pemerintahan khilafah adalah produk gagal yang sudah tidak laku dijual di negeri-negeri Arab atau negeri manapun. Terbaru, ISIS yang gagasan sistem pemerintahannya menganut model khilafah pun gagal total dan dilanda fiksi serta perang rebutan kekuasaan tak berkesudahan.

Terlepas dari apakah pembubaran HTI di Indonesia sudah berkekuatan hukum tetap atau belum. Menurut kami, kemunculan tokoh-tokoh dan simpatisan HTI dalam acara masif Multaqo Ulama Ahlu Sunnah Wal Jamaah adalah sinyal-sinyal bahaya yang harus segera direspon oleh aparat, pemerintah, bahkan oleh kita sebagai para pembaca yang cerdas.

 

Redaksi

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close
Close