Pohon Benang Sutra dan Manusia Bedug
Pohon Benang Sutra (Ceiba Speciosa) selalu kutangkap dengan kamera ponselku saban tahunnya. Aku selalu mengabadikannya dalam tiga tahun belakangan ini.
Pohon Benang Sutra (Ceiba Speciosa) selalu kutangkap dengan kamera ponselku saban tahunnya. Aku selalu mengabadikannya dalam tiga tahun belakangan ini. Walaupun hanya bermodalkan kamera ponsel beresolusi 50 MP keluaran tahun 2022, setidaknya sudah ada tiga foto Pohon Benang Sutra bertengger di galeri ponselku. Entah apa yang membuatku tak bosan untuk mengabadikannya. Padahal, ia adalah pohon yang sama di tempat yang sama pula; ia selalu berada persis di dekat pintu masuk bagian samping (ada yang mengatakan bagian belakang) Hadîqah Dauliyah. Mungkin bukan karena daya pikat bunganya yang berwarna merah muda—ia memang otomatis menjadi pusat perhatian di kala musim dingin tiba sebab ia memiliki warna merah muda di tengah-tengah pepohonan berwarna hijau dan coklatnya lingkungan Mesir. Bagiku, Ceiba Speciosa selalu terlihat spesial dan memikat perhatianku sebab ia adalah teman yang membersamaiku tumbuh dan berkembang di Bedug Media.
Pertemuan pertamaku dengannya bertepatan pada Sabtu, 19 Oktober 2024 silam. Pertemuan itu adalah ketidaksengajaan yang sudah digariskan Tuhan. Pasalnya, demi bertemu dengannya aku harus melakukan perjalanan dua hari yang melelahkan. Dalam perjalanan itu, aku harus bertemu dengan 12 Grumpy Old Troll (makhluk mitologi Nordik yang akan memberikan teka-teki bagi siapa pun yang hendak melewati jembatan) dari serial Dora the Explorer . Pada hari pertama aku diberikan pertanyaan seputar integritas, bahasa Arab dan Inggris serta editorial. Walakin, Grumpy Old Troll (GOT) yang aku temui di sini sedikit misterius. Mereka tidak langsung membiarkanku mengetahui jawabanku benar apa tidak, atau apakah aku dapat melewati jembatan atau tidak. “Datang lagi esok hari untuk bertemu dengan GOT lainnya, mereka akan memberikan pertanyaan seputar wawasan, warta, kritik dan personalitas.”
Dalam perjalanan itu, ternyata aku tidak sendirian. Di sana aku bertembung dengan puluhan orang yang sama sialnya denganku; kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang terhasut omongan Swiper the Fox (admin Bedug). Mereka percaya bahwasannya kegiatan di Bedug sangatlah ringan dan tidak sibuk. ‘Sungguh kebohongan terbesar abad 21; Dajjal pun minder agaknya.’ Sayangnya, saat bertemu dengan orang-orang itu, aku hanya lebih banyak diam dan duduk di pojokan bersama temanku yang juga pendiam. Kucoba untuk mengulik tumpukan memori otakku yang sangat terbatas ini dan aku berhasil mengingat satu dua sosok yang sangat dominan pada saat itu. Pertama, lelaki bertampang sangar dengan rambut gondrong dan suara seraknya. Kesan pertamaku dengannya adalah beranggapan bahwa ia adalah Harami Mutsallats yang hendak belajar menulis. Ternyata setelah kurang lebih setahun bersama dengannya, tampang sangarnya adalah topeng untuk menutupi hati Hello Kitty-nya.
