CerpenSastra
Trending

Tiga Korban Pertama

5/5 (3)

Ia menyebut tindakannya sebagai pekerjaan, padahal pekerjaan seharusnya menghasilkan upah. Tapi ia tidak. Lalu apa yang ia upayakan? Kepuasan. Iya. Kepuasan mengeksekusi manusia yang ia anggap memuakkan dan berbahaya, itulah pekerjannya. Korbannya tidak terlalu banyak, masih bisa dihitung dengan jemari. Akan tetapi jumlah korbannya ditentukan oleh seberapa orang-orang sekitar membuatnya kesal, sakit, benci dan gila. Yang pada akhirnya, apa yang menimpanya menjadi minyak tanah yang membakar hasratnya untuk tidak sedetik pun membiarkan korbannya menelan kematian dengan cara klise.

Korban Pertama
Adalah majikan yang membuat tangan sucinya merenggut jiwa. Tidak hanya majikan, namun juga suami dan rumahnya. Untung saja, di malam itu, anak-anaknya sedang pulas di kamar belakang. Mereka tidak sempat melihat betapa ganasnya api melahap kepala ayahnya yang bertopi, juga perutnya yang buncit. Bagaimana tubuh ibunya melepuh bersamaan dengan melepuhnya meja, kasur dan semua perabotan rumah di ruang tamu. Mereka tak tahu bagaimana api membabat habis rambut ibunya yang masih terlalu indah untuk menjadi arang. Siapa sangka, malam itu si jago merah sangat baik menjalankan tugas. Memang sudah menjadi rencananya untuk menyelamatkan anak-anak majikannya yang masih belia. Ia menyarankan agar menidurkan Reza dan Riki tidak di kamar depan. Ia tahu, api sangat tidak suka air, kamar belakang terletak di sebelah kamar mandi. Seandainya majikannya tahu, bahwa ia menyayangi mereka. Ia bekerja tidak semata untuk mengambil upah, namun untuk sedikit mengurangi beban hidup keluarga majikannya. Seandainya mulut majikannya tidak secomberan pembuangan di belakang dapur.

Ia sudah begitu patuh terhadap semua perintah dan aturan kerja majikannya. Semua pelanggan yang datang ia sambut dengan senyum dan diberi pelayanan yang terbaik, menurutnya. Setiap kali ia berbuat kesalahan, ia memohon maaf. Apalah daya, majikannya tidak suka jika diprotes, dibantah, diberi masukan, apalagi dinasihati. Tahulah apa yang harus dilakukan terhadap majikan yang seperti itu. Usai dihujani umpatan yang sedikit menggangu psikisnya, malam itu ia tetap tegar bekerja. “Dasar pelupa, sudah berapa lama kerja masih saja enggak becus. Orang sebodoh kamu tidak seharusnya diterima di restoran ini, mencemarkan citra restoran saja.”

Kalimat-kalimat itu dua hari ini melayang di telinganya. Kalimat pertama tidak hanya melayang, namun sudah memenuhi kepalanya. Tepat jam dua belas. Ia sudahi pekerjaannya. Majikannya berjalan gontai dengan sedikit muka masam, menyodorkan amplop berisi upah hasil kerja kerasnya selama sebulan. Ia merobek sisi amplop itu. Terlihat kertas estimasi kerjanya di bulan itu. Ada satu baris yang kosong. Majikannya memotong sebagian gajinya. Setelah memprotes beberapa menit, omongannya tak sedikit pun digubris. Ia hendak menonjok muka majikannya, tapi majikannya perempuan. Lelaki selamanya kecil di hadapan seorang perempuan. Ia keluar dengan muka masam. Keesokan harinya, ia kembali lagi. Bekerja dan menetralisir emosinya. Tak sedikit pun ia menyinggung masalah gaji yang dipotong, namun mulut majikannya masih saja deras dengan umpatan-umpatan. Sebelum pulang, ia sengaja membiarkan kompor menyala, agar minyak goreng di wajan itu memanas dan menjelma kobaran api. Perlahan api menyentuh tabung gas, membabat piring-piring plastik dan menyambar semua isi rumah. Malam itu, restoran resmi ditutup bersamaan dengan tewasnya sang majikan.

Korban Kedua
Di rumahnya, tepatnya di kos-kosannya ia merasa seperti di neraka. Betapa tidak, teman rumahnya seorang psikopat. Sudah beberap kali ia lolos dari pembunuhan. Mungkin sudah saatnya ia bertindak, kalau tidak, psikopat itu akan lebih dulu menghabisinya.

