BukuResensi
Trending

When Religion Becomes Evil; Menilik Sisi Lain dari Agama

4.75/5 (4)

Judul Buku: When Religion Becomes Evil
Pengarang: Charless Kimbal
Penerbit: Harper Collins E-books
Halaman: 280 Halaman

“Agama adalah kekuatan terbesar dan mengakar kuat di dunia,” ujar Charles Kimball dalam pengantar sebuah buku yang akan saya kupas kali ini. Ujaran tersebut menggambarkan sebuah kekuatan besar bisa menggerakkan manusia untuk mencapai tujuannya, baik untuk membangun sebuah peradaban, maupun untuk menguasai dunia. Pun melalui kekuatan itu, manusia mengenal Tuhannya atau bahkan menuhankan diri sendiri.

Agama merupakan kekuatan terbesar dalam percaturan dunia, bersandingan dengan ideologi dan adat-istiadat. Ia hadir bersamaan dengan kehadiran manusia sejak awal kelahiran, hingga si pemeluk agama menghadap kepada Sang Pencipta. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari makan, berinteraksi, hingga bernegara. Selain itu, agama juga dinobatkan sebagai jalan menuju Tuhan (straight path to the heaven) sehingga berhak menentukan standarisasi kebenaran terhadap nilai kebaikan dan keburukan. Akan tetapi, kehadirannya dalam pentas sejarah tak selamanya menempuh jalan yang lurus nan lapang. Jumlah goresan tinta emas agama setara dengan jumlah bercak hitam kelam dalam kisah manusia. Sebut saja dari kekejaman pendeta Katolik terhadap ilmuwan di abad kegelapan (dark ages), Perang Salib, penyerangan gedung kembar WTC, penembakan di sebuah masjid di Sinai oleh ISIS, seluruhnya merupakan hasil dari interaksi manusia dengan agama. Rangkaian peristiwa tersebut seolah menyimbolkan agama sebagai sumber kejahatan.

Atas dasar realitas tersebut, Charles Kimball berinisiatif mengarang sebuah buku berjudul “When Religion Becomes Evil: Five Warnings Signs”. Buku setebal 280 halaman ini menjelaskan lima tanda agama (yang) akan menjadi ‘jahat’ seperti klaim kebenaran absolut (absolute truth claim), ketaatan buta (blind obedience), penentuan waktu ideal bagi agama (establishing the ‘Ideal’ time), visi tentang hari kiamat (the end justifies any means), deklarasi perang suci (declaring holy war). Lima tanda tersebut berasal dari hasil penelitian, baik studi kasus maupun literatur, dan pengalaman pribadi sebagai profesor studi perbandingan agama di universitas Wake Forest dan direktur National Council of Church. Meskipun fenomena yang dijadikan sampel banyak diambil dari agama Kristen dan Islam, namun menurut saya lima tanda tersebut bersifat universal dan dapat digunakan untuk mendeteksi kejahatan dalam agama.

Dari lima tanda tersebut, terdapat pembahasan tentang gerakan misionarisme (dakwah) pada bab klaim kebenaran absolut (absolute truth claim) yang membuat saya tertarik untuk membahasnya lebih lanjut. Penulis menyatakan bahwa dakwah agama merupakan konsekuensi atas keimanan seseorang, sehingga siapa pun yang telah memproklamirkan keimanan kepada sebuah agama, maka secara langsung dibebani untuk mendakwahkan apa yang diimaninya. Hal tersebut merupakan efek samping dari klaim kebenaran absolut, kemudian memandang orang yang tidak seagama sedang tersesat dan wajib diselamatkan. Doktrin inilah yang memberi asupan semangat bagi para ulama dan pendeta untuk gencar dalam mendakwahkan agamanya.

