Opini

Sebuah Asa dari Bazar Buku Kairo

Gelaran bazar buku (ma’rid atau lebih populer ma’rad) Cairo International Book Fair (CIBF) resmi dibuka. Walau dilaksanakan di tengah masa pandemi, bazar buku terbesar di kawasan Timur Tengah itu tetap mendapat animo tinggi dan disambut antusias oleh para pemburu buku.

Tahun ini, CIBF telah memasuki penyelenggaraan yang ke-52. Setelah sempat tertunda sekian bulan, akhirnya CIBF dapat diselenggarakan di penghujung bulan Juni hingga pertengahan Juli tahun 2021. Ada beberapa adaptasi dan langkah antisipasi yang diambil pihak penyelenggara demi menyiasati ancaman virus Corona yang tak kunjung sirna. Termasuk di antaranya aturan ketat protokol kesehatan bagi para pengunjung dan perihal tiket masuk yang didapat melalui beberapa laman virtual yang memang “ditugasi” untuk menyediakan tiket masuk.

Seperti biasa, begitu bazar buku CIBF dibuka, masyarakat Mesir (termasuk Masisir) begitu euforia menyambut dan langsung berlomba berburu banyak buku. Tidak peduli sedang masa pandemi, tiada peduli ada ancaman inflasi dan ancaman kolapsnya perekonomian negeri asal mereka. Semua seolah latah dan terkena wabah virus belanja buku sebanyak mungkin.

Fenomena ini selalu berulang dan sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Mayoritas pengunjung seperti berlomba menghabiskan uang dan menambah jumlah koleksi bukunya, meski buku yang dibeli tahun kemarin pun belum paripurna dibaca. Sangat sedikit yang (misalnya) punya prinsip, setiap buku yang saya beli harus segera saya bacai. Atau misal yang prinsipnya lebih ekstrem lagi, saya tidak akan beli buku lagi sebelum buku yang saya beli tahun kemarin kelar saya baca. Konklusi ini penulis dapati setelah mengamati orang-orang di sekitar penulis usai mereka memborong buku dari ma’rid setiap tahunnya.

Seandainya para pengunjung CIBF punya prinsip harus segera mengkhatamkan buku yang dibelinya, niscaya akan ada lonjakan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang signifikan di Mesir. Pun termasuk bagi para pelajar atau mahasiswa Indonesia yang sedang studi di Mesir. Sebab angka kaum “buta aksara” di Mesir memang terhitung masih tinggi. Begitu juga angka kuantitas Masisir yang suka baca-tulis, jumlahnya masih sangat rendah, sama sekali belum linear dengan tingginya minat beli para pengunjung CIBF tiap tahunnya. Meski begitu, tingginya minat beli buku para pengunjung CIBF sudah merupakan angin segar yang semoga lambat laun bisa membantu meningkatkan kualitas SDM warga Mesir maupun Masisir. Apalagi jika semua pihak benar-benar mau mengaplikasikan tema ma’rid tahun ini dalam kehidupan kesehariannya: fi al-Qiraah Hayatun; di dalam membaca ada kehidupan.

Selektif dan Efektif
Salah satu pintu masuk untuk mewujudkan harapan di atas adalah dengan cara selektif dan efektif dalam berbelanja buku. Sudah masyhur kiranya jika ma’rid CIBF adalah ajang berburu buku yang tidak bisa didapatkan di maktabah-maktabah sekitaran Kairo. Untuk itu kita memang harus memanfaatkannya, tapi juga harus sangat selektif dalam belanja buku. Prioritaskan hanya membeli buku-buku yang memang adanya hanya di ma’rid, langka di pasaran, serta usahakan hanya membeli buku-buku yang memang selama ma’rid dihargai miring oleh penerbit asalnya. Tersebab tidak semua harga-harga buku di ma’rid lebih murah dari harga di maktabah sekitaran Kairo. Untuk buku-buku yang harganya masih relatif sama dengan harga di luar ma’rid, tunda dahulu hasrat untu membelinya kecuali kita benar-benar membutuhkannya. Sebab kebutuhan pokok kita selama pandemi ini sulit diprediksi, sementara pemasukan kita dari berbagai lini umumnya mengalami kendala.

Agar bisa efektif dalam berbelanja buku di ma’rid, terapkan tips-tips yang sudah populer di kalangan Masisir. Misalnya, tentukan daftar kitab yang hendak dibeli sesuai kebutuhan sahaja. Selanjutnya, di hari-hari pertama ma’rid, habiskan waktu kita untuk ngubek-ngubek penerbit bersubsidi dan “pelat merah” yang biasanya memberi diskon besar selama gelaran ma’rid berlangsung. Sebut saja penerbit al-Haiah Ammah Misriyyah lil Kitab, al-Haiah al-‘Ammah lil Qushur as-Tsaqafah, Majelis Hukama al-Muslimin, al-Markaz al-Qaumi li al-Tarjamah, Darul Ifta al-Misriyyah, dst.

Kebalikannya untuk maktabah atau penerbit yang dari luaran Kairo, bahkan dari luar Mesir. Jika stok kitab-kitab yang kita target itu cukup banyak, datangi dan beli “hanya” di hari-hari akhir ma’rid, niscaya kita akan dapat harga diskon yang jauh lebih besar dari harga awal. Tips dan jurus-jurus berburu di atas tersebut sudah kerap penulis amalkan dan hampir selalu berhasil. Wabakdu, selamat berburu, jangan lupa membaca!

Tulisan ini juga tayang di tawazun.id

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Ahmad Muhakam Zein

founder Bedug, eks Ketua Tanfidziah Pcinu Mesir, eks redaktur majalah Misykat Lirboyo, majalah Afkar Mesir dan hingga kini menjadi editor bedug.net
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker