Simposium Internasional Ke-18 yang Performatif tapi Kosong
PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia resmi membuka acara Simposium Internasional ke-18 pada 19 September 2026.
PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Dunia resmi membuka acara Simposium Internasional ke-18 pada 19 September 2026. PPMI Mesir, sebagai tuan rumah tahun ini, menyiapkan Azhar Conference Centre sebagai lokasi pembukaan simposium. Acara ini mempertemukan akademisi, diplomat dan mahasiswa Indonesia dari berbagai negara.
Sejumlah tokoh turut hadir sebagai tamu undangan, di antaranya Dr. Hassan Khalil, Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Kebudayaan Islam Akademi Riset Islam al-Azhar; Prof. Dr. Mahmoud Sedik Hassan, Rektor Universitas Al-Azhar; dan Prof. Dr. Nahla El-Saady, penasihat Imam Akbar al-Azhar Bidang Pelajar Asing. Selain itu, acara ini juga menghadirkan Kuncoro Giri Waseso, Kuasa Besar LBBP RI untuk Republik Arab Mesir dan beberapa pemateri seminar.
Gagasan di atas kertas menunjukkan bahwa simposium ini membawa harapan besar bagi mahasiswa Indonesia di seluruh dunia. Pasalnya, acara ini hadir sebagai ajang pertukaran gagasan. Alhasil, simposium ini diharapkan dapat menghasilkan gagasan yang dapat membawa kepada kemajuan bangsa. Hal ini sesuai dengan tema besar yang diusung, "Kolaborasi Pelajar Dunia Menuju Masa Depan Indonesia yang Tangguh dan Berkeadilan."
Harapan itu juga turut didukung oleh Kuncoro dalam sesi wawancara bersama kami. Kuncoro mengungkapkan, bahwa KBRI akan memantau dan akan menindaklanjuti hasil simposium ini ke pusat, sekaligus menyampaikannya kepada perwakilan-perwakilan lain di seluruh dunia. “KBRI akan memantau dan menindaklanjuti hasil simposium untuk disampaikan ke pemerintah pusat serta perwakilan Indonesia lainnya di seluruh dunia,” pungkasnya. Hal ini akan menjadi cikal bakal bagi langkah-langkah selanjutnya demi kemajuan bersama.
Namun, pernyataan di atas nampaknya menghadirkan kelimpungan: sejauh mana gagasan besar tercermin dalam pelaksanaan di lapangan? Dari sisi teknis, ketepatan waktu yang ditunjukan oleh panitia perlu diapresiasi. Hal itu sudah sepatutnya hadir di kalangan PPMI Mesir yang cukup sering mengadakan acara seremonial seperti ini. Namun, untuk kepanitiaan yang disiapkan satu tahun, sangat disayangkan apabila panitia masih terlihat bingung akan tugasnya, banyak berkerumun dan tidak bisa kondusif selama acara berlangsung. Kemudian, kosongnya bangku di aula menjadi kekurangan yang perlu dievaluasi.
Selain itu, penyebaran informasi yang kurang substantif membuat peserta yang hadir bingung. Penambahan peserta di luar delegasi utama tampaknya dimaksudkan untuk mengatasi kekosongan aula. Namun, solusi ini membawa masalah lain. Pasalnya, beberapa peserta yang hadir bingung akan esensi dari acara simposium ini. Ketika ditanya alasan hadir, mereka hanya menjawab, “Untuk menambah pengalaman,” tanpa tahu pengalaman apa yang akan ditambah. Jika melihat proses penyebaran informasi di Instagram, nampaknya panitia hanya fokus bagaimana membangun citra acara ini tanpa melihat esensinya.
Peristiwa yang lebih mengusik adalah tindakan terhadap media. Sebelum agenda diselenggarakan, panitia mengarahkan media Masisir agar membatasi pertanyaan kepada sejumlah tokoh yang hadir dan melarang pertanyaan sensitif. Sungguh ironis, karena simposium yang digadang sebagai ajang beradu gagasan, justru membungkam salah satu pilar gagasan itu sendiri, yaitu kebebasan pers. Peristiwa ini bukan hanya janggal, ia juga mencederai semangat intelektual yang harusnya hadir di simposium. Tindakan pembungkaman media ini sangat terasa di lapangan.
Walakhir, penulis mengingat kembali ucapan Kuncoro bahwa simposium ini bisa menjadi langkah untuk kemajuan bangsa. Oleh karena itu, perlu ada rasa tanggung jawab yang mengiringi acara ini. Biaya besar yang dikeluarkan untuk acara ini seharusnya berbanding lurus dengan dampak yang dihasilkan. Namun, jika dampak itu absen, kita serupa dengan pemerintah yang selalu melakukan pemborosan keuangan.
Penulis: Arzqilail Muhammad Nadzara
Editor: Achmad Ibnu Ibad