Ketika memutuskan untuk tinggal di kos-kosan, Gabar masih terlihat normal. Entah, dua bulan terakhir ini, ia bertingkah aneh. Suatu hari, sepulang kuliah, ia tiba-tiba menyembelih kucing tetangga yang sering mampir ke rumah. Kucing itu cantik. Namun, kecantikan tidak membuatnya sedikit iba. Tentu saja, di mata Kaya, tetangganya, kucing betina itu tidak bisa menggantikan kehadiran dua bayi mungil nan lucu. Kaya masih berumur 11 tahun. Sontak ia marah pada Gabar. Kaya merengek sambil menggigit bajunya agar kucing yang sudah mati itu dikembalikan.

Selang beberap hari kemudian, pisau yang Gabar gunakan untuk menggorok kucing Kaya, ia coba gunakan untuk menggorok lehernya. Dia, saat itu sedang duduk di ruang depan, menunduk dan memelototi laptop. Ia tak sadar kalau Gabar ada di belakangnya sedang mengincar lehernya yang sedikit lebih keras dari leher kucing Kaya. Namun ia berhasil lolos setelah menendang selangkangan Gabar. Gabar pingsan. Sejak saat itu, ia mulai geram. Ia berpikir orang sepertinya memang harus secepatnya dibunuh. Walaupun ia tahu, jika Gabar dibawa ke psikiater, ada kemungkinan untuk bisa sembuh. Meski kemungkinan untuk melakukan hal konyolnya lebih besar.

Maka, direncanakanlah pembunuhan itu. Kelemahan Gabar adalah pagi hari, dia terkena insomnia. Mustahil membunuhnya di waktu malam. Ia tidak lagi di rumah semenjak kejadian itu. Ia membawa semua miliknya dan minggat dari rumah kos. Di suatu malam, tak lama setelah kepergiannya, lamat-lamat ia mengamati Gabar dari pagar rumah. Ia memastikan bawa Gabar masih di rumah. Ia menunggu hingga semburat matahari menyembur di celah-celah jendela rumah neraka itu, melelapkan mata Gabar. Tentu saja ia masih punya rasa iba pada Gabar. Ia membiarkannya menikmati tidur pulas kali terakhir. Sambil ia berharap Gabar mimpi bersetubuh dengan perempuan yang ia cintai, tersebab Gabar tak akan pernah merasakan nikmatnya malam pertama di dunia nyata. Setelah dirasa siap, ia mendekatinya. Sebisa mungkin ia tidak menciptakan suara saat menekan pelatuk pistolnya. Dorrr!!! Sepertinya peluru itu tembus hingga otak tengah Gabar. Peluru itu begitu tipis. Ia yakin peluru itu menerabas sel-sel saraf Gabar dengan halus. Tidak seperti peluru yang biasa dipakai para algojo untuk mengeksekusi terpidana mati. Saat peluru itu dilepaskan, tidak ada hentakan keras dari Gabar. Tubuhnya hanya sedikit bergerak seperti ketika dia disengat gigi nyamuk yang mirip tombak halus. Agar lebih percaya kalau Gabar sudah mati, ia lepaskan peluru kedua. Ia berpikir, peluru yang menerobos bagian kepala depan hanya akan membuat Gabar oleng, makanya peluru kedua ia lepaskan dari belakang. Ia rasa itu akan mengimbangi lubang di kepala bagian depan.

Korban Ketiga
Ia begitu mencintai kekasihnya, Ana. Sampai saat ini, setelah hari keseratus dua puluh empat, ia tetap menyesal telah membunuh Ana. Namun siapa sangka, di balik penyesalan itu selalu terselip rasa puas. Ia merasa, yang ia bunuh bukan Ana kekasihnya, melainkan Ana yang lain yang membuatnya sedikit tidak waras. Akan datang Ana lagi, Ana kekasihku yang dulu, tegasnya suatu hari.