Akan tetapi, terkadang penyebaran agama hanya terfokus pada ajaran agama (ortodoksi) tanpa memperhatikan objek penyebaran (manusia) sehingga menimbulkan penyelewengan gerakan dakwah yang berkombinasi dengan gerakan imperialisme dan ekspansi militer. Sebagai contoh, seorang pendeta dari Spanyol bernama Junipero Serra menjalankan misi misionarisme terhadap suku Indian di benua Amerika dari negeri Meksiko hingga California tahun 1749 Masehi. Dalam perjalanan dakwahnya, ia bekerja sama dengan dinas militer Spanyol, yang memiliki kepentingan untuk menjajah Amerika Latin. Dakwah yang disertai ekspansi militer ini membuahkan hasil bagi dua belah pihak, sang pendeta berhasil mengkristenkan suku Indian dan Spanyol mendapat wilayah jajahan.

Melalui fenomena tersebut, penulis menilai metode dakwah ortodoksi rawan terkena virus ‘jahat’ klaim kebenaran absolut dan cenderung menghalalkan segala cara untuk menyukseskan misi misionarismenya. Selain itu, ketika seseorang menyebarkan agama dengan kekerasan secara langsung, justru ia mencederai rahmat dan kasih sayang Tuhan. Oleh karenanya, penulis menawarkan solusi dakwah dengan cara ortopraksi, yaitu berdakwah melalui bakti sosial. Cara ortopraksi menitikberatkan pada kerja-kerja sosial seperti membantu kaum miskin, anak yatim, korban bencana dengan harapan mereka mengerti akan kasih sayang Tuhan dan tertarik untuk memeluk agama tersebut. Model dakwah tersebut dinilai sesuai dengan ajaran agama, misalnya , “Dalam segala hal, cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri, karena itu sesuai dengan ajaranku (Matius 7:12”  dan “siapa pun yang tidak memberi makan orang miskin… maka ia tidak layak diberi pertolongan pada hari itu (surah al-Haqqah: 34-35)”.

Meskipun berdakwah dengan cara ortopraksi dapat meminimalkan resiko terkena virus ‘jahat’, namun secara tidak langsung metode tersebut mencederai kebaikan itu sendiri. Ketika seseorang berbuat baik demi memperoleh perhatian manusia, maka secara langsung kebaikan tersebut akan kehilangan esensinya. Fenomena semisal itu biasa disebut riya’. Menurut Prof. Dr. Wahbah Zuhaily dalam kitab “Tafsir Munir; Jilid II” tafsir surah al-Baqarah ayat 264, setiap perbuatan baik yang ditujukan untuk meraih pujian manusia, maka sang pelaku dinyatakan tidak beriman kepada Allah SWT dan hari kiamat. Boleh dikatakan, siapa pun yang berbuat riya’, secara tidak langsung ia tidak mengimani agamanya sendiri.

Atas dasar tersebut, menurut saya berdakwah dengan cara ortopraksi secara langsung mencederai ajaran kebaikan pada sebuah agama karena mencampuradukkan kebaikan dengan kepentingan pribadi. Oleh karenanya, metode dakwah yang diajukan oleh Charles Kimball perlu ditinjau kembali sebelum mengamalkannya. Selain pembahasan di atas, buku ini juga memiliki sisi kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya, penulis memaparkan fenomena-fenomena keagamaan yang aktual dan dapat dipertanggungjawabkan di setiap hipotesa yang dirumuskan. Sedangkan kekurangannya, ideologi dasar penulis (kristen) memberikan corak yang kuat dalam buku tersebut sehingga pemaparan fenomena keagamaan non-kristen nampak sering berlebihan. Walhal, buku ini, menurut saya, menarik untuk dibaca bagi yang ingin mempelajari sosiologi agama. Sebab agama adalah instrumen hidup manusia, ia bisa menjadi alat menuju kebaikan maupun kejahatan. Maka, gunakanlah agama dengan sebaik-baiknya.

Facebook Comments

Nilai Kualitas Konten

Tag
Tampilkan Lebih Banyak
Back to top button
Close