Semarak Masisir dalam Victor BWF World Junior Championships 2026
Dukungan ribuan diaspora Indonesia di Mesir turut mewarnai perjuangan atlet-atlet muda Merah Putih dalam Victor BWF World Junior Championships 2026 di Stadion Internasional Kairo, Mesir, pada 5–17 Oktober 2026. Acara ini adalah hasil kolaborasi antara federasi bulu tangkis dunia, BWF (Badminton World Federation) dan lokal, EBF (Egyptian Badminton Federation). Perlombaan ini juga didukung penuh oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Mesir. Indonesia membawa pulang dua medali emas, satu perak dan satu perunggu kejuaraan dunia bulu tangkis junior tersebut.
Kejuaraan yang mempertemukan atlet-atlet berusia di bawah 19 tahun dari berbagai negara itu berlangsung dalam dua kategori, yakni beregu campuran melalui perebutan kejuaraan Suhandinata Cup pada 5–10 Oktober dan perorangan dalam Eye Level Cups pada 11–17 Oktober. Turnamen dibuka dengan pertandingan fase grup yang mempertemukan puluhan tim dari berbagai asosiasi anggota BWF, dan dilanjutkan dengan babak gugur klasifikasi peringkat serta partai semifinal. Ajang ini menjadi kesempatan bagi para atlet muda untuk menguji kemampuan sekaligus bersaing di tingkat internasional.
Acara tersebut dibuka dengan seremonial yang megah karena dihadiri langsung oleh Deputi Kepresidenan BWF, Khunying Patama Leeswadtrakul; Menteri Pemuda dan Olahraga Mesir, Gohar Nabil; dan jajaran petinggi bulu tangkis serta para pelatih dari masing-masing negara. Seremoni diawali dengan parade perkenalan asosiasi anggota dari 47 negara, diiringi pertunjukan seni kultural benua Afrika dalam menyambut para atlet muda. Acara tersebut berhasil membuat stadion penuh dengan antusias dan kemeriahan para penonton.
Pertandingan pertama, Suhandinata Cup, berlangsung selama enam hari. Para atlet muda Indonesia bertanding melawan Azerbaijan, sampai pada akhirnya mereka masuk ke dalam semifinal melawan Malaysia. Pertandingan hadir dengan perlawanan yang sangat sengit. Tidak disangka, penonton begitu ramai dari Indonesia, terlebih dari kalangan Masisir. Indonesia diwakili oleh salah satu atlet terbaik—bahkan menjadi sorotan dan idaman mendadak para Masisir—yaitu Angelia Jolin.
Sayangnya, klub Indonesia kalah melawan Malaysia dengan skor 2-0 dan memperoleh medali perunggu. Turnamen kedua, Kejuaraan Perorangan (Eye Level Cups) yang berlangsung kurang lebih satu minggu, dimulai setelahnya. Perjuangan para atlet muda Indonesia dalam turnamen kedua ini tidak main-main, semangat dan tekad mereka semakin membara.
Di antara nama atlet yang berhasil membawa Indonesia sampai pada 16 besar yaitu, lagi-lagi, Angelia Jolin. Ia menarik perhatian besar berkat kemampuannya dalam mempertahankan agresivitas lawan lewat serangan balik yang tak terbendung. Malangnya, ia gugur di delapan besar. Kesulitan Jolin adalah menghadang pukulan smash lawan yang begitu tajam, sehingga ia harus fokus bertahan. Ketika diwawancarai, Jolin mengakui bahwa ia sedang tidak enak badan, akibatnya permainannya tidak fokus dan kurang maksimal.
Semarak merdu para penonton semakin tak terlihat sebab idola mereka telah gugur. Kursi-kursi stadion semakin sepi. Menariknya, ketika babak final, para penonton mulai kembali sembari membawa alat dukungan berupa drum, balon tepuk serta pengeras suara. Suasana lapangan semakin meriah menyambut finalis Indonesia yang sedang berjuang tanding melawan para atlet dari negara lain.
Ada sedikit kendala yang dirasa sangat merugikan Indonesia ketika babak final berlangsug. Keputusan hakim garis seringkali tidak adil terhadap pemain Indonesia. Ia dianggap ”mencuri” poin yang sah. Contohnya, pemain Indonesia yang seharusnya mendapatkan satu poin, gagal karena hakim garis memutuskan untuk menggugurkannya. Perbuatan tersebut merugikan salah satu tim Indonesia.
Adsel dan Lutfi Habibi, salah satu atlet muda Indonesia yang diwawancarai oleh teman penulis, Ainul Rizky, mengatakan bahwa mereka tidak menduga jika euforia dan antusiasme para suporter Indonesia begitu ramai dan meriah, seakan-akan mereka sedang bertanding Istora Senayan, Jakarta. Sebelum pertandingan dimulai, mereka pernah menanyakan pihak KBRI terkait jumlah diaspora Indonesia di Mesir. Jawaban dari pihak KBRI, yang mengatakan bahwa diaspora Indonesia di Mesir berjumlah sekitar 23.000, memotivasi mereka untuk bertanding. Hafidz Dhuha, salah satu suporter Masisir, mengatakan, ”Saya merasa bangga dan haru, sebab perwakilan para atlet yang tanding kemarin masih dibilang sangatlah muda, sekitar umur sembilan belas tahunan. Artinya, kemungkinan atlet bertalenta yang akan terjun ke dunia perbulutangkisan begitu lebar.”
Pada akhirnya, atlet Indonesia berhasil membawa kejuaraan dalam final: dua medali emas, satu perak dan satu perunggu yang diwakili oleh Habibi dan Dian, Adsel dan Atresia sebagai ganda campuran; Raditya Bayu dan Fardhan Rainanda sebagai putra tunggal. Indonesia sukses membawa harum nama bangsa di Negeri Kinanah ini. Waakhir, penulis mengingat kembali acara turnamen ini bukan hanya sekadar ajang perlombaan semata, tetapi menjadi langkah untuk kemajuan bangsa. Harapannya, semoga para atlet Indonesia terus berjuang dan lolos dalam turnamen-turnamen selanjutnya.
Editor: Achmad Ibnu Ibad
