Opini
Trending

Politik (itu) Praktis

5/5 (2)

Saat mendengar kata politik, pandangan umum kita akan langsung mengarah pada teori politik praktis. Makna politik dalam ruang pikir paling sederhana seolah berputar pada lingkup pemerintahan, partai, parlemen dan negara. Padahal, jika ditelaah kembali, konsekuensi laku dari definisi politik tidak sesempit itu. Saya merasa, kita perlu membebaskan diksi politik yang terlanjur tersandera pada ruang politik praktis, lantas membawanya sebagaimana ia seharusnya.

Dalam laku keseharian, kita tidak bersentuhan secara langsung dengan politik praktis, selain sebagai pemilih (wakil rakyat) pada masa-masa tertentu. Hal ini menyebabkan “putihnya” pengalaman dan pengetahuan kita terhadap seluk-beluk politik praktis secara langsung. Maka, dalam konteks ini, kita perlu membersihkan makna politik dari beban politik praktis maupun ajaran agama terlebih dahulu. Membahas makna kata politik asali menjadi penting, setidaknya untuk dua sebab. Pertama, seyogiayanya kita memahami makna kata politik dalam ranah awal, sebelum masuk ke istilah yang lebih jauh lagi. Paling tidak, makna awal dari istilah ini menjadi semacam pengingat, bahwa ketika ia mengalami peyorasi, ia tetap tidak kehilangan jati dirinya. Kedua, “keruhnya” dunia perpolitikan di Indonesia seakan mencemari makna asal kata politik itu sendiri. Sehingga, kita bisa mengenali pergeseran maknanya ketika istilah politik disandingkan dengan kata lain. Lagi-lagi, ini penting untuk mengembalikan ruang politik ke asal maknanya. Dari sini, paling tidak kita mampu melihat dunia perpolitikan di Indonesia dengan kesadaran, bahwa ia tampak buram tersebab oknum yang ‘bermain kotor’ di dalamnya, bukan karena politiknya.

Secara etimologi, kata politik berasal dari bahasa Yunani polis yang berarti kota atau negara kota. Secara istilah, berasal dari bahasa Yunani politikos, yang berarti dari, untuk, atau yang berkaitan dengan warga negara. Kata politik dalam bahasa arab yakni siyâsah, yang mana menurut hemat penulis dapat diserap dan diasosiasikan menjadi kata siasat. Siasat dalam kelas nomina, memiliki makna yang homofon dengan kata politik. Yakni; muslihat, taktik, tindakan, kebijakan, dan akal untuk mencapai suatu maksud. Hakikat siasat berarti pengaturan atau manajemen laku dalam menghadapi situasi tertentu, agar terwujudnya hasil akhir yang baik, sesuai dengan fitrah kebutuhan manusia seperti rasa bahagia dan kepuasan.

Menurut KBBI, pengertian dari kata politik sendiri ialah cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah). Secara etimologi, kata siyâsah atau politik, dalam bahasa Arab berasal dari kata sâsa yang berarti memimpin, memerintah, mengatur, dan melatih. Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan tentang makna siyâsah, yakni “Menegakkan/menunaikan sesuatu dengan apa-apa yang bisa memperbaiki sesuatu itu,” (dalam al-Minhâj Syârh Shâhîh Muslim). Jika dilihat dari definisi siyâsah tersebut, maka pada dasarnya politik adalah tindakan yang mulia; memiliki orientasi dan tujuan dari suatu sikap menuju ke arah kebaikan serta menjauhi kerusakan.