Kedua, lelaki alim dengan jubah, peci, surban dan nadam ‘Imrîthi di tangan. Aku pikir orang ini yang akan sering menasihati kami dalam setahun perjalanan; rupa-rupanya aku terlalu berbaik sangka. di balik luaran yang terlihat alim itu ada jiwa Wota yang meronta-ronta untuk keluar—ini aku ketahui setelah edisi keempat. Ternyata, tampang alimnya adalah jurus andalan untuk mengelabuhi GOT guna mempermudah menjadi Menag, eh, melewati jembatan maksudnya. Ketiga, lelaki bertampang moderat dan pintar. Kebetulan saat menjawab pertanyaan seputar kritik, aku berada satu ruangan dengannya. Jika lelaki pertama dan kedua memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan luarannya, lelaki ketiga ini benar-benar sesuai antara luaran dan dalamannya. Ia benar-benar pandai meluluhkan GOT dengan menggunakan ilmu-ilmu gramatikal dan syair-syair Arab yang dikuasainya.
Syahdan, setelah perjalanan dua hari yang melelahkan, tibalah kita pada hari yang ditunggu-tunggu, yaitu hari pengumuman dari GOT tentang siapa saja yang dapat melewati jembatan. Tiga puluh orang berhasil terpilih, aku termasuk di dalamnya, untuk melewati jembatan yang dapat ditempuh dalam setahun, dua tahun, tiga tahun, dst. Waktu terpendek untuk menempuhnya, yang pernah aku dengar, adalah dua sampai tiga bulan. Bukan karena ia sudah sampai pada sisi jembatan satunya, tetapi ia jatuh tersandung buletin, eh, batu maksudnya. Sebaliknya, waktu terlama untuk menempuhnya masih dipegang oleh seorang perempuan legendaris. Ia menempuh jembatan selama satu dekade dan terus berjalan hingga saat ini. Ingin rasanya untuk mendaftarkan namanya pada Guinness World Records.
Kembali ke pertemuan pertamaku dengannya. Kalakian aku tidak banyak memperhatikan sekitar sebab masih malu dan ingin cepat-cepat pulang. Aku cuma bersua dengan satu-dua orang di antara 30 orang tersebut. Sedikit banyak yang aku ingat adalah ketika aku disuruh berkenalan dengan menyebutkan nama, asal dan keunikan diri. Mengumpulkan dan melipat tas kresek adalah suatu keunikan yang aku sebutkan, meskipun itu tidak benar-benar menjadi keunikanku. “Hai, salam kenal!” sapa Pohon Bunga Sutra dengan menjatuhkan bunganya di kepalaku. Namun sayangnya, aku tidak menggubris hal itu dan belum menyadari bahwa ia ingin berkenalan juga denganku, layaknya kita duduk melingkar dan berkenalan tadi. Aku hanya membalas dengan memotretnya sambil berucap, “Cantik sekali dirimu.”
Aku belum dapat menangkap pesan yang ingin ia sampaikan sebab setelah sesi perkenalan, fokusku disibukkan dengan menghafal lagu dan posisi penampilan yang akan kami persembahkan nanti. Kami menampilkan drama “Palang Pintu” yang dipunggawai oleh Dayat sebagai ayah Nafa’a yang hendak dilamar Maspud. Kabarnya, Nafa’a tidak bisa makan selama seminggu selepas memainkan peran sebagai istri Maspud. Tak hanya mereka bertiga, ada Adin dan Arju yang berperan sebagai pesilat dari dua pihak; Adib sebagai pengiring lagu “Pelangi di Matamu” dengan gitarnya; sementara aku, Nawal, Ribhan, Azki, Uwais, Tibyan, Farzen, Husen, Maul, Arsyil, Hasbi, Nabila, Nadya, Rifta, Rosya, Prita, Dina, Salwa, Atina, Maulida, Hani, Qoqom, Aulia dan Fita hanya bertugas sebagai pemeran figuran: pengiring pengantin dari dua belah pihak. Tugasnya sangatlah mudah: tidak ada hafalan dialog; hanya sekadar ikut meramaikan suasana dengan teriak dan keprok-keprok (atuh!).
