Merenung Jauh yang Dekat Bersama Akar dan Arah
Pada Rabu, 30 September 2026, telah terlaksana kegiatan perdana pameran kebudayaan yang berlangsung di Kafe Zone Gamaliya, Kairo, Mesir.
Pada Rabu, 30 September 2026, telah terlaksana kegiatan perdana pameran kebudayaan yang berlangsung di Kafe Zone Gamaliya, Kairo, Mesir. Acara yang bertajuk Refleksi Kebudayaan Akar dan Arah tersebut diinisiasi oleh dua komunitas Masisir, yakni Zonasi dan Ruang Budaya Kreatif. Acara ini menyajikan beragam tampilan kebudayaan, mulai dari pameran seni lukis, pertunjukan wayang, deklamasi puisi dan orasi kebudayaan. Hal tersebut dirancang guna memantik dan mengajak segenap Masisir untuk berhenti sejenak, merenung dan merefleksikan hal-hal dekat yang kerap terabaikan, baik yang berkaitan dengan individu maupun sosial.
Acara tersebut meriah. Banyak Masisir antusias dalam menyimak sajian reflektif para seniman dan orator kebudayaan. Beberapa seniman dan orator yang turut nimbrung dalam acara tersebut ialah, Hamidatul Hasanah selaku orator kebudayaan; Adiaramu Lingga Sastra, deklamator puisi; Maulana Zakarya Ahmad, dalang pertunjukan wayang dan sejumlah tokoh seniman lukis Masisir lintas kekeluargaan. Bahrul Ulum, selaku ketua panitia, mengapresiasi dan berterima kasih kepada segenap lapisan yang turut terlibat dalam menyukseskan pagelaran kebudayaan tersebut. Dia berharap pagelaran yang bertema “Merenung Jauh yang Dekat” ini mampu menjadi ruang kolektif Masisir untuk senantiasa membedah, menggugat dan mempertanyakan setiap dinamika yang berkelindan di sekitar.
Harapan ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Hamidatul Hasanah dalam orasi kebudayaannya. Dalam sesi tersebut, dia membuka orasinya dengan menceritakan awal kehidupannya di Kairo dan mengenang betapa pentingnya merenung, mencari dan mengenali jati diri. “Sangkan paraneng dumadi,” begitulah konsep yang dia tekankan. Sebuah konsep filosofis Jawa yang mengajak kita untuk merefleksikan kembali asal usul dan tujuan hidup kita. Dalam konteks pelajar diaspora, asal usul dan tujuan yang dimaksud di sini ialah aktivitas membaca, merenung dan menulis sebagai bagian identitas seorang pelajar yang tidak bisa dilepas.
Gagasan tersebut penting untuk kita renungkan. Membaca diri dan realitas sosial menjadi semacam kebutuhan mendesak kita hari ini. Mengingat, dinamika sosial Masisir yang terjadi belakangan ini cukup kompleks. Beragam persoalan datang tumpang tindih, mulai dari kuantitas hingga persoalan kualitas yang terbilang memilukan. Dari tahun ke tahun, peningkatan kuantitas Masisir yang kian membludak tidak berjalan searah dengan tingkatan kualitas. Kedangkalan berpikir, kejahilan memahami teks Arab dan krisis pengetahuan mendalam masih mendominasi dan terus menjalar. Persoalan ini tidak bisa kita baca sebagai gejala alamiah. Ada banyak faktor yang bekerja di belakang, seperti pergaulan bebas, kecanduan game online dan media sosial, serta minimnya keterlibatan diri dalam lingkungan ilmiah.
Hal tersebut berbanding terbalik dengan kondisi Masisir era 80-an, sebagaimana yang diceritakan Hamidatul Hasanah. Mona Abaza, sosiolog asal Mesir sekaligus seorang azhari melakukan penelitian terhadap kondisi Masisir pada waktu itu. Dia melakukan wawancara dengan seorang mahasiswa Universitas al-Azhar jurusan Aqidah Filsafat bernama Nursamad Kamba atau yang dikenal Syekh Kamba, asal Sulawesi. Wawancara tersebut memperlihatkan kondisi Masisir yang memiliki keterbukaan sikap, antusiasme belajar dan melek politik tanah air. Bahkan, banyak dari mereka yang langganan majalah Tempo dan Pandji Masyarakat secara manual.
Perbandingan lintas zaman tersebut menunjukkan bahwa keterbatasan akses tidak selalu menjadi benalu yang merenggut kesempatan berkembang kita. Persoalan sentral sebenarnya ialah ada pada diri dan kesigapan kita dalam memanfaatkan waktu. Sejauh mana kita peka terhadap posisi akal, sejauh itu pula kebudayaan terbentuk. Oleh karena itu, Hamidatul Hasanah mengapresiasi dan mendukung penuh Refleksi Kebudayaan Akar dan Arah yang dikonsep para panitia. Dia menilai kebudayaan sebagai ruang alternatif yang tidak dijumpai di ruang kelas. Melalui kebudayaan yang mewujud lukisan, orasi dan deklamasi puisi kita bisa membaca, menerjemahkan dan mengembalikan jati diri kita pada khitah pelajar.
Walakhir, sebagaimana yang dijelaskan oleh Bahrul Ulum saat sesi wawancara bersama kami, pagelaran kebudayaan adalah aktivitas krusial yang perlu dimasifkan di tengah-tengah Masisir. Hal tersebut menjawab persoalan bagaimana Masisir tumbuh menjadi manusia yang berbudaya, menyaring setiap isu, mengolah dan mengembalikan tujuan pada kepentingan kolektif. Kebudayaan adalah cerminan setiap karakter, jiwa dan bahasa identitas. Peduli pada kebudayaan berarti peduli pada kondisi identitas yang kita miliki. Jadi, jika dalam hal ini kita cenderung acuh tak acuh, jangan-jangan kita perlu menerapi mental dan pikiran kita?
Editor: Achmad Ibnu Ibad
Penulis: Sahruddin Abd Rozaq