Prinsip dari siasat dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada manusia yang hidup tanpa siasat, bahkan dalam menyelesaikan hal sepele sekalipun. Contoh yang pertama, prinsip siasat saat hendak berpergian. Siasat memiliki tipologi masing-masing. Misalkan, si A hendak pergi ke daerah Hay Asyir menggunakan bus, tentu siasat yang ia pikirkan berbeda dengan si B yang sama-sama hendak ke Hay Asyir menggunakan taksi. Kemudian, si A akan bersiasat, bagaimana langkah yang akan ia ambil dalam proses menuju Hay Asyir tadi. Apakah menggunakan bus 80 coret, biaya yang diperlukan 2,5 pound Mesir, tetapi agak lambat karena bus tersebut berukuran besar dan bisa menampung cukup banyak penumpang. Sehingga sebentar-sebentar melipir ke bahu jalan untuk menaikkan/menurunkan penumpang. Ataukah menggunakan 24 jim (karena terlalu lama menunggu 80 coret tak kunjung tiba), biaya yang dibutuhkan biaya 2,5 pound Mesir, yang tujuan akhirnya ke Hay Sabi’. Tapi lebih cepat karena tidak muter ke Tabah Asyir. Setelah itu harus nremco sampai Hay Asyir, bertambah pula ongkosnya. Si B juga akan bersiasat, bagaimana langkah yang cerdik agar tidak ditipu oleh supir taksi, atau bahkan sampai Hay Asyir dengan ongkos yang terhitung murah meskipun dengan taksi.

Contoh selanjutnya, siasat yang digunakan untuk menghadapi ataupun saat ujian termin di Universitas al-Azhar berlangsung. Sebagaimana kita tahu, ujian Azhar merupakan suatu hal yang sakral dan tentu berbeda dengan ujian pada umumnya. Kesuksesan atau keberhasilan seseorang dalam ujian ini, menurut pengamatan penulis, tidak terbatas pada seberapa pintarnya orang itu, atau seberapa rajinnya ia mempelajari muqarrar. Keyakinan akan keberhasilan ujian melalui ‘jalan’ lain faktanya memang ada. Ujian Azhar bagi Masisir bagaikan hari lebaran. Rasa ikhlas dan rida satu sama lain sangat diharapkan ketika mendekati ujian. Saling doa-mendoakan, di samping belajar siang dan malam. Dalam hal inilah, siasat yang digunakan bermacam-macam. Ada yang ‘mengencangkan’ sedekahnya. Ada yang biasanya susah untuk shalat tahajjud, lantas menjadikan tahajjud sebagai wasilah agar dimudahkan saat mengerjakan ujian dan mendapat hasil sesuai keinginan.

Contoh terakhir, penulis ingin mengulik sedikit mengenai sejarah Mesir zaman dahulu. Singkatnya, pada 1797 setelah Mesir lepas dari Turki Utsmani, Prancis masuk ke Mesir untuk pertama kalinya, dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Ini berarti kekuasaan Mesir ada ditangan Prancis, atau istilahnya dijajah. Perlu kita ketahui, penjajahan ada yang bersifat membangun atau isti’mâr, ada juga penjajahan yang memang lebih ke perusakan atau ihtilâl seperti saat Belanda dan Jepang menjajah Indonesia. Kemudian, tentunya ulama dan syekh di Mesir pada zaman itu tidak hanya diam. Mereka melakukan siasat agar menjajahnya Prancis menghasilkan kontribusi bagi masyarakat Mesir. Ulama dan syekh membangun relasi yang cukup akrab dengan pemerintah penjajah. Meskipun hal ini sempat dikecam oleh masyarakat, namun kontribusi penjajah Prancis terhadap Mesir dapat kita lihat hingga saat ini. Seperti nafaq di Darrasah, terowongan bawah tanah untuk menyebrang. Atau bangunan-bangunan dengan tingkat seni yang tinggi. Hal ini tidak akan terjadi tanpa adanya siasat.

Pada akhirnya, berkaca pada contoh-contoh di atas, dapat kita simpulkan bahwa politik bermakna siasat yang kita sepakati tadi sangat penting dan kita butuhkan. Laku kehidupan tidak akan jauh-jauh dari siasat. Bahkan dalam permainan atau perlombaan pun perlu siasat, seperti saat bermain sepak bola. Maka dari itu, pengetahuan akan politik perlu digencarkan. Barangkali, dengan memaknai politik menjadi hal yang erat dengan kehidupan kita, dapat membuat kita paham akan pentingnya politik itu sendiri.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Artikel Terkait

Cek Juga

Close
Back to top button
Close