Afkâr dan Kebangkitan Geliat Intelektual Masisir
Setelah sekian lama terbenam, buletin Afkar akhirnya terbit kembali di tengah lesunya geliat intelektual Masisir saat ini. Kelesuan ini ditandai dengan minimnya karya tulis ilmiah yang dihasilkan Masisir. Lantas, apakah buletin ini dapat memacu kembali geliat intelektual Masisir?
Pada tanggal 2 November 2026, Lembaga Ta’lif Wan Nasyr PCINU Mesir menerbitkan sebuah karya yang telah lama terbenam. Karya tersebut adalah kumpulan esai ilmiah dalam ranah kajian dan pemikiran—wabilkhusus Islam—yang masyhur bernama Afkâr. Menariknya, seusai berbincang dengan Ahmad Faishol Abimanyu selaku pimred buletin Afkâr sekaligus koordinator LTNNU, penulis baru tahu bahwa buletin ini adalah saksi bisu yang sempat merekam euforia akademik Masisir masa lampau. Lalu, mengapa buletin ini terbenam?
Sewindu yang lalu, kurang lebih, buletin ini eksis mengisi rak-rak beberapa perpustakaan di kalangan Masisir. Bahkan, sebelum Afkâr, ada juga buletin Nuansa dan Tanwirul Afkâr (cikal bakal Afkâr) yang mewarnai ruang-ruang diskusi Masisir. Berbeda dengan Afkâr yang rubrikasinya lebih umum, Nuansa serta Tanwirul Afkâr lebih tajam, presisi dan fokus pada kajian dan pemikiran Islam. Selain itu, keistimewaan lainnya juga terdapat pada rubrik wawancara yang acap kali menghadirkan pemikir Arab ternama seperti Hasan Hanafi, Ali Mabrouk, dll. Hemat penulis, potret bersejarah ini dapat menjadi hujah untuk membantah stigma bahwa Masisir tidak cakap tulis-menulis.
Sayangnya, kemewahan intelektual ini tak selamanya mapan. Waktu berhasil menggerusnya perlahan-lahan. Awalnya buletin-buletin ini terbit tiga bulan sekali, lalu bergeser enam bulan sekali, hingga menjadi setahun sekali dan akhirnya tenggelam ditelan zaman. Tentu, banyak faktor yang melatarbelakangi hal tersebut. Salah satunya adalah merosotnya semangat Masisir dalam memproduksi karya yang bersifat Ilmiah. Di kalangan Nahdliyin Mesir saja, hasil penelusuran LTN menyatakan bahwa pada rentang tahun 2000-2010, terdapat 15 karya buku yang memiliki semangat diskusi. Sedangkan tahun setelahnya hingga sekarang, tak lebih dari delapan buku yang terbit. Penurunan produksi karya ilmiah di kalangan Masisir ini agaknya perlu jadi renungan kita bersama sebagai seorang civitas academica.
Oleh karena itu, semangat yang dibawa buletin Afkâr tak jauh dari menghidupkan kembali ekosistem akademik yang memantik ruang-ruang diskusi Masisir. Selain itu, buletin ini juga merupakan wadah alternatif bagi lembaga-lembaga kajian yang ingin mendokumentasikan beragam ide cemerlang di ruang-ruang diskusi. Tersebab, memupuk produktivitas karya tulis ilmiah di lembaga-lembaga kajian merupakan langkah pertama untuk membangun ekosistem akademis yang lebih luas di kalangan Masisir.
Tak berhenti sampai situ, kembalinya buletin Afkâr ini adalah pengantar untuk mengarungi dunia kepenulisan jurnal. Sejatinya, beberapa tahun lalu, PCINU Mesir sudah berencana mendirikan lembaga jurnal sendiri. Hanya saja, mereka terkendala oleh sedikitnya sumber daya penulis serta pengurus yang akan menakhodai lembaga tersebut. Persoalan sedikitnya sumber daya tentu berkaitan dengan kondisi ekosistem akademis Masisir yang lesu.
Harapannya, buletin Afkâr yang direncanakan terbit dua bulan sekali ini dapat memantik kembali geliat intelektual Masisir dalam menghasilkan karya tulis ilmiah. “Meski belum selevel jurnal, setidaknya dengan buletin ini kita bisa bermain jurnal-jurnalan tapi serius, daripada buat jurnal yang terkesan serius tapi isinya main-main,” kelakar Abimanyu memecah obrolan di Kedai Kopi Hikayat saat diwawancarai penulis. Tema pada buletin ini tidak dibatasi demi memudahkan penulis di awal-awal edisi. Di edisi-edisi selanjutnya, boleh jadi akan ada tema tertentu.
Selain menerbitkan kembali buletin Afkâr, Lembaga Ta’lif Wan Nasyr PCINU Mesir juga berupaya melakukan digitalisasi serta preservasi buletin-buletin lama yang pernah berkilau pada masanya. Meski jumlah yang terkumpul masih sedikit dan mungkin tak akan banyak, setidaknya kegiatan tersebut adalah bentuk kesungguhan dalam menjaga amanat ilmu pengetahuan. Lembaran kertas boleh saja lapuk dan hancur, tetapi buah ide dan gagasan yang tertuang dalam tulisan akan terus hidup dan abadi.
Editor: Achmad Ibnu Ibad
