Opini
Trending

Muhasabah Politik(us)

5/5 (2)

Pembahasan tentang politik tidak akan pernah usang, sebab di setiap perkembangan zaman, gaya perpolitikan selalu dapat berasimilasi dengan keadaan. Konon memang seperti itu. Baik di zaman dahulu, maupun sekarang. Praktik politik sudah menjadi sahabat dari bagian hidup manusia dalam bermuamalah antar-individu ataupun antar-golongan.

Namun pada kenyataannya, justru berbanding terbalik dengan keadaan dewasa ini. Masyarakat memahami politik dengan stigma negatif. Misalnya dengan hadirnya paham sekularisme tentang pemisahan agama dan politik, sehingga muncul ungkapan-ungkapan seperti, “Lebih baik memiliki pemimpin non-muslim tapi adil, daripada muslim tapi tidak adil, ulama jangan berpolitik, politik tidak ada hubunganya dengan agama dan agama jangan dibawa-bawa dalam politik.” Itulah sederet ungkapan berbau propaganda destruktif yang menggambarkan Islam tidak mempunyai andil sama sekali dalam dunia politik.

Melihat ungkapan tadi, kita dapat meraba adanya indikasi dari keinginan sekularis akan dunia perpolitikan. Mereka memunculkan rasa takut dalam benak masyarakat untuk menjauhkan Islam dari politik. Di sisi lain, mereka seakan sengaja menciptakan perang pemikiran (ghazwah al-fikriyyah) untuk mengacaukan umat muslim dari dalam, sehingga mereka takut untuk terjun dalam dunia politik. Ini tentu sangat berbahaya juga bagi generasi milenial saat ini, yang memahami arti politik hanya melalui media sosial serta searching di internet saja. Padahal jika mengacu literasi teks Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya al-Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, bahwa salah satu dari empat peran pokok manusia sebagai khalifah di dunia ini ialah berperan dalam bidang siyâsah (politik).”

Jika mengacu pada KBBI, politik ialah pengetahuan mengenai ketatanegaraan dan tindakan (siasat) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Definisi yang simpel dan instan, namun perlu upaya untuk mengkaji lagi lebih mendalam serta memperluas cakrawala pemahaman terkait politik tersebut. Dalam Islam, tindakan politis pertama kali dicontohkan oleh Nabi SAW, ketika hijrah ke Madinah. Dalam hijrahnya, Nabi membangun masjid untuk mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar. Kemudian Nabi mengadakan perdamaian dengan kaum Yahudi Madinah dalam bentuk perjanjian (piagam Madinah) agar saling memberi pertolongan dan perlindungan. Dengan kebijakan tersebut, secara tidak langsung Nabi telah menjadi pemimpin pertama dalam Islam dan telah memberikan suri teladan tindakan politis yang islamis.

Dari praktik politis Nabi itu, kita dapat memahami bahwa politik dalam Islam  adalah aturan atau kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat untuk mengarahkannya menuju taraf hidup yang lebih baik. Dalam satu pengertian yang lain, politik menurut perspektif Islam diartikan segala kinerja manusia yang dapat mendekatkan mereka pada kebaikan dan menjauhkan dari kerusakan, yang tidak menyalahi syariat. Dari sini kita dapat memahami politik yang baik adalah politik yang tidak menyalahi hukum-hukum yurisprudensial Islam. Akan tetapi sebaliknya, politik yang sejalan denganya, bahkan dianggap sebagai bagian darinya.

Iklan

Meski aturan berpolitik secara islami tidak diterangkan secara eksplisit dalam al-Quran, namun secara implisit Allah menitipkan pesan di dalamnya yang berbunyi, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh pada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah”, (QS Ali Imran: 110). Ketetapan Allah dari bunyi ayat di atas menunjukkan bahwa kaum muslimin adalah umat terbaik di antara manusia, merupakan tanda agar mereka menjadi pemimpin dan penuntun bagi umat yang lain, serta kalimat menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran adalah landasan kita dalam berpolitik. Terkait makna ayat di atas dalam kitab Fii Zhilalil Qur’an, Sayyid Qutb menafsirkan, bahwa yang layak menjadi pemimpin umat manusia hanyalah “Orang-orang yang berpredikat terbaik.”

Melalui pemahaman politik yang utuh dengan berpedoman dari nash al-Quran dan Hadits, serta Nabi sebagai tokoh panutan dalam mengambil kebijakan sebagaimana di atas, seharusnya membuat masyarakat tidak takut lagi dalam dunia politik. Kilas balik sejarah tentang peran Islam dalam politik di masa kejayaan Islam dahulu menjadi penting untuk dilakukan. Agar dapat meyakinkan diri mereka bahwa perspektif Islam dalam berpolitik lebih baik dari politik sekular dan sebagainya. Contohnya bisa dilihat pada masa Sultan Shalahudin al-Ayyubi. Beliau selalu disertai ulama yang sangat hebat dan shaleh; Qadhi Fadhil, Sultan Muhammad al-Fatih seorang raja dari kerajaan Turki Utsmani yang sangat terkenal dan  religius hingga dapat menaklukan kekaisaran Romawi Timur juga selalu didampingi syekh yang rabbany, yakni Syekh Syamsuddin Aqa.

Meski dalam Islam politik tidak dijelaskan secara detail, baik dalam al-Quran dan Hadits, namun Nabi selalu mengimplementasikan politik dalam kepemimpinanya secara taqriri, yakni berupa menjunjung tinggi kemaslahatan serta menyeru pada kebaikan serta mencegah kemungkaran. Untuk konteks sekarang, Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyib adalah figur pemimpin Islam yang telah menjalankan suri teladan dalam berpolitik yang santun. Untuk contoh yang terdekat, Syekh Ahmad Thayyib telah mencontohkan menjadi warga negara yang baik dengan cara ikut berpartisipasi dalam proses demokrasi Mesir.

Syahdan, menjernihkan kembali pemahaman umat muslim atas politik Islam merupakan solusi yang tepat untuk dilakukan. Seyogianya masyarakat bisa menerapkan hukum-hukum yurisprudensi Islam dalam kancah politik. Jikalau sudah sesuai syariat Islam, niscaya politik dapat menyelamatkan masyarakat dari kesengsaraan, ketimpangan dan dekadensi moral politisi saat ini. Sebab mayoritas politisi saat ini cenderung lebih condong kepada intrik perebutan dan peruntuhan kekuasaan. Hingga akhirnya berujung pada laku politik praktis, money politic dan aksi politis tidak sehat lainnya.

Oleh karena itu, Islam hadir sebagai solusi atas problematika politis di atas. Dengan pemahaman politik yang utuh dan komprehensif, Islam akan bisa memayungi masyarakat untuk mendapatkan keadilan, kedaulatan dan kesejahteraannya. Maka inilah saatnya bagi umat Islam untuk merekonstruksi kembali pikiran serta semangat juangnya agar tidak takut terjun dalam dunia politik. Sebab kalau seluruh umat muslim apatis, golput atau tidak peduli politik, maka mereka akan dipimpin oleh politikus yang tidak peduli nasib orang Islam. Tentunya kita sebagai muslim tidak ingin hal itu terjadi, tentunya kita harus mulai belajar politik dan menyiapkan kader terbaik guna mengisi dunia perpolitikan Islam demi bangkitnya kejayaan umat Islam.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tags
Show More

Related Articles