Ia mengenal Ana dua tahun yang lalu. Mereka berdua lalu jatuh cinta. Suka duka ia lewati bersama. Suatu hari, ia hampir ingin putus dengan Ana, namun ia urungkan. Ana sedikit keras kepala dan cepat bosan. Ia harus bersikeras melawan dua sifat Ana yang sangat licin itu. Aku akan meminangmu secepatnya setelah wisuda, tuturnya pada Ana sore itu. Ana mengiyakan. Hingga pada suatu pagi, Ana membuat keputusan yang rasanya tidak adil baginya. Ana memutus hubungannya. Aku tidak ingin pacaran, dosa, kata Ana padanya. Padahal waktu itu, ia begitu mencintainya. Berkali-kali ia tegaskan pada Ana, bahwa sampai kapanpun ia akan mencintainya. Bahkan, pada detik ini, ketika Ana telah habis di tangannya, ia begitu sukar untuk memadamkan api asmaranya.

Tapi apalah daya, keputusa Ana menghancurkan hubungan membuatnya begitu terpukul. Bahkan ia baru saja mencukur kumisnya. Kumis yang ia pelihara tidak sekadar sebagai sekumpulan rambut yang membedakan laki-laki dan perempuan. Tidak juga sebagai penanda kedewasaan lelaki. Ia anggap kumisnya adalah identitasnya. Namun identitas itu dengan segenap kerelaan yang tidak begitu penuh, ia cukur. Ana tidak suka kalau ia berkumis. Bersamaan dengan lenyapnya kumis identitas itu, ia berharap lenyap juga asmaranya bersama Ana.

Semenjak diputus, ia begitu tersiksa. Ana adalah segalanya dalam hidupnya. Ia mulai kehilangan kewarasannya. Satu bulan ia mengurung diri di rumah, menghasilkan kesimpulan bahwa keputusan Ana adalah keadilan yang tidak tepat dan memperbudak. Ia mengerti, keputusan yang dibuat Ana itu baik untuknya, hanya saja tidak tepat waktu. Ia diputus saat sedang sayang-sayangnya.

Pada tanggal pertama, sebulan kemudian, ia dihadiahi undangan duka cita atas pernikahan Ana dengan calon suaminya yang juga pacar barunya. Dan ternyata itu adalah temannya sendiri. Maka pembunuhan itu harus secepatnya dilakukan. Ia menyelipkan sebilah belati di saku celana belakangnya, kemudian menemui Ana. Ia sudah di depan Ana, tak tahu apa yang harus dikata. Ini bukan momen perpisahan yang berduka, tapi ini pembunuhan. Dipeluklah Ana dengan begitu nikmat, seperti pelukan di ujung waktu dalam lagunya Payung Teduh. Sejurus kemudian, belati itu sudah bersarang di perut Ana, tepatnya di atas pusar indahnya. Ana yang hanya memakai kaos kuning tipis membuat lebih mudah untuk dieksekusi. Sebelum ujung belati itu menyentuh perut Ana, ia merasakan gemuruh begitu dahsyat di dada Ana. Gemuruh itu menggoncang kelopak mata Ana. Pun setelah tusukan halus itu mengunci seluruh sel darahnya, gemuruh itu masih ia rasakan. Ia membisikkan nama lengkap Ana di bibir telinga, tak ada jawaban. Setelah pelukan itu dirasa selesai, sementara belati belum disarangkan secara utuh. Ia melihat wajah Ana yang sudah kaku, ada sebercak air mata yang jatuh di pipinya, ia mengusapnya. Belati itu melewati perut Ana masih dalam keadaan tegak, lalu diputarlah belati itu hingga porak poranda isi perutnya. “Air matamu tidak akan menetes lagi, kekasihku,” bisiknya terakhir kali.

Korban Selanjutnya
Setelah membunuh Ana, ia membuka bisnis kecil-kecilan. Ia menjual nasi angkringan dan kue-kue di kantin kampus. Fauzi, rekan kerjanya yang numpang jual kue-kue, dua terakhir ini sering ngomel sebab jualannya banyak yang tidak laku. Ditambah lagi, sebagian senior kampus yang juga jualan di kantin itu protes dan coba mengganggu jalannya bisnis, sebab merasa diungguli olehnya. Bertumpuklah persoalan-persoalan kampus ketika itu. Belum lagi dosen diktator (jual diktat beli motor) di kelasnya yang memaksanya untuk membeli diktat yang menyebalkan itu, sementara pemasukan bisnisnya masih minim. Entah, apa yang akan ia lakukan pada orang-orang seperti mereka. Di rumahnya, pistol bekas membunuh Gabar dan belati yang merobek perut Ana masih ada.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Moh. Ma'ruf Malik Al-Faroby

Pegiat Sastra, mahasiswa Sastra Arab al-Azhar Kairo
Back to top button
Close