
Tak dapat dimungkiri, kelompok mayoritas dalam kehidupan sosial mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentukan arah dan pola pikir masyarakat. Bahkan menurut sejarah, Walter Reynolds, seorang uskup agung Canterbury berhasil menggulingkan Raja Edward II dari kekuasaannya dengan menggunakan suara rakyat.
Sehingga sangat wajar, akhir-akhir ini istilah “Suara mayoritas adalah suara Tuhan” semakin populer di sekitar kita. Tak terkecuali, hadirnya sistem demokrasi yang menitikberatkan kekuasaan pada rakyat (seakan) turut andil melegitimasi bahwa kebenaran itu merupakan kehendak Tuhan dengan menggerakkan hati nurani mayoritas masyarakat.
Dan terbukti, pada kontestasi politik 2019, terdapat oknum yang menyeret agama demi mendapatkan suara mayoritas. Akibatnya, ketika agama diperalat untuk mencapai kepentingan pribadi atau golongan tertentu, hampir dipastikan agama akan mengalami pergeseran dari tujuan yang semestinya.
Atas dasar itulah, buletin Bedug edisi 33 ini menyuguhkan pembahasan tema “Dualisme Mayoritas”. Di samping sebagai instruksi reflektif, pun sebagai upaya pendewasaan dalam menyikapi suara mayoritas sesuai dengan pemahaman yang bijak dan benar. Wabakdu, semoga suguhan kami ini bisa diterima dan bermanfaat bagi semua.
Tabik,
[button color="red" size="small" link="https://drive.google.com/file/d/1-P6E_Qg59c1I5meEsvCJO4ZD1RGupuQ2/view" icon="" target="true" nofollow="false"]DOWNLOAD PDF[/button]
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa tema yang dibahas di Buletin Bedug Edisi 33?
Tema yang dibahas adalah 'Dualisme Mayoritas', sebagai refleksi atas fenomena suara mayoritas dalam kehidupan sosial dan politik.
Mengapa istilah 'suara mayoritas adalah suara Tuhan' menjadi populer?
Menurut artikel, hal ini dipengaruhi oleh sistem demokrasi yang menitikberatkan kekuasaan pada rakyat, seolah-olah turut melegitimasi bahwa kebenaran adalah kehendak Tuhan melalui hati nurani mayoritas.


