Turâtsunâ al-Hay dalam Bingkai Komersial dan Budaya
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, acara kebudayaan bertajuk Turâtsunâ al-Hay sukses digelar oleh tiga komunitas kebudayaan Mesir: Megawra, Shopnareng dan Athar Lina. Komunitas-komunitas tersebut berfokus dalam hal budaya Mesir.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, acara kebudayaan bertajuk Turâtsunâ al-Hay sukses digelar oleh tiga komunitas kebudayaan Mesir: Megawra, Shopnareng dan Athar Lina. Komunitas-komunitas tersebut berfokus dalam hal budaya Mesir. Walaupun begitu, tiga komunitas tersebut memiliki program dan proyek yang beragam: Megawra berfokus pada ranah seni; Shopnareng bergerak pada bidang seni-desain; sementara Athar Lina mempromosikan warisan budaya dengan tujuan memajukan taraf hidup masyrakat lokal.
Bertempat di American University in Cairo, acara ini mengahadirkan tiga pembicara sekaligus: Ehsan Abu Shadi, Maryam al-Touny dan Yumna Moussa. Sementara itu, Dr. Hoda El-Saadi, seorang pakar sejarah Islam dan dosen paruh waktu di American University in Cairo turut hadir sebagai moderator. Secara bergiliran, ketiga pembicara tadi dipersilakan Dr. Hoda untuk menyampaikan materi. Menariknya, di sela-sela sesi pergantian pembicara, Hoda menyelipkan beberapa pertanyaan yang langsung dilayangkan kepada masing-masing pembicara. Tak berhenti di situ, acara menjadi lebih interaktif ketika peserta yang hadir diberikan kesempatan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat disinggung pada sesi pemaparan materi.
Secara mendasar, dialog dan bincang kebudayaan semacam ini bisa dimaknai sebagai bentuk penyadaran kolektif tentang pentingnya kepedulian dan kepekaan terhadap warisan budaya masa lampau. Kesadaran di sini tidak hanya berhenti pada kalangan terpelajar saja, tetapi juga tertanam dalam kesadaran masyarakat yang bersentuhan langsung dengan warisan budaya yang ada. Tanpa kesadaran itu, beragam warisan budaya yang banyak ditemukan di Kairo tak ubahnya barang mati yang terpisah secara emosional dengan orang-orang di sekitarnya. Padahal, sebagaimana diutarakan Ehsan Abu Shadi, sisi paling penting dari warisan budaya material adalah ketika ia bisa menjadi peranti masyarakat untuk melebur kesadaran masa lalu dan realitas saat ini.
Keterikatan antara memori manusia sebagai subjek yang hidup dengan bangunan mati betul-betul diperhatikan oleh komunitas ini. Keterkaitan itu, salah satunya, bisa dibangun lewat pemahaman bersama bahwa warisan budaya juga bernilai ekonomis. Tujuan ini beriringan dengan semangat komunitas Athar Lina yang berusaha memberikan manfaat kepada masyarkat lokal lewat warisan budaya dan monumen yang ada di distrik al-Khalifa, daerah bagian selatan Kairo yang mencakup masjid Ibnu Thulun, Kubah Imam Syafii, dll. Ketika masyarakat merasakan secara langsung manfaat warisan budaya itu, mereka akan lebih mudah dijadikan mitra aktif dalam proses konservasi budaya.
Praktik nyata nilai ekonomis diwujudkan komunitas Athar Lina ketika mereka menjadikan desain arsitektur monumen sebagai barang yang nantinya diperjualbelikan. Misalnya, desain sajadah, seprai dan tas jinjing. Masyarakat setempat dilibatkan secara aktif dalam proses produksi komoditas tersebut. Athar Lina berusaha menjadi medium ekonomis antara masyarakat lokal dan budaya. Di tengah melarat dan sempitnya lapangan pekerjaan masyarakat Mesir, inisiatif komunitas kebudayaan seperti Athar Lina secara pelan-pelan dapat memperbaiki ekonomi masyarakat lokal.
Bagian lain yang tak kalah menarik dari acara ini adalah pameran sederhana yang sengaja ditempatkan dalam satu ruangan yang sama. Peserta yang hadir tidak hanya mendapatkan wawasan kebudayaan, melainkan bisa langsung menikmati rupa-rupa kebudayaan, meliputi gambar dan foto lawas yang dipajang berjejer di dinding, tas jinjing bermotif unik dan karya kreatif lainnya.
Pada akhirnya, proses memberikan kesadaran kolektif perihal kebudayaan bukanlah hal mudah. Kendati begitu, menurut Ihsan Abu Shadi, gerakan penyadaran publik semacam ini membutuhkan ketekunan dan keuletan. Selain itu, berbagai pihak, semisal kampus yang ada di Mesir dan lembaga pemerintah seperti Kementerian Pariwisata dan Peninggalan Kuno, perlu senantiasa saling bahu-membahu dalam menjaga warisan budaya yang ada.
Editor: Achmad Ibnu Ibad