Entah apa motif di balik kita menampilkan drama “Palang Pintu”. Sampai saat ini yang aku ketahui adalah selain untuk bersenang-senang dan menghibur, ada motif lain yaitu mengenalkan dan melestarikan budaya Betawi. Penampilan ditutup dengan menyanyikan lagu “Laskar Pelangi” (aku baru sadar, sejak malam pertama memimpin kami, Maspud sudah mengukuhkan bahwa dirinya suka pelangi lewat dua lagu yang ada unsur pelangi). Kami bernyanyi di tengah dinginnya malam pembuka musim dingin dengan merangkul satu sama lain (banat dengan banat dan banin dengan banin). Antusiasme kakak-kakak senior tidak kalah hebohnya dengan kami; mereka menikmati penampilan kami dengan menyalakan senter ponsel serta ikut menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri. Di luar keasyikan kami, ada PBS yang sudah berusaha untuk menyapaku dengan berkali-kali menjatuhkan bunganya di tengah-tengah pertunjukan. Sayangnya, aku pulang tanpa membalas sapanya sama sekali.
Pada pertemuan kedua, waktu yang kubutuhkan cukup lama, yaitu setahun dua hari. Dua hari ini tidak sama dengan dua hari perjalanan sebelumnya; di sini aku menjadi GOT yang menanyai orang-orang baru sekitar wawasan editorial. Setelah merasakan menjadi GOT, aku mengetahui alasan mengapa dulu mereka tidak langsung membiarkanku melewati jembatan. Ternyata dibutuhkan diskusi yang alot antar-GOT guna menyaring 25 orang terpilih. Tepat pada Ahad, 12 Oktober 2025, aku bertemu dengan PBS untuk yang kedua kalinya. Namun, lagi-lagi aku belum berhasil menangkap salam perkenalannya sebab kali ini aku menjadi panitia yang sibuk memastikan malam inaugurasi berjalan dengan lancar. Hal itu tidak mematahkan semangat PBS untuk menyapaku. Pasalnya, di tengah permainan tebak gaya ia menjatuhkan bunganya lagi ke kepalaku, tetapi lagi-lagi aku hanya memotretnya guna mengabadikan keindahannya dalam galeri, lalu pulang tanpa membalas sapanya sekali lagi.
Sabtu, 10 Oktober 2026 adalah pertemuan ketigaku dengannya. Aku dan Kak Husen datang terlambat dengan alasan menunggu sesi perkenalan usai. Namun, nahas sekali nasib kami, meskipun sesi perkenalan telah usai, kami tetap saja disuruh oleh panitia-panitia kece untuk berkenalan. Saking malunya aku bertemu redaktur baru angkatan 11, tiba-tiba secara spontan (uhuy!) aku mengeluarkan gawai dari saku celana untuk memotret PBS. Setelah mengotak-atik mencari sudut yang pas untuk memotretnya, tiba-tiba ia menjatuhkan bunganya persis di atas gawaiku. Di situ aku baru sadar bahwa ia menyapaku untuk yang ketiga kalinya. Aku langsung membalas sapanya sambil mengingat berapa kali ia berusaha menyapaku di dua pertemuan terakhir. Setelah balasan sapa dariku, ia mengatakan bahwa setiap malam inaugurasi tiba, ia selalu menyapa semua anggota Bedug Media yang hadir hanya untuk mengenalkan diri dan menceritakan perjalanan setahun, dua tahun, dan seterusnya pada malam inaugurasi selanjutnya.
Namun, tiada seorang pun yang berhasil menangkap sapaan yang ia bagikan lewat guguran bunganya. Sampai tulisan ini terbit, agakya hanya aku yang berhasil menangkap sapanya. Aku mencoba merealisasikan keinginannya untuk sekadar menceritakan proses belajarku di Bedug Media. Aku mulai dengan menceritakan betapa polos dan bodohnya aku ketika pertama kali bertemu dengannya; sekadar “di” yang dipisah dan “di” yang disambung pun aku tak tahu, apalagi menulis tulisan panjang seperti tulisan ini. Hatta, aku bercerita bahwa diriku berani masuk ke kamar dan bercanda ria ketika hari editing edisi kelima. Aku juga bercerita bahwa aku mulai merasa nyaman dan menjadi manusia yang cerewet di Bedug Walisongo (angkatan 9). Di tengah-tengah ceritaku, tiba-tiba ia memotong dan berkata, “Kamu jadi Dewan Redaksi sekarang, yah? Tadi aku lihat kamu lagi mewarnai tulisan dengan warna merah, kuning dan hijau.” Sebelum menjawab, aku sempat diam dan memikirkan gerangan apa yang membuatnya tahu istilah-istilah yang ada di Bedug Media.
Harusnya aku tidak usah kaget bagaimana ia tahu istilah itu; ia (mungkin) sudah berkali-kali menjadi saksi pengukuhan anggota baru Bedug Media. Ia juga tahu bahwa Pinum 2026-2027 adalah RoMa, setelah banyak orang menggaungkan slogan RoMa. Ia juga sempat menanyakan apa yang dimaksud dengan “Bima haus” karena sering dilontarkan oleh orang-orang malam ini. Sayang seribu sayang, aku tidak bertanya padanya: sejak kapan ia menyaksikan malam inaugurasi Bedug Media? Apakah memang sejak angkatan pertama, Bedug Media melaksanakan malam inaugurasi di Hadîqah Dauliyah? Jika iya, PBS sudah menyaksikan dan menyapa manusia Bedug selama satu dekade, sama dengan perempuan legendaris itu.
Aku juga menceritakan perjalanan tahun keduaku. Selama setahun aku memiliki 4 Abing yang beragam: Bima (miniatur Prabowo), manusia superkuat, tahan banting, “haus” dan sedikit otoriter; Vian (Bang Sal, sapaan akrabnya), lelaki bermata tegas, kelihatan kalem, tetapi omongannya sungguh pedas; Andik (Mas Ann) ia cuma satu edisi bersamaku, tetapi ia orang yang benar-benar rajin dan tekun ingin belajar menulis; Ulil (Cobing) sesuai dengan sapaan akrabnya, ia seringkali bingung dan membuat orang lain ikut bingung juga, tetapi selama dua edisi membersamainya, aku merasa semakin dekat dengan Allah sebab aku sering beristighfar. Aku juga berpesan pada mereka jangan lupa menjadi Kambing yang bertanggung jawab untuk angkatan 11 dan senantiasa membersamai Pinum tercinta: RoMa.
Wabakdu, di akhir obrolanku dengan si Ceiba Speciosa, aku melontarkan pertanyaan kepadanya, “Entah berapa kali lagi kita akan bertemu? Satu kali? Tiga kali? Atau bahkan 10 kali? (demi menyalip rekor perempuan legendaris itu)”. Ia sedikit murung dan hanya bisa menitipkan pesan padaku untuk menuliskan obrolan ini agar tersampaikan pada anggota Bedug Media yang lain. Pada malam inaugurasi, ia tak hanya bersemangat menatap wajah-wajah baru. Rupanya ia juga rindu pada wajah-wajah yang ditemuinya satu tahun, dua tahun, tiga tahun lalu, dst. Ia hanya ingin menjadi tempat refleksi sejauh mana proses kita, sejauh mana Bedug menanamkan integritas menjadi karakter kita, sejauh apa bacaan kita, dll. Ia juga ingin menjadi sebuah motivasi untuk menyiapkan cerita terbaik sebelum bertemu dengannya. Oleh karena itu, bagi teman-teman yang belum membalas sapanya, siapkan proses terbaik untuk memberikan cerita terbaik pada malam-malam inaugurasi selanjutnya. Tabik!
Editor: Muhammad Jihan Muqodas



