Membaca Foragers Bersama Layar FilmLab: Resiliensi Pribumi Palestina
Dalam rangka memperingati Hari Sinema Palestina, komunitas Layar FilmLab telah melaksanakan kegiatan penayangan dan diskusi terbuka film berjudul Foragers karya Jumana Mana. Lantas, bagaimana Palestina digambarkan melalui film Foragers ini ?
Pada Senin malam, 2 November 2026, telah dilaksanakan kegiatan penayangan dan diskusi terbuka film Foragers karya Jumana Manna di Kafe Zone Gamaliya, Kairo, Mesir. Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas Layar FilmLab, sebuah komunitas yang berfokus pada kegiatan penayangan film. Acara diskusi diisi oleh Rosyadah Miftahul, pegiat Layar FilmLab, sebagai pemantik dan Fauzia Nur Laily sebagai pembicara.
Bila biasanya ketika mendengar kata Palestina, pikiran kita langsung tertuju pada pengeboman, pertumpahan darah, runtuhnya bangunan rumah, anak kecil yang mati kelaparan dan sebagainya, film ini menyoroti hal yang berbeda dan tampak sederhana. Film ini menceritakan tentang resiliensi atau ketangguhan pribumi Palestina dalam mempertahankan budaya memetik tanaman za’tar dan akkoub (semacam tanaman kemangi) untuk dimakan sehari-hari. Meskipun terdengar sederhana, kesederhanaan itu tidak bisa diwakilkan dengan “hanya”. Tersebab, setiap pergerakan warga Palestina, sekecil apapun itu, tetap merupakan sebuah perlawanan.
Para Zionis menangkap setiap warga Palestina yang memetik tanaman tersebut dengan dalih melindungi sumber daya alam, padahal pribumi mengetahui teknik memetik tanpa membuat tanaman tersebut punah, terlebih memetik tanaman za’tar dan akkoub memang merupakan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang pribumi Palestina. Maka sangat jelas betapa kesalnya pribumi karena dipaksa oleh Zionis untuk memutus kebiasaan yang sudah melekat pada darah daging mereka. Oleh karena itu, meskipun para Zionis melarang dan bahkan mengancam pribumi untuk tidak memetik tumbuhan itu, mereka tetap tangguh untuk memetiknya, seberapa besar pun hukumannya.
Setelah penayangan selesai, Fauzia Nur Laily, sebagai pembicara pada acara tersebut memberikan komentar tentang film ini. Dari pandangannya, alih-alih melihat pribumi tertindas, film ini justru lebih menonjolkan solidaritas yang kuat dari rakyat Palestina. Hal ini tergambarkan pada adegan pribumi yang bersikeras memetik tanaman tersebut meski dilarang keras oleh para Zionis. Dari film tersebut, Jumana Manna memberikan pesan mendalam kepada penonton bahwa mempertahankan budaya bagi rakyat Palestina bukanlah perkara yang biasa, melainkan sebuah pengorbanan yang besar. Karena sejatinya budaya adalah identitas diri, maka membiarkannya hilang sama halnya dengan merelakan identitas kita melayang.
Acara ini patut diapresiasi karena mengajak Masisir untuk lebih melek terhadap peristiwa yang menimpa Palestina melalui sudut pandang yang baru. Fairuz, salah seorang audiens yang saya wawancarai, mengatakan bahwa ini adalah kali pertamanya menonton film Palestina yang seolah tak meninggalkan kesan menyedihkan. Dia mengira akan merasakan kesedihan seperti ketika melihat berita-berita tentang Palestina yang diunggah di media sosial.
Mulanya, acara diskusi berlangsung aktif. Banyak dari tim penyelenggara yang memantik terbukanya forum diskusi dengan saling bergantian berbicara ke depan, memberi tanggapan masing-masing. Namun, di pertengahan acara, dialektika antara pembicara dan audiens kurang maksimal sehingga audiens kurang menikmati isi yang ingin disampaikan oleh pembicara. Teknis acara pun tidak berjalan sesuai ekspektasi. Beberapa hal mulai dari acara yang terlambat, alat pengeras suara yang belum dipersiapkan dan juga panitia yang kurang tanggap membuat acara tidak berjalan maksimal.
Walakhir, acara ini merefleksikan bahwa ada satu hal yang dapat dipetik dari penayangan film Foragers ini, yakni bagaimana ketangguhan warga Palestina dalam menghadapi situasi yang sangat genting, namun tidak gentar sekalipun dalam menghadapi Zionis yang mencekamnya. Palestina bukanlah negara yang lemah dan tak melakukan perlawanan terhadap Zionis Israel. Melalui film ini, kita melihat bahwa ketangguhan dan semangat warga Palestina dalam mempertahankan budaya mereka merupakan wujud nyata dari tingginya rasa nasionalisme mereka.
Editor: Nafa'a Ainayya
