BukuResensi

Power in Movement; Telaah Kontestasi Politik dan Pergerakan

Istilah pergerakan memang tidak akan sepi dari alam pikir dan realitas manusia. Ia merupakan bagian dari kesejarahan manusia yang berasal dari instingnya sebagai makhluk yang suka berkerubung dengan sesamanya. Tentunya, sebagai bagian dari sejarah manusia, ia tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dipengaruhi oleh kejadian sekitarnya yang kemudian mempengaruhi alur kejadian selanjutnya. Di sini, Sidney Tarrow mencoba mengulasnya sembari membongkar mengenai keterpegaruhan kontestasi politik/sosial terhadap pergerakan dalam sebuah buku yang akan saya resensi kali ini.

Sebelum membahas bukunya, saya ingin menelaah sedikit mengenai term pergerakan terlebih dahulu. Ia merupakan sebuah bentuk dari arus perubahan sosial dimana manusia memutuskan untuk berkumpul dan membentuk wadah menyalurkan aspirasi sosial. Dalam proses perkumpulan, terdapat identifikasi atas identitas asal yang memberikan jarak antara para anggota (the main) dengan non anggota (the other). Proses identifikasi tersebut ditandai oleh fase penyamaan persepsi atas sesuatu yang dicanangkan, bisa berupa agama, pilihan politik, status sosial dan lain-lain. Kemudian, ketika sebuah pergerakan terbentuk, ia akan mulai membuat ciri khas berupa simbol, warna, bahasa yang menjadi “baju kebesarannya” dan mencanangkan arah dan karakter gerakannya sebagai alasan atas keberadaannya.

Pada dinamika sosial, pergerakan memiliki nilai tawar tersendiri dalam arus pembentukan nilai dan karakter masyarakat. Ia digadang sebagai sosok pembawa perubahan atau bentuk perlawanan atas ihwal masyarakat di masanya. Berkat tawaran alternatif prospek sosial, ekonomi dan politik serta kepemilikan massanya yang bersifat masif dan berjaringan kuat, pergerakan mampu tampil ke permukaan dan berkontestasi dengan kaum mayoritas, bahkan hingga negara. Melihat fungsi pergerakan yang begitu besar, sorang profesor bidang ilmu politik dan tatanan pemerintahan di Universitas Cornel bernama Sidney Tarrow mencoba mengulasnya dengan baik dalam bukunya berjudul, “Power in Movement; Social Movements And Contentious Politics” .

Buku yang diterbitkan oleh The Press Syndicate of The University of Cambridge tahun 1998 itu berisikan peta tatanan keterpengaruhan antara kontestasi politik dan pergerakan sosial. Di sana, penulis mencoba mengurai proses terbentuknya pergerakan dan siapa pencetus pertama pergerakan sosial tersebut. Pun menganalisisnya dalam sebuah peta kontestasi politik/sosial dan melihat bagaimana bentuk keterpengaruhannya terhadap denyut hidup pergerakan; dari ia bermula hingga terfragmentasi ke setiap anggotanya.

Buku setebal 270 halaman tersebut membagi proses pembentukan pergerakan beserta kontestasi yang mengitarinya menjadi tiga bagian. Kelahiran pergerakan sosial modern (The Birth of The Modern Social Movement), dari kontestasi menuju pergerakan (From Contention to Social Movements) dan dinamika pergerakan (The Dynamics of Movement). Dari tiga serangkai bagian itu, penulis mengonstruksi pemahaman atas pergerakan sosial selayaknya organisme hidup yang tumbuh-kembangnya terpengaruh oleh fenomena dan berakhir mempengaruhi laju fenomena.

Ketika saya membaca buku tersebut, saya melihat sebuah bangunan pemahaman yang sistematis mengenai terbentuknya pergerakan sosial yang terintegrasikan dengan konflik sosial/politik di sekitarnya. Hal tersebut bisa disaksikan terutama pada bab kedua yang berjudul “From Contention to Social Movements”. Di sana tertera bahwa selama ada celah yang tidak terjangkau atau sengaja disingkirkan, maka selama itu pula ruh pergerakan akan tetap menyala. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa oportunitas/kesempatan menjadi landasan dasar dari alasan mengapa perkumpulan itu ada. Maksud dari oportunitas di sini bahwa suatu hal yang bisa dieksplorasi benang merahnya dalam lingkaran kemasyarakatan dan dapat dieksploitasi untuk kepentingan golongan atau pribadi. Dus, dapat disimpulkan, selama oportunitas yang tercipta memiliki akar yang kuat dan terus berkembang, bisa dipastikan pergerakan sosial akan terus relevan.

Kemudian, pada proses penarikan massa, penulis menyebutkan keterlibatan media (print/medium) dalam membentuk pemahaman kolektif. Proses pembentukan pemahaman kolektif (framing) di situ melibatkan banyak faktor; seperti pengenalan simbol mereka dan propaganda oportunitas politik/sosial, hingga sampai pada titik dimana massa merasakan apa yang dirasakan mereka (pergerakan). Di sini, penulis tidak hanya menjelaskan secara mekanistik, melainkan juga mengurai proses secara detail seperti identifikasi ideologi dan realitas oleh setiap individu setelah menerima propaganda mereka. Dari sini, saya melihat adanya proses tarik ulur antara pergerakan dan massa pengikutnya yang dinamis mengikuti arus oportunitas politik/sosial pada masanya.

Dua hal di atas merupakan contoh dari kelebihan pembahasan dari setiap keunggulan pada bab-bab lainnya. Adapun sisi minusnya berada pada kurangnya pembahasan ideologi yang cenderung dibahas sekilas dan tidak diberikan tempat tersendiri. Bagi saya, pembahasan ideologi dengan segenap pernak-perniknya menjadi bagian penting mengingat fondasi pergerakan sosial berada di tangannya. Saat seseorang ingin memutuskan untuk bergabung secara penuh hingga taraf ideolog, maka di sana terjadi proses integrasi antara ideologi pergerakan dengan ideologi personal. Adapun prosesnya bisa berupa brainwashing, penataran dan dialog intensif. Jikalau hanya disandarkan pada pembentukan pemahaman kolektif (framing) itu akan bersifat semu dan melahirkan massa yang bermental karbitan. Oleh sebab itu, hemat saya pada pembahasan penjaringan massa bab II perlu diperluas dan dibagi menjadi calon ideolog dan massa pendukung.

Terlepas dari minus dan kritik di atas, buku ini tetap saya rekomendasikan bagi mereka yang ingin mempelajari pergerakan beserta pernak-pernik kontestasinya secara presisi sehingga tidak lagi bergantung pada ketokohan dalam melihat laju sebuah pergerakan. Sebab terbentuknya ketokohan merupakan gerak natural dari sebuah organisasi, bukan karena faktor “tokoh” yang menjadi pemberi wangsit atas terbentuknya organisasi. Sekian resensi saya dan terima kasih.

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Muhammad Fikri Zulkarnain

Redaktur Pelaksana buletin Bedug dan anggota panitia hari kiamat
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker