FilmResensi

Mulan 2020; Kisah Kebaktian dan Penolakan Patriarki

Kualitas seorang istri idaman ialah perempuan yang diam, tenang, anggun, elegan, dan sopan! Kira-kira demikianlah pesan Madam Matcmaker dalam film ‘Mulan’.  Siapapun yang ingin ‘membawa kehormatan’ untuk keluarganya, maka hendaklah memiliki sifat-sifat yang telah disebutkan. Dengan begitu, kualitas seorang istri idaman bisa dinilai pertama kali saat ia menuangkan teh ke dalam cangkir, ketika ia mengatur posisi teko yang sejajar dengan cangkir. Selain itu, gambaran lingkungan yang seolah memandang sebelah mata bagi perempuan yang belajar bela diri, memiliki pemikiran luas dan belajar ilmu-ilmu selain ilmu perdapuran. Demikianlah kesan pertama yang saya dapati ketika menonton prolog film Mulan ini.

“Mulan 2020” merupakan remake live-action dari animasi Disney 1998 di bawah naungan studio produksi Walt Disney. Disutradari oleh Niki Caro dengan Chris Bender, Jason Reed, dan Jake Weiner sebagai produser. Sementara naskah ditulis oleh Rick Jaffa dan Amanda Silver. Karakter utama Mulan sendiri diperankan oleh Liu Yifei, dengan sejumlah pemeran pendukung yang populer, seperti Jet Li, Donnie Yen, Jason Scott Lee, serta Gong Li.

Meskipun memiliki judul serupa, Mulan versi remake sedikit berbeda dengan versi animasi yang diterbitkan tahun 1998. Film ini pada awalnya akan ditayangkan perdana pada akhir Maret, akan tetapi karena pandemi Covid-19, Disney menunda penayangannya beberapa kali, hingga akhirnya memutuskan tayang secara terbatas di beberapa negara. Film ini akhirnya rilis pertama kali pada 4 September 2020 melalui platform Disney+.

Secara singkat, film Mulan versi remake yang kita bahas di sini bercerita tentang seorang perempuan China yang menyamar sebagai seorang pria untuk bertarung menggantikan ayahnya. Berhubung situasi Kekaisaran China saat itu tengah diserang oleh bangsa Rouran, membuat Kaisar mengeluarkan dekrit yang mengharuskan setiap keluarga mengirimkan satu pria untuk berjuang di medan perang. Keluarga Mulan tidak memiliki anggota laki-laki lain selain ayahnya. Akan tetapi, kondisi ayahnya yang sudah tua dan tidak lagi bugar membuat Mulan turun tangan menggantikan ayahnya yang sakit. Menyamar sebagai seorang pria; Hua Jun, harus menaklukkan setiap tantangan yang ditemuinya.

Sisi Kontroversial
Sebagai film, karya sinematik ini menargetkan sasaran utamanya yaitu pasar bioskop China yang besar. Sang produsen merasa penting untuk memerhatikan respon dari audien China. Akan tetapi, dilansir dari situs review film Rotten Tomatoes, Sabtu (17/10/2020), film Mulan justru mendapatkan rating sebesar 0% dan juga kritikan secara masif.

Kritikan secara masif yang ada bukan tanpa sebab. Sebab Hong Kong saat itu sedang berada dalam situasi di tengah kekacauan dan perjuangan pro-demokrasi. Sementara tokoh utama pemeran Mulan; Liu Yifei justru memberikan dukungannya terhadap polisi Hongkong. Hal ini dianggap bertentangan dengan HAM, karena polisi Hong Kong melakukan tindakan kekerasan pada para pendemo, pun terhadap UU ekstradisi untuk warganya.

Selain itu, fakta bila seluruh anggota tim produksinya tidak melibatkan orang Asia dan China, padahal film ini mengambil budaya China (sebagai latar belakang cerita) sontak menuai berbagai kritik. Hal ini sedikit banyak berimbas pada beberapa scene yang cenderung memaksakan latar tempat untuk terlihat seperti China zaman dahulu, tapi justru terasa aneh. Kritik menurunnya kualitas cerita, soundtrack yang tidak memorable, hingga tidak ada pengembangan karakter dari awal hingga akhir juga mendapat sorotan.

Misalnya adegan ketika tentara Rouran melawan tentara kerajaan di medan perang. Mulan, dengan kecerdikan yang dimilikinya berhasil mengubah perhatian tentara Rouran untuk berbalik ke arah gunung salju dan menggelontorkan salju tersebut sebagai serangan balik. Adegan tersebut menampilkan sosok Mulan dengan rambut panjang tergerai, berbeda dengan adegan-adegan sebelumnya yang menampilkan karakternya dengan rambut diikat khas laki-laki.

Adegan ini sedikit aneh, mengingat tokoh laki-laki dalam Wuxia Drama, detektif Dee, atau film-film China lain yang mengambil latar waktu zaman dinasti Tang juga memiliki rambut panjang, karena memang kultur budaya dan lingkungannya yang demikian. Hal ini menunjukkan adanya riset yang tidak maksimal dan asal-asalan dalam membuat film Mulan. Semudah itukah penyamarannya terbongkar, padahal dalam adegan-adegan sebelumnya, ia berusaha menyembunyikannya dengan memakai kemban dan mandi terpisah. Untuk apa adegan-adegan tersebut jika mengurai rambut saja sudah ketahuan?

Sisi Positif Plot
Meskipun film ini memiliki banyak kekurangan dan menuai banyak kritik, akan tetapi Mulan mengajarkan banyak sisi positif. Dalam adegan mendekati akhir misalkan, ketika Mulan mendapatkan tawaran untuk menjadi petugas pengawal Kaisar, akan tetapi tawaran tersebut justru ditolak dengan halus dengan alasannya untuk mengabdi kepada keluarga, kepada orang tua. Hal ini didukung dengan ucapan Kaisar setelahnya, “Pengabdian kepada keluarga adalah kebijakan penting.”

Hal ini selaras dengan apa yang telah diajarkan Islam bahwa bakti kepada orang tua adalah sebuah amalan yang agung dan besar pahalanya. Begitu pula sebaliknya, durhaka kepada keduanya merupakan sebuah dosa besar. “Dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan berkata dusta atau sumpah palsu.” (H.R Bukhari Muslim).

Pada prolog tulisan ini telah saya singgung bahwa keterkungkungan budaya dan lingkungan seolah memberikan batas kepada perempuan untuk mempelajari sesuatu yang ‘hanya menjadi kodratnya’. Masyarakat lantas memandang sebelah mata kepada perempuan yang berbeda, yang berani mengekspresikan dirinya.

Menurut saya, hal-hal yang cenderung maskulin seperti lincah berlari, mampu mengangkat beban berat, memasak, merajut itu adalah skill yang semua orang mampu untuk melakukannya. Skill tersebut bisa dilatih tanpa membedakan gender tertentu. Jika dalil yang digunakan untuk menggeneralisasi kegiatan tersebut adalah fitrah, maka hal tersebut lebih cocok kepada fitrah kemanusiaan. Bagaimana menyebarkan kebaikan, kedamaian, kesetiaan, maupun tolong menolong terhadap sekitar, sesuai dengan fitrah manusia, bukan dipengaruhi gender manusia. Ini sebagaimana sudah digambarkan cukup baik dalam film Mulan 2020.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Makkis Fuadatal Qodisiyah

Wapimred Buletin Bedug 2018-2019, Redaktur Ahli Buletin Bedug, anggota Lakpesdam PCINU Mesir.
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker