Opini

Urgensitas Akhlak (bagi) Agamawan

5/5 (2)

Dalam dunia penafsiran al-Quran, sejatinya sudah ada kaidah-kaidah dari para ulama. Tapi, kesalahan dalam menafsirkan al-Quran memang sesuatu yang sangat niscaya. Salah satu contohnya, penafsiran Quran oleh pendahulu kita dari firqoh Muktazilah. Husain al-Dzahabi menyatakan bahwa Muktazilah pernah melakukan kesalahan dalam menafsirkan ayat: “Wakallamallahu Musa taklîmâ”. Qiraah yang mutawatir pada ayat ini, lafadz Allah dibaca rafa’ sedangkan lafal musa dibaca nasab, sementara Muktazilah mengingkari qiraat mutawatir pada ayat ini. Menurut mereka, bacaan yang benar adalah: “Wakallamallaha Musa taklima”. Muktazilah memberikan tafsiran, bahwa Allah menyakiti Nabi Musa dengan kuku-kuku yang tajam seperti kuku binatang buas dan memfitnahnya. Ini jelas penafsiran yang nggak masuk akal dan tidak elok, bagaimana mungkin seorang nabi dan rasul yang mempunyai sifat terjaga dari dosa ternyata malah kena siksa dari Allah?

Fenomena yang terjadi pada kaum Muktazilah, nampaknya akhir-akhir ini muncul kembali. Misalnya, Evie Effendi dulu pernah menafsirkan Quran surat (al-Dhuha, 7) bahwa Nabi Muhammad SAW itu sesat (menyembah berhala) sebelum beliau dipilih oleh Allah menjadi Nabi (Detiknews, Senin 13 Agustus 2018, 13.17 WIB). Pernyataan Evie Effendi tersebut memang sudah agak lama terjadi, sengaja penulis menampilkannya sebagai satu sampel nyata “kesesatan” di era kekinian.

Menindak lanjuti fenomena di atas, syahdan salah satu solusinya adalah dengan menaruh perhatian lebih terhadap disiplin akhlak; baik secara teoritis maupun secara praksis. Akhlak secara teoritis ini menjelaskan latar belakang, fungsi dan bagaimana manusia seharusnya berkelakuan baik. Sedangkan akhlak secara praksis, merupakan manifestasi dari disiplin ilmu akhlak secara teoritis.

Sejatinya, kitab-kitab tafsir sendiri sudah mensyaratkan adanya akhlak yang baik bagi seorang mufasir. Namun poin ini kurang mendapat perhatian dari sebagian kita. Karena pada ranah praksisnya, seorang mufasir tidak semuanya cukup bisa bertindak sopan dan baik secara amaliah ilmiahnya. Padahal dalam hal bergaul dengan kitab suci, mereka juga seharusnya ‘sopan’ dan memperhatikan etika yang berlaku. Lantas, apa makna dari akhlak dan apa hubungannya dengan akidah, sehingga para agamawan diharuskan berakhlak baik baik dalam konteks amaliah dengan sesama, maupun amaliah dengan teks?

Akhlak secara sederhana bermakna sebuah sikap yang terdapat pada diri manusia. Yang mana sekumpulan sikap ini bisa melahirkan berbagai bentuk perbuatan yang dengan mudah bisa mengarahkan kepada kebaikan. Adapun perbuatan yang dilakukan manusia karena keterpaksaan, bukanlah yang dimaksud di sini. Karena akhlak sendiri identik dengan perbuatan yang muncul dari manusia dengan mudah, bukan dengan paksaan. Wabakdu, setelah mengetahui adanya pengertian akhlak, apakah akhlak ini mempunyai hubungan dengan akidah yang umat Islam anut?

Akhlak secara teoritis memiliki hubungan yang kuat dengan akidah. Dr. Ilham Syahin, salah satu sarjana dari fakultas Dakwah Universitas al-Azhar mengatakan bahwa akidah (samawi) yang mempunyai pondasi kokoh merupakan sumber terwujudnya akhlak yang kokoh pula. Dari sini, bisa diambil kesimpulan bahwa sumber terwujudnya perilaku yang baik berasal akidah yang kokoh. Lain halnya, jika pandangan terkait akhlak ini dihubungkan dengan akidah yang non-samawi, maka yang terjadi adalah sebuah kesimpulan tidak adanya hubungan antara akhlak dan agama. Sebagaimana kata Immanuel Kant: “Kita tidak mempunyai hak-hak yang berhubungan dengan dzat yang Maha Tinggi, maka dari itu kita tidak punya kewajiban untuk menunaikan amalan-amalan yang berkaitan dengan dzat yang memiliki keistimewaan tersebut.”

Pernyataan Immanuel Kant tersebut ditolak oleh Dr. Toha Hubaisy. Beliau mengatakan bahwa agama yang dijadikan pijakan oleh Kant adalah agama non-samawi, dimana agama non-samawi ini tidak mempunyai unsur keilahian sebagaimana yang dimiliki oleh agama samawi. Sehingga Kant lantas dengan mudah mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai kewajiban kepada dzat yang lebih tinggi, karena Tuhan mereka mempunyai status yang berbeda ketuhanannya dengan agama samawi.

Sumber Otentik Akhlak
Mengacu sumber-sumber dalam Islam, al-Quran sendiri secara khusus telah menganjurkan manusia untuk berakhlak dalam kehidupan sehari-hari. Ditambah lagi, Nabi Muhammad sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak dan menjadi teladan manusia dalam hidup berakhlak. Di sisi lain, disiplin ilmu akhlak secara teoritis ini ternyata juga menuntut manusia supaya berakhlak. Dimana sisi kewajiban berakhlak dalam akhlak secara teoritis ini (yang berhubungan erat dengan filsafat dan ilmu sosial) lebih mengutamakan unsur-unsur kemanusiaan dan akal. Sedangkan disiplin ilmu akhlak dalam bingkai agama, dikendalikan oleh adanya perintah dan larangan dari Tuhan.

Seorang filsuf Perancis, Henri Bergson mengatakan bahwa sumber yang mewajibkan manusia supaya berakhlak murni dari unsur insting dan perasaan belaka. Pernyataan ini juga ditolak oleh Dr. Toha Hubaisy, beliau mengatakan bahwa, “Akal lebih otoriter untuk memerintahkan manusia supaya berakhlak daripada perasaan dan insting belaka.” Selain itu, sumber- sumber agama juga mewajibkan kita untuk berakhlak kepada manusia. Di dalam al-Quran Allah berfirman: “Berbuat baiklah kepada kedua orang tua.” Selain itu, kita juga punya Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kita berakhlak dalam keseharian.

Kembali lagi ke pembahasan awal, tentang adab bergaul dengan teks-teks agama, khususnya untuk seorang agamawan. Tuntutan berakhlak, baik akhlak ditinjau dari sisi teoritis maupun non-teoritis ini sama-sama dibebankan kepada manusia. Dalam artian akhlak yang secara teoritis menuntut manusia bertindak sesuai kaidah-kaidah yang memanusiakan sesamanya. Sedangkan akhlak secara amaliah, merupakan interpretasi dari teks-teks agama yang mengikat. Dari kasus Muktazilah yang sesat dalam menafsirkan ayat al-Quran “wakallamallohu musa taklima” dan penafsiran orang tua Nabi pernah sesat, hal-hal yang seperti ini tidak akan terjadi jika para agamawan memperhatikan akhlak; baik secara teoritis maupun secara amaliah. Karena jika disiplin ilmu akhlak diresapi, syahdan akan bisa mengendalikan perbuatan manusia. Khususnya bagi para agamawan yang memang dituntut berakhlak dan bergaul sesuai dengan teks-teks agama. Selain itu, Akhlak secara teoritis inilah yang kiranya akan memperkuat akhlak secara amaliah, jikalau akhlak secara amaliah ini dibantah.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak

Artikel Terkait

Back to top button
Close